Ngobrolin Youtube Sampai Hak Musisi di Soundfren Connect

Bulan Juli ini, Soundfren baru aja ngadain dua edisi terbaru Soundfren Connect, Fren! Sesi mana nih yang sempat kamu ikutin?

Pada edisi perdana bulan Juli, Soundfren membuka 3 webinar interaktif di tanggal 19-20 Juli 2020. Kelas pertama dibuka oleh duo Glaskaca dan bekerjasama dengan Kuassa, Rayhan Noor dan Wisnu Ikhsantama yang bahas produksi musik dari rumah. Dilanjut oleh Komang Adhyatma dari Collab Asia yang bahas dunia per-YouTube-an  dan EQ Puradiredja yang mengulik tahapan pra produksi seperti milih lagu, bikin demo, sampai konsep produksi.

Seminggu berselang, 26-28 Juli ada 3 webinar interaktif lagi yang dibuka dengan topik dan pembicara yang berbeda. Di Soundfren Connect edisi ini ada webinar seputar hak-hak sebagai musisi bersama Wakil Ketua 1 PRISINDO, Chandra Christanto dan Indra Prasta dari The Rain. Gokilnya nih Fren, di sesi ini kedatengan juga Roby “Geisha”.

Kemudian ada juga sesi bareng Dimas Wisnuwardono dari Sound From The Corner yang bahas cara mendokumentasikan karya musik di era digital. Hari terakhir, Soundfren Connect kembali melanjutkan produksi musik di rumah dengan gitar kesayangan yang sudah dibahas oleh Rayhan Noor dan Wisnu Ikhsantama di sesi sebelumnya.

Kamu yang belum sempat ikutan webinar di Soundfren Connect bisa dengerin semua rekamannya lewat fitur Soundfren Play di aplikasi. Khusus sampai akhir Juli, kamu bisa dengerin Soundfren Play secara gratis, Fren! Kamu bisa dengerin semua podcast dari Soundfren Connect tanpa harus upgrade akun jadi Premium User. Pas banget nih buat nemenin hari-hari kamu, Fren!

Soundfren berencana untuk kembali menghadirkan Soundfren Connect dengan topik dan pembicara yang lebih banyak dan lebih seru di bulan Agustus nanti. Tunggu tanggal mainnya ya, Fren! Cek terus info-info penting Soundfren Connect lewat aplikasi Soundfren dan juga media sosial @soundfren ya, Fren!

Jenis-jenis Piano

Fren, mau mulai menekuni alat musik piano? Ketahui dulu jenis-jenis piano ini, Fren!

  • Grand Piano. Jenis piano yang satu ini bisa dibilang jenis piano sesungguhnya, yang juga termasuk jenis piano akustik. Konstruksi atau bahan dasar dari grand piano adalah kayu yang mengikap dengan berjumlah tuts 88. Piano ini memiliki kotak akustik yang ditidurkan, dengan deretan senar-senar yang diketuk hammer piano ditidurkan. Grand piano sering digunakan dalam sebuah pagelaran orkestra. Harga dari grand piano sangat mahal, dari puluhan hingga ratusan juga. Proses instalasi juga tidak bisa sembarangan.
  • Upright Piano.Konstruksi dari jenis piano ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan jenis grand piano. Tetap berkonstruksi kayu, dengan 88 tuts, serta kotak akustik dan senar-senarnya Yang membedakan upright piano dengan grand piano adalah posisi kotak akustiknya yang berdiri. Dengan konstruksi seperti ini, piano model ini menghemat tempat.
  • Digital Piano.Ini adalah jenis piano elektronik, namun memiliki rentang nada yang sama dengan piano akustik biasa. Model tuts juga sama, menggunakan tipe tipe gradded-hammer. Jadi, walaupun jenisnya sudah digital, namun efek penekanan tutsnya masih sama dengan piano akustik, berat dan seperti mengetukkan palu ke senar-senar nada. Kamu bisa mencoba jenis piano ini dalam Roland RD-700 dan RD 300. Atau juga bisa kamu mainkan Yamaha seri Clavinova.
  • Keyboard.Sekilas keyboard dan digital piano memang mirip. Bahkan sama-sama jenis piano elektronik. Namun begitu tetap ada perbedaannya antara digital piano dan keyboard. Yang paling mencolok adalah model tuts-nya. Keyboard tidak menggunakan gradded hammer, melainkan model touch response. Ini artinya efek seperti mengetukkan palu tidak bisa kamu rasakan, karena itu tuts keyboard jauh lebih ringan untuk ditekan. Rentang nada yang dimiliki juga lebih sedikit, hanya sepanjang 61 nada. Akan tetapi keyboard memiliki kelebihan dalam memproduksi suara dari berbagai bermacam jenis alat musik. Variasi irama dalam keyboard juga banyak, sehingga kamu bisa seperti bermain dalam satu kesatuan full band. Contoh yang populer adalah Yamaha seri PSR, atau Roland seri E.
  • Organ.Organ lebih cenderung memainkan akord, jadi pemain organ tidak perlu susah-susah memikirkan melodi, karena bagian melodi sudah menjadi jatahnya pianis. Organ memiliki dua jenis, yaitu organ pipa (orgel) dan organ elektronik (electone).  Organ pipa memiliki deretan tuts lebih dari satu, dan tombol analog yang sangat banyak. Organ pipa sendiri memiliki pipa-pipa raksasa. Sementara organ elektronik deretan tutsnya kebanyakan 2 baris dan pedal kaki (pedalboard) sangat banyak.

Itu tadi beberapa jenis piano dari yang klasik hingga yang modern. Mungkin saja piano akan mengalami perkembangan lagi di masa depan nanti. Kamu bisa sharing seputar piano bareng temen-temen di Soundfren. Yuk, cek aplikasi Soundfren kamu sekarang!

Recording Dulu dan Sekarang

Terima kasih kepada teknologi, kini rekaman di rumah bisa terdengar profesional.

Kira-kira 25-30 tahun ke belakang, bisa merekam sebuah lagu dengan proper adalah hal yang mewah. Kita harus menyewa studio rekaman yang memiliki peralatan canggih nan mumpuni, dengan harga sewa yang relatif mahal.

Saat itu, pilihan studio juga belum terlalu banyak. Untuk merekam sebuah demo saja kita harus mem-booking dari jauh-jauh hari untuk mendapatkan jadwal kosong. Pasalnya, band-band yang sedang mengerjakan album biasanya mem-block jadwal studio langsung satu bulan ke depan. Jadi selain biaya yang tidak murah, jadwal studio pun masih harus rebutan.

Lantas, kenapa nggak rekaman di rumah aja?

Well, kecuali kita super kaya dan mampu membeli alat-alat recording seperti mixerpreampcompressorspeakermic, dan hardwarehardware lainnya, rekaman di rumah hanyalah mimpi siang bolong, Fren.

Tapi, zaman sudah berubah. Terima kasih kepada teknologi yang semakin canggih, kini rekaman bukan lagi suatu hal yang sulit untuk dilakukan, bahkan bisa dilakukan di rumah. Analog berganti digitalHardware-hardware rekaman yang besar-besar, kini bertransformasi dalam bentuk software yang praktis.

Tapi kan, kalo yang analog pasti lebih bagus daripada software

Hmm.., kayaknya anggapan itu sudah tidak valid lagi. Saat ini, perkembangan teknologi digital yang semakin canggih dan detail membuat kualitas rekaman yang dihasilkan sudah sangat baik, dan bisa bersaing dengan hasil rekaman analog yang cenderung lebih kompleks.

Enaknya lagi, semuanya serba simple dan praktis. Cukup bermodalkan laptop yang mumpuni, audio interface/ soundcardsoftware DAW lengkap dengan plugin VST mutakhirberkarya musik kini bisa dikerjakan di mana saja.

Yang disebut belakangan itu penting. Virtual Studio Technology alias VST adalah plugin yang kita gunakan di dalam Digital Audio Workstation (DAW) kita, yang bisa membantu kita memilih sound yang kita inginkan. Software ini bisa menyimulasikan suara dari hardware seperti ampli, mic, dan lain-lain tanpa kita harus memiliki hardware tersebut.

Kebayang nggak, kalau dulu seorang gitaris ingin merekam track gitar clean menggunakan ampli Fender Twin Reverb, lalu ingin mengambil suara drive menggunakan ampli VOX AC 30, dan distorsi melalui Mesa Boogie, dia harus memiliki semua amplinya atau mencari studio rekaman yang menyediakan semua ampli tersebut. Ini belum ngomongin efek rack unit yang beratnya puluhan kilogram.

Sekarang? Rasanya udah jarang kita dengar gitaris mengeluh sakit punggung karena keseringan mengangkat gear yang berat-berat. Karena semua sudah serba portable dan praktis. Segala jenis sound lengkap dengan variasi miking dan simulasi ruangan sudah bisa kita dapatkan lewat plugins ini.

Karena pentingnya VST inilah, jadi kita harus dengan cermat memilih VST yang sesuai dengan kebutuhan kita. Salah satu plugins yang bisa diandalkan adalah keluaran KUASSA. Mereka punya VST, Audio Units, Rack Extension digital guitar amp, dan mixing – mastering effect plug-ins software yang keren.

Nah, kabar gembira untuk para audio engineer atau gitaris, di acara Soundfren Connect tanggal 28 Juli 2020 mendatang, teman-teman dari KUASSA akan membagikan tips untuk merekam gitar yang profesional. Yes! KUASSA adalah produk asli Indonesia.

Di acara ini nantinya, Wisnu Ikhsantama (Produser, Sound Engineer, Musisi Soundpole Studio/ Glaskaca) dan Rayhan Noor (Gitaris & Produser Glaskaca, Lomba Sihir, Martials) akan membahas topik-topik seru seperti mengaplikasikan suara efek gitar dalam sebuah lagu, layering gitar dan harmonisasi gitar dalam aransemen, sampai memaksimalkan kreativitas dalam penggunaan efek gitar.

Seru kan? Makanya, jangan sampai ketinggalan, Fren. Kalau kamu musisi atau produser atau engineer atau tertarik dengan produksi musik, kamu wajib ikutan. Langsung saja daftar sekarang, mumpung biaya pendaftarannya lagi diskon dari 100 ribu jadi cuma 35 ribu rupiah. Untuk info lebih lengkap, bisa cek di sini. Berangkat, Fren!(Erick)

Foto : Soundtrap on Unsplash

Tips 101: Menulis Lagu

Fren, mau mulai menulis lagu buat gebetan? Nih, coba dulu tips dari mimin.

  • Tentukan Tema Lagu. Dalam membuat sebuah lagu, kalian harus menentukan dulu tema lagu yang akan dibuat. Kalo tiba-tiba nemu nada atau lirik, simpan di voice note dan notepad. Setelah itu, cari waktu senggang untuk membuat lagu-lagu mentah yang udah kalian catat dan tentukan arah tema lagunya.
  • Buat Kerangka Cerita. Membuat lagu itu sama seperti membuat rumah. Dibutuhkan pilar-pilar penyangga yang dapat menopang cerita dalam sebuah lagu. Maka dari itu, buatlah kerangka cerita lagunya untuk mendukung tema sebuah lagu.
  • Buat Judul yang Khas.
  • Dari kerangka ceritanya, kamu bisa menentukan judul. Judul lagu memegang peranan yang sangat penting. Judul lagu adalah momen pertama dimana kamu bisa memperlihatkan bahwa karya kamu beda dari yang lain. Saat pembuat lagu yang lain menggunakan judul yang “pasaran”, kamu muncul dengan judul yang khas sehingga langsung menarik perhatian calon pendengar.
  • Tulis Lirik, Pilih Kosakatanya. Disinilah kreativitas berperan. Disinilah kamu menunjukkan kenapa lagu kamu berbeda dari pembuat-pembuat lagu yang lain. Ada berbagai teknik yang bisa dilakukan untuk membuat lirik. Salah satunya adalah menggunakan peta pikiran atau mind map. Mind map ini sangat efektif, karena melatih otak berpikir luas saat mencari kata-kata yang tepat.
  • Gunakan Lirik Visual, Naratif, dan Deskriptif. Lirik visual (atau naratif/deskriptif) adalah lirik yang membuat pendengar bisa membayangkan lagu kamu seperti film: lengkap dengan adegan laga, cinta, dan drama yang menegangkan. Kalau kamu bisa menguasai sedikit saja lirik visual, itu akan membuat kamu jauh lebih mahir membuat lagu dibanding kebanyakan orang di luar sana yang bermalas-malasan tapi berharap lagunya akan dibeli orang atau artis major label. Karena itu, gunakanlah lirik visual! Ini adalah senjata ampuh yang dipakai artis kaliber internasional seperti Taylor Swift (yang menghasilkan lebih dari US$80 Juta selama 2018!), tapi jarang dipakai pembuat lagu dalam negeri.
  • Rapikan Lirik. Lirik yang sudah kamu buat sejauh ini belum tentu sudah selesai. Kamu selalu bisa membuatnya lebih baik. Ingat apa yang dikatakan The Edge, gitaris band U2:Lagu kami tidak pernah selesai; tapi selalu dirilis!”.
  • Istirahat.Ya, istirahat. Kalau sudah melakukan ke-6 langkah sebelumnya, sekarang break dulu. Lagu yang ngehits butuh waktu. Lagu yang hits butuh struktur. Walau pekerjaannya lebih berat, hasilnya jauh lebih memuaskan.

Buatlah lagu yang menyentuh hati mereka, baik itu membuat mereka menyalurkan kesedihannya yang paling tersembunyi, atau membangkitkan semangat mereka untuk menjadi tak terkalahkan. Karena lagu kamu mewakili cerita kehidupan mereka.

Udah kebayang mau bikin lagu apa, Fren? Kalo sudah beres kamu bisa loh share hasilnya dan minta masukan ke temen-temen di aplikasi Soundfren. Kamu bjsa posting lewat status dan lihat masukan dari sesama pengguna Soundfren.

Pentingnya Mendokumentasikan Karya Musik di Era Digital

Bukan sekadar gimmick, tapi merupakan tools yang powerful untuk pembentukan citra, menaikkan popularitas, bahkan menjadi alternatif saluran pemasukan tambahan untuk musisi.

Di era digital saat ini, menjadi musisi tidak lagi semata-mata membuat lagu, rilis album, dan manggung. Ada hal lain yang jadi perhatian dan harus dilakukan, terutama jika kita ingin terus eksis dan mengembangkan karir bermusik kita. Yaitu adalah pendokumentasian karya, baik berupa foto atau video.

Harus diakui, kalau saat ini dokumentasi video atau foto memainkan peranan penting dalam perjalanan bermusik suatu band atau musisi. Bukan hanya sekadar gimmick, tapi telah menjadi tools yang powerful untuk pembentukan citra, menaikkan popularitas dan kredibilitas, bahkan lebih besar lagi, bisa menjadi alternatif saluran pemasukan lain untuk kita para musisi.

Ya, jika digarap dengan serius dan maksimal, konten dokumentasi kita ini bisa di-monetize dan menghasilkan. Contohnya adalah lewat video youtube yang dipasangkan ads, atau bekerja sama dengan brand untuk support di produk dokumentasi kita tersebut. 

Dahsyat kan? Dokumentasi tergarap, promosi band tercapai, plus ada potensi pemasukan tambahan. Kurang apa lagi coba? 

Selain itu, yang paling mendasar adalah bahwa dokumentasi musik ini merupakan rekam jejak suatu band/ musisi yang bisa dilihat, dievaluasi, dan dijadikan referensi atau pembelajaran dari musisi lain. 

Dengan begitu banyaknya manfaat dari pendokumentasian karya musik ini, jadi jangan heran kalau band-band besar selalu membawa official photograper dan videographer untuk mendokumentasikan mereka di atas panggung, di dalam studio, dan lain sebagainya.

Belum punya tim video atau foto? Jangan berkecil hati, Fren. Hal ini tidak harus dikerjakan sendiri kok. Pendokumentasian ini juga bisa dilakukan bekerjasama dengan content creatormusik yang memang sudah eksis ataupun masih merintis. Kolaborasi semacam ini malah bisa membangun simbiosis mutualisme antara keduanya. Si musisi mendapatkan pendengar baru dan karyanya terdokumentasikan dengan baik, di sisi lain content creator mendapatkan konten, tentunya.

Hasil dokumentasi ini juga selain di-publish di youtube atau media sosial si musisi, juga bisa bekerja sama dengan akun-akun media sosial musik lain, seperti @soundfren, untuk membantu penyebaran kontennya.

Nah, kalau kamu ingin lebih tau lagi mengenai pendokumentasi karya musik ini, kayak bagaimana memulainya, bagaimana cara menjual karya dokumentasi kita di media digital, dan tips-tips penting lainnya, kamu wajib ikutan Soundfren Connect yang akan berlangsung tanggal 27 Juli 2020 pukul 19.30 mendatang. Akan ada Dimas Wisnuwardono dari Sounds From The Corner yang berbagi infonya di sini. 

Webinar bertajuk “Mendokumentasikan Karya Musik di Era Digital” ini bekerja sama dengan Kuassa & Sounds From The Corner. Kulik detail infonya di sini. Sampai ketemu tanggal 27 ya, Fren! (Erick)

Foto : Dokumentasi Sound From The Corner

Performing Rights: Hak Musisi yang Harus Kamu Tau

Produktif bikin lagu, duduk manis sambil terima royalti.

Salah satu hak kita para musisi adalah menerima royalti dari karya yang kita buat. Royalti dalam hal musik secara sederhana dapat diartikan sebagai  kompensasi yang diterima pemegang hak cipta dan hak terkait atas pemberian lisensi untuk menggunakan sebuah karya lagu, oleh penerima lisensi.

Dan kalau kamu berpikir bahwa royalti itu hanya dari penjualan rilisan fisik, adsense youtube, atau sharing dari digital streaming platform, kamu salah. 

Karena ternyata ada sangat banyak jenis-jenis royalti yang bisa diterima oleh musisi, baik royalti fisik maupun digital. Well, sesungguhnya ini bukanlah hal baru dan sudah berlangsung sejak lama, terutama di negara-negara yang industri musiknya sudah lebih mapan. 

Salah satu jenis royalti yang bisa kita dapatkan adalah royalti performing rights, yang merupakan bagian dari “Hak Terkait”, yang diatur oleh Undang-undang Nomer 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta.

“Hak terkait” adalah hak yang berkaitan dengan Hak Cipta yang merupakan hak eksklusif bagi pelaku pertunjukan, produser fonogram, atau lembaga penyiaran. 

Sementara performing rights atau “Hak Menampilkan” untuk “Hak Terkait” adalah sebuah hak yang dimiliki oleh musisi dan penyanyi atas karya mereka yang nyata dalam medium rekam, seperti Vinyl, CD, Kaset, maupun Digital.

Jadi, jika seorang musisi atau penyanyi yang telah karyanya dipakai atau ditampilkan untuk berbagai keperluan oleh para pengguna, maka mereka berhak mendapatkan hak ekonomi dari situ.

Gampangnya nih, setiap kali lagu kamu dimainkan atau diputar di publik, kamu mendapatkan royalti. Apakah itu diputar di café, lobi hotel, salon, bioskop, atau bahkan di-cover oleh band lain di pertunjukan live, kamu berhak atas royalti performing rights.

Siapa yang bayar? Tentunya pihak yang paling diuntungkan, yaitu pemilik restoran, café, karaoke, promotor/ penyelenggara event, dan lain sebagainya.

Jadi, ketika ada suatu band memainkan lagu artis lain dalam pertunjukannya, 

yang seharusnya membayar ke si pencipta lagu seharusnya adalah si pemilik acara atau pemilik tempatnya. Pertimbangannya, karena atas lagu yang disiarkan, orang-orang jadi datang ke tempat itu, atau acaranya jadi laku dan punya value.

Coba bayangin suatu café tanpa ada musik. Pasti krik krik kan, Fren? Nah, itu hebatnya musik. Bisa memberikan sebuah experience dan nilai lebih kepada sebuah usaha ataupun kegiatan. Oleh karena itu pula para pengguna karya wajib membayar hak atas penggunaan karya, karena toh dari situ mendatangkan banyak potensi ekonomi dalam usaha atau kegiatan mereka.

Oke, sekarang pasti pertanyaanya: bagaimana cara kita mendapatkan hak performing rights tersebut?

Gampang. Yang pasti, kamu nggak perlu keliling café, hotel, nonton tv atau mendengarkan radio selama 24 jam untuk mengetahui berapa kali karya kamu diputar. Kamu cukup memberikan kuasa kepada Lembaga Manajemen Kolektif Hak Terkait, dan mereka yang akan memungut serta menyalurkan royalti kamu.

Makin penasaran? Nah, untuk tau lebih detail soal royalti performing rights ini, kamu harus ikutan Soundfren Connect tanggal 26 Juli 2020 ini. Di sini, akan membahas tuntas mengenai hak-hak musisi dari sisi Hak Terkait. Bakal Ada Chandra Christanto dari PRISINDO dan moderator Indra Prasta “The Rain”. Jangan lupa daftar sekarang juga. Mumpung tiketnya diskon dari 100 ribu menjadi cuma 35 ribu rupiah. 

Untuk info detailnya bisa langsung cek di sini ya, Fren! Sikat, Fren!(Erick)

Tips Memilih Softcase Gitar

Fren, biar lebih mudah nenteng gitar ke mana-mana, softcase gitarnya juga harus sesuai. Dengan softcase gitar yang sesuai, gitar pun jadi lebih aman jika dibawa-bawa.

  • Pilih Softcase yang Sesuai dengan Ukuran Gitar. Jangan sampai kesempitan atau juga kebesaran. Jika terlalu besar menyebabkan gitar bergeser yang akan mengakibatkan rusaknya gitar. Sementara, kalau kesempitan gitarnya enggak bisa dibungkus, dan sudah pasti rawan terkena benturan.
  • Pilih Softcase Gitar yang Punya Banyak Tali. Maksudnya memiliki banyak tali, kamu akan memiliki banyak alternatif pilihan untuk membawanya. Jika terdapat tali bahu, tas bisa dibawa dengan disampirkan pada satu bahu. Jika ada model dua tali maka akan mudah dibawa layaknya tas ransel. Selanjutnya, apabila softcase memiliki tali disamping maka ada pilihan untuk dibawa dengan dijinjing.
  • Pilih softcase gitar yang ada saku tambahan. Softcase gitar yang punya banyak saku akan memudahkan kamu untuk menyimpan beberapa aksesoris lain terkait gitar. Bisa saja kamu menaruh kabel jack, lap pembersih, senar gitar cadangan, atau alat-alat lainnya. Bila tidak ada saku atau kantung tambahan, kamu diharuskan memiliki wadah lain untuk membawa aksesoris gitar tersebut. Artinya, akan menambah kesulitan kamu saat akan membawa gitar kesayangan. Pilih saja yang praktis.

Itu tadi beberapa tips untuk memilih softcase gitar yang tepat untuk alat musik gitar kamu. Kamu juga bisa cari referensi lewat Soundfren, kamu bisa tanya-tanya dengan posting status di aplikasi.

#BikinJalanLo Versi Smokeguns

“Kami lebih mudah mempromosikan karya atau mendapat info manggung lewat canggihnya teknologi, salah satunya lewat Soundfren – Smokeguns”

Terlahir untuk mendengar melodi nada dengan detak jantung bagaikan tempo, musik adalah jiwa bagi Smokeguns.  Hidup bersama musik adalah hal yang menghubungkan para personel Smokeguns. Bahagia rasanya saat bisa menghibur orang banyak dengan melihat mereka bergembira lewat musik-musik karya Smokeguns.

Bagi para personel Smokeguns, menghibur orang dengan karya mereka adalah sebuah pencapain tersendiri yang tak ternilai. Penyuka musik-musik Koesplus, Dewa19, Iwan Fals, Led Zeppelin, The Tielman ini merasa bahwa menghibur orang semakin mudah dengan segala kecanggihan teknologi yang tersedia di era sekarang. Mereka lebih mudah mempromosikan karya-karya atau mendapat info manggung lewat canggihnya teknologi. Salah satunya lewat Soundfren.

Pemilik single Kita Semua Sama ini menganggap Soundfren adalah suatu wadah para penggiat musik yang hebat dan Smokeguns ingin menjadi salah satunya untuk menambah dan berbagi ilmu.  Dengan menjadi pengguna Soundfren, Smokeguns ingin musik mereka lebih bisa dikenal berbagai kalangan dari muda hingga tua. Dengan terpilih di program “Indie Air” di UseeTV, harapan Smokeguns perlahan mulai terwujud. Video musik bertajuk “Pagi” yang ditayangkan UseeTV menjadi semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Smokeguns selalu berharap agar Soundfren dan Smokeguns selalu bisa menjadi lebih baik untuk industri musik tanah air. Soundfren bisa semakin mewadahi para penggiat musik dan Smokeguns bisa lebih mengenalkan karya-karya ciptaan mereka.

Tips Belajar Musik Secara Otodidak

Fren, zaman sekarang gampang banget kalo mau belajar memainkan alat musik secara otodidak. Salah satunya adalah melalui situs atau laman kursus musik gratis. Kalo kamu lebih suka belajar alat musik melalui apa nih, Fren?

  • Fokus pada satu alat musik terlebih dahulu
    • Adakalanya kita ingin belajar macam-macam alat musik dalam satu waktu tertentu, tetapi lebih baik pilih salah satu dahulu. Dengan fokus mempelajari salah satu alat musik, kamu bisa memanfaatkannya untuk menguasai alat musik tersebut. Ketika kita belajar banyak hal dalam satu waktu, tak jarang pikiran kita akan terkecoh dengan hal yang lain. Jadi lebih baik pilih dan fokus sama salah satu alat musik ya.
  • Kunjungi situs atau laman kursus musik gratis
    • Hampir semua yang kita perlukan dapat kita peroleh secara daring atau online. Kursus Musik memang mahal, tapi ada versi gratisannya kok! Misalnya video platform seperti YouTube juga terdapat banyak akun yang menyediakan kursus musik gratis secara daring. Kalian juga bisa cari referensi di Soundfren loh, Fren! Karena disana banyak para penggiat musik berkumpul dan mungkin bisa membantu kalian belajar musik secara otodidak.
  • Harap bersabar, ini belajar
    • Belajar bermain musik itu nggak sama kayak bikin mie instan lho! Semua ada proses dan tahapannya. Seperti di poin 2, lebih baik kalian pelajari dasar-dasar terlebih dahulu dalam belajar musik. Apabila mempelajari notasi balok terlalu susah, pelajari dahulu chord serta tangga nada dasar, tetapi tetap cobalah mempelajari notasi balok. Tidak perlu malu jika proses belajar kalian nggak cepat atau hanya belajar chord dan tangga nada saja.
  • Minta bantuan kepada teman yang bisa bermain musik
    • Jika kamu punya teman yang bisa main musik, jangan sungkan bertanya atau minta bantuan mereka untuk mengajar kamu bermain musik. Saling sharing pengalaman atau permasalahan kamu disaat kamu bermain musik akan membantumu mengerti bagaimana cara mengatasinya. Bagi orang yang berjiwa musik, umumnya akan senang membantumu belajar bermain alat musik. Tapi jangan lupa saat minta bantuan, mintalah dengan sopan ya. Kamu bisa cari teman berbagi lewat aplikasi Soundfren juga loh!
  • The more you learn, the more you know
    • Jika kamu memutuskan untuk belajar musik secara otodidak, pastikan kamu telah mengatur seberapa sering dan kapan saja kamu akan berlatih. Jika kursus tentunya kita akan mengikuti jadwal yang diberikan lembaga kursus/pelatih, berbeda dengan otodidak yang lebih fleksibel dan tergantung bagaimana kita mengatur jadwal kita berlatih. Lebih baik berlatih secara rutin, atur jadwal dan manfaatkan waktu-waktu senggang untuk kamu berlatih! Semakin sering kamu berlatih, kamu akan menemukan banyak hal baru yang akan menungkatkan kemampuan bermain musikmu.

Memilih kursus atau otodidak adalah pilihan. Tidak selamanya mengikuti kursus atau belajar otodidak itu buruk, dan tidak selamanya juga kedua cara tersebut baik. Ada baiknya tetap berjalan berdampingan. Apabila skill musik kamu sudah cukup bagus, atau setidaknya mengerti dasar musik, kamu bisa melanjutkan belajar lebih lagi dengan kursus musik supaya kamu lebih mengerti teknik-teknik lainnya yang mungkin tidak ditemukan di situs kursus online, atau tetap belajar sendiri secara otodidak itu merupakan pilihanmu. Selamat bermain musik!

#BikinJalanLo Versi Puji Fabianto Wibowo


“Dengan ikutan Soundfren Connect, saya tetap bisa memperdalam ilmu bermusik dan bisa langsung mempraktekannya dari rumah di tengah pandemi ini – Puji Fabianto Wibowo”

Darah seni yang mengalir di tubuh Puji Fabianto membuatnya terbiasa akan musik. Lahir dari keluarga pemusik, Puji kecil sudah mulai mempelajari alat musik. Sejak usia 6 tahun ia belajar memetik gitar dari kakak dan pamannya yang seorang gitaris. 

Berguru langsung dari sang kakak membuat Puji tak hanya mahir memainkan alat musik petik ini, namun mental bermusiknya juga ditempa. Pernah suatu ketika, buku gitar melayang hingga ke wajahnya. Alih-alih putus asa, tamparan dari sang kakak justru membuatnya termotivasi untuk semakin serius mempelajari musik khususnya gitar. Hingga saat ini, bermain gitar menjadi salah satu keahliannya.

Puji yang juga merupakan guru sekolah ini tak henti untuk terus memperdalam pengetahuannya akan musik. Penggemar dari Dewa Budjana, Eross Chandra, Handy Hadiwikarta, Joe Satriani, dan Metallica ini aktif mengikuti workshop-workshop selutar musik. Baginya, dengan mengikuti kegiatan-kegiatan musik ada banyak ilmu baru yang ia dapatkan. Selain itu, ia juga bisa berkenalan dengan teman-teman musisi.

Lewat media sosial, Puji giat mencari informasi tentang musik. Sampai akhirnya ia menemukan promosi mengenai Soundfren Connect. Webinar interaktif bersama para penggiat musik tanah air yang ditawarkan Soundfren membuat Puji tertarik begabung untuk menjadi pengguna Soundfren. 

Setelah mengikuti dua kelas Soundfren Connect yang berkaitan dengan digital recording serta mixing dan mastering membuat Puji merasakan dampak yang cukup positif. Di tengah pandemi, ia tetap bisa memperdalam ilmu bermusik dan bisa langsung mempraktekannya dari rumah. 

Tak hanya ilmu baru yang Puji dapat. Ia juga banyak mendapat kenalan musisi di seluruh Indonesia. Baginya, Soundfren adalah wadah komunikasi dalam bermusik. Puji berharap Soundfren akan terus menghadirkan Soundfren Connect dan menjadi wadah sebagai bekal wawasan bermusik untuk para penggunanya.