Strategi dan Fungsi Menjadi Fotografer Band

Foto : Koleksi Jovy Akbar

Karena sesungguhnya fotografer band tidak sekadar memotret, tapi merekam sejarah perjalanan karir sebuah band/ musisi. 

Ya, harus diakui, kalau saat ini profesi fotografer panggung memainkan peranan penting dalam perjalanan bermusik suatu band atau musisi di industri musik. Karena bukan sekadar memotret, tapi lebih dari itu, seorang fotografer band bertugas sebagai perekam sejarah perjalanan karir sebuah band atau musisi.

Bahkan, hasil foto yang dihasilkan bisa digunakan oleh band atau musisi sebagai alat pembentukan citra serta menaikkan popularitas dan kredibilitas mereka. Lebih dalam lagi, dokumentasi musik ini bisa dijadikan bahan evaluasi, dan dijadikan referensi atau pembelajaran dari musisi lain. Kerenkan?

Karena begitu banyak manfaat dari pendokumentasian karya musik ini, jadi jangan heran kalau band-band besar selalu membawa official photograper masing-masing untuk mendokumentasikan mereka di atas panggung, di dalam studio, dan lain sebagainya.

Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa dipercaya jadi fotografer band?

Selain skill dan teknik memotret yang mumpuni, tentunya kita harus bisa membangun relasi yang baik dengan band. Untuk para fotografer panggung pemula yang ingin membangun relasi dengan band, kita bisa memanfaatkan media sosial seperti Instagram.

Misalnya kita datang ke gigs untuk memotret band yang main di sana, lalu hasil fotonya kita post di instagram dengan men-tag dan mention band tersebut. Jika foto kita emang keren, band tersebut pasti akan aware dan kemungkinan besar akan me-repost karya kita tersebut. Dengan begini, makin banyak orang yang melihat karya kita, dan kemungkinan diajak motret di gigs lainnya akan terbuka, hingga akhirnya dipercaya menjadi fotografer official band.

Itu cuma salah satu cara. Tentunya masih banyak tips dan trik lain yang bisa dilakukan untuk menjadi fotografer resmi band. Kalau ingin tau lebih lanjut, kamu bisa ikutan sesi Soundfren Connect bertajuk “Strategi dan Fungsi Menjadi Fotografer Band” yang berlangsung 29 November 2020 ini. 

Akan ada Jovy Akbar, fotografer @moccaofficial, yang bakalan bagi-bagi tips dan insight tentang bidang ini. Topik-topik penting seperti, apa saja tugas dan fungsi fotografer band, bagaimana proses kreatif fotografer band, sampai tips merancang portfolio dan membangun reputasi sebagai fotografer musik akan dikupas tuntas di sini.

Untuk ikutan sesi keren ini, kamu cukup mendaftar via aplikasi Soundfren dan membayar biaya keikutsertaan sebesar 35 ribu rupiah. Murah, meriah, dan pastinya bermanfaat. Ditunggu ya, Fren! (Erick)

Tips Sukses Merilis Musik Digital

Apa saja yang harus disiapkan musisi untuk merilis karya dalam format digital?

Era digital membawa banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk tentunya di industri musik. Merilis album penuh dalam format fisik bukan lagi sebuah pencapaian wajib bagi para musisi untuk pembuktian eksistensinya. Saat ini, bermodalkan sebuah single, band kita sudah siap untuk “berlayar”. Formatnya tentu lewat rilisan digital.

Dengan merilis dan mendistribusikan karya kita secara digital, lagu kita akan bisa didengarkan di seluruh dunia via Digital Service Provider seperti Spotify, Joox, Deezer, Resso, Apple Music, dan lain sebagainya. Tidak ada lagi batasan jarak maupun waktu.  

Yang bikin lebih seru, di medium ini, tidak ada perbedaan antara musisi baru ataupun senior, semua memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai pendengar sebanyak mungkin. Meski kalau dilihat dari sisi sebaliknya, ini juga berarti kalau persaingan akan semakin ketat.

Dengan persaingan yang sangat ketat dengan ribuan lagu lainnya yang rilis setiap minggu, kita tentunya perlu strategi atau kiat-kiat khusus untuk membuat lagu kita didengar atau laku di pasaran. Misalnya dengan menyebarkan promo kit ke media-media, membuat promo campaign di sosial media, atau mungkin membeli slot iklan di instagram, Facebook, atau Youtube. 

Untuk itu, tentu kita harus lebih dalam lagi mengulik karakter dari masing-masing platform digital yang akan kita gunakan untuk melancarkan strategi kita. Spotify, Joox, Soundcloud, misalnya, semua punya audiensnya masing-masing. Begitu juga dengan instagram, Facebook, Twitter, semua punya karakter yang beda-beda. Jadi pastikan kita memanfaatkan saluran-saluran ini sesuai dengan karakter dan audiens yang kita sasar. 

Pada akhirnya, semuanya tentu dikembalikan kepada kualitas karya dan konsistensi masing-masing musisi. Namun, bagi siapa yang bisa memaksimalkan environment digital ini sebagai medium berkomunikasi, maka dia memiliki kesempatan besar untuk memenangkan persaingan.

Nah, kalau ingin tahu lebih banyak mengenai tips-tips sukses merilis karya kita dalam format digital, kamu wajib ikutan Soundfren Connect yang akan berlangsung 27 November 2020 ini. Akan ada Dahlia Wijaya (Country Manager Indonesia Believe Music) yang akan sharing tips dan pengalaman profesionalnya. 

Di sesi “Tips Sukses Merilis Musik Digital”, yang dipandu oleh moderator Bayu Fajri (musisi), ini kita akan membahas mengenai hal-hal seperti apa saja yang harus disiapkan dalam perilisan karya digital, bagaimana cara mengelola musik yang sudah kita rilis, sampai pentingnya konsistensi bagi musisi. 
Mantapkan, Fren? Makanya, langsung aja daftar via aplikasi Soundfren. Biayanya cuma 35 ribu rupiah, dan kamu udah bisa dapetin ilmu di sesi eksklusif ini, kesempatan berjejaring, dan e-certificate. Hanya akan tersedia 35 slot di sesi ini, so jangan sampai kehabisan yah, Fren! Langsung saja meluncur ke Soundfren, di mana semua kebutuhan bermusikmu dalam satu aplikasi. (Erick)

#BikinJalanLo Versi Septian Rahman

“Soundfren Connect telah memperluas cakrawala pengetahuan saya tentang dunia musik – Septian Rahman”

Septian Rahman mulai mengenal musik saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Di sana, ia dipertemukan dengan teman-teman yang memiliki minat sama pada musik. Sejak saat itu, Septian dan musik menjadi tak terpisahkan.

Septian yang menaruh minat pada gitar, fokus untuk memperdalam kemampuannya untuk menjadi seorang gitaris. Penggemar dari band Kotak ini tak henti untuk terus belajar dan belajar. Meski di tengah pandemi, Septian tetap terus mencoba produktif dan berkarya.

Bagi Septian, sejak mengenal musik, ia menjadi lebih banyak teman. Musik adalah bahasa universal yang mempertemukannya dengan banyak orang. Pandemi yang membuat kegiatan menjadi terbatas dan lebih sering berada di rumah, tak membuat Septian kehilangan akal untuk terus membangun relasi dan berkoneksi.

Septian mencoba melirik aplikasi Soundfren yang ia harapkan bisa menambah teman baru yang bisa ia ajak untuk berkolaborasi nantinya. Ternyata, bukan hanya sekedar koneksi yang ia dapat. Musisi asal Banjarmasin ini mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman baru setelah mengikuti webinar di Soundfren Connect.

Soundfren Connect telah membuka cakrawala pengetahuan tentang dunia musik yang lebih luas untuk seorang Septian. Tak ayal, ia rutin mengikuti sesi-sesi yang dihadirkan. Septian berharap agar ke depannya Soundfren dapat menjangkau lebih banyak lagi pengguna lewat fitur-fitur yang ada di dalamnya. Karena semakin banyak pengguna maka akan semakin banyak juga relasi yang terjalin serta kolaborasi yang lahir.

Bagaimana Cara Membangun Sebuah Indie Label?

Mendirikan sebuah label bukanlah perkara gampang, tapi juga bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Yuk sama-sama belajar!

Salah satu pilar dalam keberlangsungan industri atau sebuah scene musik adalah kehadiran record label. Dan dengan perkembangan musik yang sangat dinamis dan cepat kayak sekarang ini, kebutuhan akan hadirnya label rekaman baru yang segar dan unik akan selalu ada. 

Label-label rekaman ini memiliki skala yang berbeda-beda, dari yang sangat besar, menengah, sampai kecil. Ada istilah major, minor, indie, bahkan sampai netlabel. Salah satu pembedanya adalah jaringan dan kekuatan pendanaan untuk mempromosikan artis yang dirilis. Termasuk soal distribusi, link promosi, sponsorship. Dan khusus untuk indie label, mungkin ada tambahan faktor sikap dan karakter khas dari label itu sendiri.

Daylle Deanna Schwartz, penulis buku “Start & Run Your Own Record Label” memaparkan bahwa memulai dan melahirkan sebuah label rekaman bukanlah perkara gampang. Ini lebih dari sekadar menghitung angka di atas kertas, tapi lebih jauh lagi melibatkan komitmen dan usaha ekstra untuk mengembangkan dan membentuk core bisnis secara lebih serius.

Meski begitu, hal ini bukan tidak mungkin dilakukan. Apalagi di era digital seperti saat ini, di mana kita bisa berjejaring dengan lebih mudah dengan berbagai pihak dari hulu ke hilir. Mulai dari mencari talent, mencari tempat produksi, distribusi, berpromosi, berkenalan dengan media, sampai berhubungan langsung dengan potential customer bisa kita dapatkan hanya dengan bermodalkan koneksi internet.

Jadi, jangan pernah malas buat ngulik dan belajar. Misalnya bagaimana kita bekerjasama dengan perusahaan publishing, bagaimana hitungan royalti, lisensi, dan lain sebagainya. Luangkan waktu untuk memahami seluk beluk bisnis ini secara keseluruhan. Tenang, berbagai informasi tentang bisnis musik ini bisa kamu dapatkan di aplikasi Soundfren.

Dengan mengetahui konsep-konsep dasarnya, label yang akan kita dirikan akan lebih terarah perjalanannya. Dan tentunya akan membawa sinergi yang lebih enak dengan band-band atau musisi yang akan bekerjasama dengan kita. 

Karena sesungguhnya, banyak banget musisi yang masih mengabaikan sisi bisnis musik dan hanya fokus pada proses kreatif. Tentunya ini merupakan kesempatan dan peluang buat kita yang ingin mendirikan label rekaman independen. Karena dengan begitu, setiap pihak memiliki porsinya masing-masing dan bisa berjalan selaras untuk sama-sama berkembang.

Nah, kalau ingin tau lebih lanjut soal bagaimana tips dan trik membangun indie label, termasuk bagaimana me-manage band-band yang kita rilis, kamu harus ikutan Soundfren Connect pada tanggal 29 September 2020 ini. Akan ada Risma Arizky, Business Development Kelompok Penerbang Roket/ Berita Angkasa, dan Kurnia Bayu Aji, Project Manager Berita Angkasa yang berbagi pengalamannya di sesi ini.

Hanya dengan membayar pendaftaran sebesar Rp 35,000,- kamu sudah bisa ikutan dan berdiskusi di sesi ini. Langsung aja daftar di aplikasi Soundfren, semua kebutuhan musikmu dalam satu aplikasi. (Erick)

Foto oleh Valentino Funghi di Unsplash

Pentingnya Mendokumentasikan Karya Musik di Era Digital

Bukan sekadar gimmick, tapi merupakan tools yang powerful untuk pembentukan citra, menaikkan popularitas, bahkan menjadi alternatif saluran pemasukan tambahan untuk musisi.

Di era digital saat ini, menjadi musisi tidak lagi semata-mata membuat lagu, rilis album, dan manggung. Ada hal lain yang jadi perhatian dan harus dilakukan, terutama jika kita ingin terus eksis dan mengembangkan karir bermusik kita. Yaitu adalah pendokumentasian karya, baik berupa foto atau video.

Harus diakui, kalau saat ini dokumentasi video atau foto memainkan peranan penting dalam perjalanan bermusik suatu band atau musisi. Bukan hanya sekadar gimmick, tapi telah menjadi tools yang powerful untuk pembentukan citra, menaikkan popularitas dan kredibilitas, bahkan lebih besar lagi, bisa menjadi alternatif saluran pemasukan lain untuk kita para musisi.

Ya, jika digarap dengan serius dan maksimal, konten dokumentasi kita ini bisa di-monetize dan menghasilkan. Contohnya adalah lewat video youtube yang dipasangkan ads, atau bekerja sama dengan brand untuk support di produk dokumentasi kita tersebut. 

Dahsyat kan? Dokumentasi tergarap, promosi band tercapai, plus ada potensi pemasukan tambahan. Kurang apa lagi coba? 

Selain itu, yang paling mendasar adalah bahwa dokumentasi musik ini merupakan rekam jejak suatu band/ musisi yang bisa dilihat, dievaluasi, dan dijadikan referensi atau pembelajaran dari musisi lain. 

Dengan begitu banyaknya manfaat dari pendokumentasian karya musik ini, jadi jangan heran kalau band-band besar selalu membawa official photograper dan videographer untuk mendokumentasikan mereka di atas panggung, di dalam studio, dan lain sebagainya.

Belum punya tim video atau foto? Jangan berkecil hati, Fren. Hal ini tidak harus dikerjakan sendiri kok. Pendokumentasian ini juga bisa dilakukan bekerjasama dengan content creatormusik yang memang sudah eksis ataupun masih merintis. Kolaborasi semacam ini malah bisa membangun simbiosis mutualisme antara keduanya. Si musisi mendapatkan pendengar baru dan karyanya terdokumentasikan dengan baik, di sisi lain content creator mendapatkan konten, tentunya.

Hasil dokumentasi ini juga selain di-publish di youtube atau media sosial si musisi, juga bisa bekerja sama dengan akun-akun media sosial musik lain, seperti @soundfren, untuk membantu penyebaran kontennya.

Nah, kalau kamu ingin lebih tau lagi mengenai pendokumentasi karya musik ini, kayak bagaimana memulainya, bagaimana cara menjual karya dokumentasi kita di media digital, dan tips-tips penting lainnya, kamu wajib ikutan Soundfren Connect yang akan berlangsung tanggal 27 Juli 2020 pukul 19.30 mendatang. Akan ada Dimas Wisnuwardono dari Sounds From The Corner yang berbagi infonya di sini. 

Webinar bertajuk “Mendokumentasikan Karya Musik di Era Digital” ini bekerja sama dengan Kuassa & Sounds From The Corner. Kulik detail infonya di sini. Sampai ketemu tanggal 27 ya, Fren! (Erick)

Foto : Dokumentasi Sound From The Corner

#BikinJalanLo Versi Marko Savana


“Pandangan dan wawasan bermusik semakin tercerahkan khususnya yang terkait promosi musik dengan ikutan webinar interaktif di Soundfren Connect – Marko Savana”

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, begitu pun dengan Marko Savana. Kecintaan orang tuanya akan musik menular ke dalam diri Marko. Hobi bermusik Marko didukung penuh oleh orang tuanya. 

Marko kecil sudah mulai mengikuti kursus bermusik gitar klasik. Ketekunan Marko dalam mengikuti kursus dan dukungan dari orang tua membuat Marko sukses meraih juara 1 lomba gitar klasik di Surabaya. 

Di tengah kegiatan bermusiknya, Marko menekuni dunia fotografi yang membawanya bertemu dengan lebih banyak teman-teman di industri musik. Selain bermain gitar, Marko kerap kali diminta untuk menjadi fotografer beberapa band lokal di Surabaya.

Ingin memperkuat relasi bermusik, Marko yang mengidolakan Tommy Emmanuel, Jubing Kristianto, Mateus Asato, dan Mike Dawes ini mencoba untuk menjajal aplikasi Soundfren. Media sosial Instagram mempertemukan Marko dengan Soundfren dan membawanya berkenalan dengan para penggiat musik yang tergabung di Soundfren.

Semakin lama bergabung di Soundfren, ada hal lain yang Marko dapatkan selain menciptakan dan memperkuat relasi di dunia musik. Marko mendapatkan pandangan dan pemahaman baru seputar musik lewat Soundfren Connect.

Tak kurang dari 4 sesi yang telah Marko ikuti, terbaru ia mengikuti webinar interaktif bersama Noor Kamil dari MASPAM RECORDS yang membahas “Jurus Pemasaran Musik Digital di Era Pandemi”. Marko sangat berterima kasih dengan hadirnya Soundfren Connect ia tetap bisa produktif dan mendapatkan ilmu baru di tengah pandemi ini khususnya ilmu yang terkait promosi musik.

Marko berharap Soundfren Connect bisa terus hadir dengan beragam topik yang menarik dari industri musik baik lokal maupun internasional. Ia juga berharap Soundfren bisa terus hadir menemani kehidupan bermusiknya.