Sederet Musisi yang Hobi Banting Alat Musik

#FrenInfo

Fren, banyak musisi yang ngelakuin aksi panggung dengan ragam cara yang unik. Salah satunya adalah dengan menghancurkan alat musik mereka. Siapa musisi favoritmu yang punya aksi panggung gokil?

  • Jimi Hendrix. Jimi Hendrix tidak hanya membanting gitarnya, bahkan dia membakar gitarnya itu pada saat tampil dalam gelaran festival musik Monterey Pop tahun 1967 silam. Aksi panggungnya tersebut bisa disaksikan dari beberapa unggahan video Youtube.
  • Kirk Hammet. Kirk Hammer gitaris Metallica ini adalah salah satu gitaris yang begitu sering menghancurkan alat musiknya sendiri. Dibeberapa unggahan video Youtube bisa dilihat Kirk Hammet tidak hanya membanting gitarnya tapi juga menghancurkannya dengan palu.
  • Kurt Cobain. Pentolan Nirvana ini merupakan salah satu nama terdepan dalam urusan menghacurkan gitar. Tidak hanya itu, sasaran penghancuran Kurt Cobain bukan hanya gitar, tapi juga benda lain yang ada di sekitarnya seperti amplifier, drum dan lainnya.
  • Paul Stanley. Frontman dari band KISS ini dikenal cukup “piawai” dalam hal banting-membanting gitar. Sepanjang kariernya bersama band tersebut tak terhitung lagi berapa jumlah gitar yang telah ia hancurkan diatas panggung
  • Otong Koil. Otong, pentolan band Koil asal Bandung ini tidak pernah lelah menghibur pirsawan dengan atraksi banting gitar a la The Who. Otong pernah beberapa kali menghancurkan gitar yang baru saja ia gunakan diatas panggung. Bahkan, Otongpun pernah membakar gitarnya dihadapan para penonton

Temukan info-info lain terkait musik hanya di Soundfren!

Pentingnya Pra-produksi Rekaman Buat Danilla

Danilla Riyadi di Soundfren Connect

Buat Danilla dan Lafa, fase terpenting dalam merekam album justru ada di pra-produksi.

Yoi, Fren! Ini yang mereka sampaikan di sesi Soundfren Connect yang berlangsung 30 November 2020 kemarin. Di sesi bertajuk “Pembongkaran Karya Musik & Proses di Balik Album Rekaman” ini, Lafa Pratomo dan Danilla Riyadi berbagi kisah dan cerita di belakang proses perekaman album-album Danilla.

Kalau ada yang belum kenal, Lafa adalah produser dari karya-karya Danilla. Bisa dibilang, dia adalah arsitek musik dari album Danilla selama ini. Selain bertugas di belakang layar, Lafa juga berperan sebagai gitaris dalam setiap penampilan live Danilla.

Kali ini, Lafa banyak bercerita mengenai pengalamannya sebagai produser rekaman Danilla. Satu hal yang dia ceritakan di sesi seru besutan Soundfren ini, adalah bahwa kunci penting pengerjaan album-album Danilla justru bukan di waktu rekamannya, melainkan terletak di pra-produksi.

“Yang paling pertama itu workshop sih. Ini tuh semacam momen nyatuin chemistry antara si produser dan teman-teman band,” buka Lafa.

Hal ini juga diakui sama Danilla. Dia mengungkapkan kalau workshop ini adalah fase awal yang sangat penting dalam proses pengerjaan albumnya. Di fase inilah mereka menghabiskan waktu untuk saling bertukar pikiran dan sharing antara musisi dan produser.

“Aku selalu fokus setiap workshop. Fokus untuk bermain-main, fokus bikin dunia sendiri. Bahkan aku sama Lafa kalau sudah waktunya workshop, nggak ada waktu untuk buka hp. Kecuali buat browsing atau dengar lagu paling,” cerita Danilla.

“Pesan makanan enak, ngehabisin waktu buat ngobrol, meski cuma curhat dan nggak ngobrolin musik, menurut aku ini juga bagian dari workshop,” sambung Danilla. 

“Iya, prosesnya mungkin kayak curhat-curhat, tapi sebenarnya yang kita serap adalah energinya di momen ini,” tambah Lafa.

Workshop ini sesungguhnya adalah fase mendasar, di mana antara musisi dan produser bisa menemukan kondisi nyaman yang bisa menjaga stabilitas titik fokus mereka untuk kemudian merumuskan arah mau ke mana karya itu dibawa. 

Nah, setelah fase saling memahami ini dijalankan, selanjutnya kita akan masuk ke tahap yang disebut Lafa sebagai pre-production. Tahapan ini notabene lebih musikal, karena ini adalah fase di mana mereka menentukan bagan lagu, aransemen, sound, dan detail-detail lainnya.

“Semacam bikin demolah. Di sini sebenarnya adalah sesi “berantem” dengan teman band kalian, mau dibikin kayak apa lagunya,” ujar Lafa.

Tidak harus merekam lagu secara proper di studio rekaman, mematangkan aransemen di sini bisa dengan merekam live di studio latihan, rekaman rumahan sederhana, atau segampang merekam dengan handphone saat kita sedang latian di studio, untuk kemudian kita dengarkan kembali dengan seksama.

Hasil inilah yang akan kita jadikan pegangan saat nanti masuk studio dan merekam lagu kita. Karena jika semuanya sudah dipersiapkan dengan matang, proses merekam lagu akan berlangsung dengan mudah dan cepat. Artinya tentu biaya yang keluar untuk tahapan produksi juga akan lebih murah.

Gimana, sudah siap rekaman? Kalo iya, jangan lupa fokus di pra produksinya ya, Fren! Selamat berkarya! (Erick)

#BikinJalanLo Versi Collegium

#SemudahItu Promosikan Karya di Soundfren

“Sedikit banyak nama Collegium juga mulai terekspos berkat Soundfren yang suka bantu promoin karya kami! – Collegium”

Tahun 2018 menjadi tahun yang spesial bagi Collegium. Di tahun tersebut, Deni, Boni, dkk memutuskan untuk membuat grup band bernama Collegium. Band ini lahir dari ketertarikan para personelnya akan musik-musik Jepang dan Korea.  

Sejak terbentuk, grup musik ini telah melahirkan 2 single yakni ‘Sebuah Kisah’ dan ‘Aflah’. Bahkan di tahun ini, Collegium juga tengah mempersiapkan  3 lagu untuk sebuah soundtrack film.

Meski terhitung baru di industri musik, Boni dkk telah merasakan panggung-panggung besar seperti tampil di “BIG BANG FEST 2019 Main Stage”, dan “InsertLive JPOP”. Panggung musik ini mereka dapatkan berkat promo melalui media sosial.

Kecanggihan teknologi sungguh berperan besar bagi perjalanan Collegium. Selain bisa mendapatkan panggung dengan bermodal internet, Collegium juga merasakan manfaat lain dari teknologi. Dalam membuat lagu, masing-masing personelnya mengirim track lalu disinkronkan dan digabungkan menjadi satu. Kecanggihan teknologi ini sangat membantu Collegium khususnya di tengah pandemi yang membuat orang susah untuk bertemu.

Teknologi juga yang mempertemukan Collegium dengan Soundfren. Di Soundfren, Collegium banyak mendapatkan relasi baru, membangun koneksi untuk bisa melangkah lebih jauh lagi di dunia musik, dan memiliki wadah yang tepat untuk menampung karya. Keaktifan Collegium di aplikasi membuat mereka masuk ke dalam jajaran pengguna teraktif sepanjang tahun 2020 versi Soundfren.

Bagi Collegium, Soundfren ini unik dan baru pertama kali ada aplikasi seperti ini di Indonesia. Collegium berharap agar Soundfren selalu bisa menjadi wadah untuk teman-teman musisi agar dapat banyak kesempatan tampil membawakan lagu sendiri.

Strategi dan Fungsi Menjadi Fotografer Band

Foto : Koleksi Jovy Akbar

Karena sesungguhnya fotografer band tidak sekadar memotret, tapi merekam sejarah perjalanan karir sebuah band/ musisi. 

Ya, harus diakui, kalau saat ini profesi fotografer panggung memainkan peranan penting dalam perjalanan bermusik suatu band atau musisi di industri musik. Karena bukan sekadar memotret, tapi lebih dari itu, seorang fotografer band bertugas sebagai perekam sejarah perjalanan karir sebuah band atau musisi.

Bahkan, hasil foto yang dihasilkan bisa digunakan oleh band atau musisi sebagai alat pembentukan citra serta menaikkan popularitas dan kredibilitas mereka. Lebih dalam lagi, dokumentasi musik ini bisa dijadikan bahan evaluasi, dan dijadikan referensi atau pembelajaran dari musisi lain. Kerenkan?

Karena begitu banyak manfaat dari pendokumentasian karya musik ini, jadi jangan heran kalau band-band besar selalu membawa official photograper masing-masing untuk mendokumentasikan mereka di atas panggung, di dalam studio, dan lain sebagainya.

Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa dipercaya jadi fotografer band?

Selain skill dan teknik memotret yang mumpuni, tentunya kita harus bisa membangun relasi yang baik dengan band. Untuk para fotografer panggung pemula yang ingin membangun relasi dengan band, kita bisa memanfaatkan media sosial seperti Instagram.

Misalnya kita datang ke gigs untuk memotret band yang main di sana, lalu hasil fotonya kita post di instagram dengan men-tag dan mention band tersebut. Jika foto kita emang keren, band tersebut pasti akan aware dan kemungkinan besar akan me-repost karya kita tersebut. Dengan begini, makin banyak orang yang melihat karya kita, dan kemungkinan diajak motret di gigs lainnya akan terbuka, hingga akhirnya dipercaya menjadi fotografer official band.

Itu cuma salah satu cara. Tentunya masih banyak tips dan trik lain yang bisa dilakukan untuk menjadi fotografer resmi band. Kalau ingin tau lebih lanjut, kamu bisa ikutan sesi Soundfren Connect bertajuk “Strategi dan Fungsi Menjadi Fotografer Band” yang berlangsung 29 November 2020 ini. 

Akan ada Jovy Akbar, fotografer @moccaofficial, yang bakalan bagi-bagi tips dan insight tentang bidang ini. Topik-topik penting seperti, apa saja tugas dan fungsi fotografer band, bagaimana proses kreatif fotografer band, sampai tips merancang portfolio dan membangun reputasi sebagai fotografer musik akan dikupas tuntas di sini.

Untuk ikutan sesi keren ini, kamu cukup mendaftar via aplikasi Soundfren dan membayar biaya keikutsertaan sebesar 35 ribu rupiah. Murah, meriah, dan pastinya bermanfaat. Ditunggu ya, Fren! (Erick)

Fakta Bermusik Bagi Kesehatan

Fren, selain sebagai sarana untuk menyalurkan hal yang kamu senangi, bermusik juga punya banyak manfaat buat kesehatan.

  • Meningkatkan konsentrasi. Saat mempelajari suatu instrumen atau alat musik otakmu dituntut untuk fokus sehingga konsentrasi jadi meningkat.
  • Melepaskan stres. Banyak studi menyebut bermain alat musik dapat mengurangi rasa sakit serta stres sehingga bisa menjaga kesehatan mental.
  • Melawan alzheimer dan demensia. Musik banyak digunakan di panti jompo untuk terapi karena banyak studi menyebut musik bisa memperkuat memori dan ingatan.
  • Menyeimbangkan otak kiri dan kanan. Belajar instrumen seperti biola, gitar, bahkan piano turut melatih otak kiri dan kanan agar bekerja secara seimbang.
  • Membuat tubuh rileks. Banyak studi menunjukkan bahwa mendengarkan musik yang menenangkan bisa membuat tubuh lebih rileks.
  • Memperbaiki suasana hati. Penelitian McGill University Montreal menyebut musik dapat memicu pelepasan hormon dopamin yang berhubungan dengan perasaan senang.

Jadi buat kamu yang sering dengerin musik ini merupakan sebuah fakta yang menyenangkan bukan? Temukan fakta-fakta seputar musik lainnya di Soundfren.

#BikinJalanLo Versi Niki Ariestya

“Terima kasih buat Soundfren Connect yang menemani kehidupan selama pandemi! – Niki Ariestya

Kebahagiaan saat mendengarkan musik membuat Niki Ariestya menjadi gemar mengulik lagu. Dengan banyak belajar dari internet, Niki banyak mengulik lagu-lagu musisi favoritnya. 

Dengan berawal dari sering mendengarkan musik, mengulik lagu musisi idola, dan menonton konser-konser musik, Niki kini menjadikan musik sebagai salah satu sumber penghasilannya. Mengelola semacam komunitas dan festival musik menjadi rutinitas Niki sekarang. Dari pekerjaannya ini, Niki jadi mendapat banyak pengetahuan baru. Ia juga jadi tahu jika ternyata industri musik tidak hanya bermain musik atau ngeband, tapi ada banyak hal-hal di belakang layar yang menarik minatnya.

Kecintaan Niki pada musik membuatnya selalu semangat mempelajari hal-hal baru tentang musik. Niki banyak mengikuti sesi webinar salah satunya lewat Soundfren Connect yang infonya ia dapatkan dari media sosial salah satu pembicara, Henry Foundation. Merasa pas dengan materi yang akan dibawakan, Niki pun tak ragu untuk mengikuti webinar di Soundfren Connect. Bahkan hingga saat ini, Niki sudah mengikuti 4 sesi webinar bersama Soundfren.

Bagi Niki, dengan mengikuti Soundfren Connect ia jadi banyak mendapatkan pengetahuan baru yang berkaitan dengan musik dan sebenarnya juga bisa diterapkan di hal-hal lain. Niki berharap agar Soundfren Connect bisa terus ada karena masih sangat jarang program sejenis yang menarik seperti ini. “Terima kasih buat Soundfren Connect yang menemani kehidupan selama pandemi!”

Tips Sukses Merilis Musik Digital

Apa saja yang harus disiapkan musisi untuk merilis karya dalam format digital?

Era digital membawa banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk tentunya di industri musik. Merilis album penuh dalam format fisik bukan lagi sebuah pencapaian wajib bagi para musisi untuk pembuktian eksistensinya. Saat ini, bermodalkan sebuah single, band kita sudah siap untuk “berlayar”. Formatnya tentu lewat rilisan digital.

Dengan merilis dan mendistribusikan karya kita secara digital, lagu kita akan bisa didengarkan di seluruh dunia via Digital Service Provider seperti Spotify, Joox, Deezer, Resso, Apple Music, dan lain sebagainya. Tidak ada lagi batasan jarak maupun waktu.  

Yang bikin lebih seru, di medium ini, tidak ada perbedaan antara musisi baru ataupun senior, semua memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai pendengar sebanyak mungkin. Meski kalau dilihat dari sisi sebaliknya, ini juga berarti kalau persaingan akan semakin ketat.

Dengan persaingan yang sangat ketat dengan ribuan lagu lainnya yang rilis setiap minggu, kita tentunya perlu strategi atau kiat-kiat khusus untuk membuat lagu kita didengar atau laku di pasaran. Misalnya dengan menyebarkan promo kit ke media-media, membuat promo campaign di sosial media, atau mungkin membeli slot iklan di instagram, Facebook, atau Youtube. 

Untuk itu, tentu kita harus lebih dalam lagi mengulik karakter dari masing-masing platform digital yang akan kita gunakan untuk melancarkan strategi kita. Spotify, Joox, Soundcloud, misalnya, semua punya audiensnya masing-masing. Begitu juga dengan instagram, Facebook, Twitter, semua punya karakter yang beda-beda. Jadi pastikan kita memanfaatkan saluran-saluran ini sesuai dengan karakter dan audiens yang kita sasar. 

Pada akhirnya, semuanya tentu dikembalikan kepada kualitas karya dan konsistensi masing-masing musisi. Namun, bagi siapa yang bisa memaksimalkan environment digital ini sebagai medium berkomunikasi, maka dia memiliki kesempatan besar untuk memenangkan persaingan.

Nah, kalau ingin tahu lebih banyak mengenai tips-tips sukses merilis karya kita dalam format digital, kamu wajib ikutan Soundfren Connect yang akan berlangsung 27 November 2020 ini. Akan ada Dahlia Wijaya (Country Manager Indonesia Believe Music) yang akan sharing tips dan pengalaman profesionalnya. 

Di sesi “Tips Sukses Merilis Musik Digital”, yang dipandu oleh moderator Bayu Fajri (musisi), ini kita akan membahas mengenai hal-hal seperti apa saja yang harus disiapkan dalam perilisan karya digital, bagaimana cara mengelola musik yang sudah kita rilis, sampai pentingnya konsistensi bagi musisi. 
Mantapkan, Fren? Makanya, langsung aja daftar via aplikasi Soundfren. Biayanya cuma 35 ribu rupiah, dan kamu udah bisa dapetin ilmu di sesi eksklusif ini, kesempatan berjejaring, dan e-certificate. Hanya akan tersedia 35 slot di sesi ini, so jangan sampai kehabisan yah, Fren! Langsung saja meluncur ke Soundfren, di mana semua kebutuhan bermusikmu dalam satu aplikasi. (Erick)

Terima Kasih Boomerang

Beberapa waktu lalu, band rock legendaris Boomerang dinyatakan bubar, banyak berbagai isu yang mewarnai isu bubarnya Boomerang. Apapun itu, terima kasih Boomerang atas kenangan manisnya!

Grup band yang kini beranggotakan Andi Babas (vokal), Hubert Henry Limahelu (bass), Farid Martin (drum) dan Tommy Maranua (gitar) menjadi sorotan usai postingan mantan gitarisnya, John Paul Ivan.

Gitaris dengan ciri khas rambut dan permainan ikonik itu sempat mengunggah postingan soal akhir kisah dan perjalanan dari band yang pernah digawanginya itu pada Senin 2 November 2020 di akun Instagram pribadinya, @i_am_john_paul_ivan.

“Doakan dan support selalu buat semua member yang sudah pernah singgah Didalam band. Tidak perlu menyalahkan ke ini dan itu, hargai saja keputusan/pilihan yang telah diambil oleh setiap member,” tulis caption dari postingan bergambar logo Boomerang berlabel “The End Of 1994-2020” itu.

“Biarlah nama dan karya yang sudah berjalan selama 26 tahun ini menjadi ‘Suatu Kenangan Terindah Yang Pernah Kalian Miliki Dan Rasakan’ Terima Kasih banyak buat semua yang selama ini sudah support dan setia,” tulis caption tersebut.

Kabar yang beredar soal bakal bubarnya Boomerang diawali dengan pernyataan sang drummer, Farid Martin dalam postingan Instagram pribadinya @gerilyaone_ yang menyebut dirinya telah resmi mengundurkan diri.

Apa lagu Boomerang favoritmu, Fren? Yuk share di Soundfren!

#BikinJalanLo Versi Local Trio

“Supaya yang denger lagu Local Trio makin banyak, kami coba untuk bawa ke platform digital salah satunya Soundfren – Local Trio”

Memiliki kesamaan senang menghibur di depan orang banyak dan terbiasa mengisi kekosongan menjadi awal dari terbentuknya Local Trio. Tak disangka, kini duo pop-funk asal Jakarta Selatan ini telah memasuki usia 7 tahun.

Selama tujuh tahun menapaki industri musik, Local Trio telah melahirkan beberapa karya musik dan menghiasi beragam panggung musik. Teranyar, Local Trio merilis single “Rindu” pada bulan Mei lalu. Bahkan Local Trio pernah berkolaborasi dengan penulis buku Ririe Bogar untuk single “Komentar Fisik Gak Asik”.

Tentunya bukan hal mudah bisa terus produktif melahirkan karya selama 7 tahun berjalan bersama di industri musik terlebih di tengah pandemi ini. Beruntung, kehadiran Local Trio didukung oleh kecanggihan teknologi yang masuk ke dunia musik. Teknologi seolah membantu pengagum dari Endank Soekamti ini untuk mengenalkan karya. Dengan terus mengikuti perkembangan zaman, Local Trio tak ragu untuk mengenalkan lagu-lagu mereka melalui platform digital.

Kehadiran Local Trio di dunia digital membuat karya mereka banyak didengar dan digemari hingga akhirnya terbentuk fan base yang dikenal dengan Local Squad. Sukses membuat Local Squad terpikat tak membuat Local Trio berhenti berinovasi dalam mengenalkan karya mereka. Beragam platform mereka jelajahi tak terkecuali Soundfren.

Local Trio menganggap bahwa Soundfren adalah aplikasi yang simpel tapi istimewa. Soundfren memiliki fitur untuk promosi karya dan memberikan Local Trio kesempatan manggung berskala nasional lewat Langit Musik dan Indie Air. Dengan begitu, penikmat karya Local Trio menjadi semakin banyak. Selalu mempesona untuk Soundfren dari Local Trio!

Fakta-fakta Misteri 27 Club Yang Harus Kamu Tahu

Sering denger tentang para musisi legendaris 27 Club, Fren? Awalnya, ’27 Club’ hanya dikaitkan dengan para musisi, namun kemudian meluas ke para aktor dan selebriti lainnya yang meninggal mulai dari kecanduan, bunuh diri, hingga kejadian misterius. Berikut ini deretan selebriti yang termasuk dalam ’27 Club’:

  • Robert Johnson. Tahun Agustus 1938, hanya beberapa hari setelah ulang tahunnya ke-27 tahun, Johnson pergi ke rumah istri pemilik rumah pertunjukkan tempatnya bermain musik, dia kemudian meminum whiskey di botol yang terbuka. Dia meninggal tiga hari kemudian karena keracunan strychnine dan pneumonia.
  • Brian Jones. Brian Jones meninggal di kampung halamannya di Inggris pada 1969 karena eksperimennya, yaitu mencampur alkohol dan narkoba dan kemudian berenang di kolam renang, lalu meninggal dunia. Namun, kematiannya dianggap janggal dan belum ada keterangan yang jelas tentang kisah sebenarnya.
  • Alan Wilson. Jenazah Alan Wilson ditemukan di halaman Hite pada 3 September 1970. Kedua tangannya menyilang di dadanya dan ada satu botol barbiturat di sampingnya.
  • Jimi Hendrix. Pada Jumat, 18 September 1970 dini hari, Jimi tinggal bersama kekasihnya di London. Dia meminum beberapa pil tidur. Tidak ada yang tahu pasti berapa pil yang diminumnya, namun diperkirakan hingga sembilan pil. Obat yang diminumnya adalah Vesparax, barbiturat yang kuat, jika minum setengah tablet, cukup untuk tidur selama delapan jam.
  • Janis Joplin. Sekitar pukul 1 dini hari pada 4 Oktober 1970, Janis menerima paket heroin dan menyuntikkannya ke lengan kirinya. Kemudian dia pergi ke mesin rokok di lobi hotel, kembali ke kamarnya dengan membawa paket. Kemudian, wajahnya berada di meja dan dia jatuh ke lantai kamar. Jasadnya ditemukan keesokan harinya.
  • Jim Morrison. Fakta lain dari kematian Jim Morrison adalah pacarnya juga meninggal di usia yang sama dengannya, yaitu di usia 27 tahun.
  • Ronald McKernan. Ronald sudah mulai minum alkohol sejak usianya 12 tahun. Dan di pertengahan usia 20 tahun, dia menderita penyakit hati kronis dan masalah kesehatan lainnya. Dia ditemukan dua hari setelah kematiannya di apartemennya di Corte Madera, San Francisco Bay tahun 1973.
  • Dave Alexander. Selama hidupnya, Dave berjuang melawan ketergantungan dan masalah kesehatan. Dia sangat suka minum alkohol hingga dilarikan ke rumah sakit. Saat dirawat, dokter menemukan paru-parunya sudah dipenuhi cairan dan dia meninggal karena edema paru pada Februari 1975.
  • Pete Ham. Meraih popularitas tak lantas membuat Pete bahagia. Dia menganggap kematian adalah satu-satunya solusi untuk menyelesaikan masalahnya. Pete Ham kemudian memutuskan untuk bunuh diri. 
  • Chris Bell. Pada Desember 1978, Chris mengalami kecelakaan mobil di mana sportcar miliknya Triumph TR-7 menabrak tiang di perjalanan menuju latihan bandnya.
  • Jean-Michel Basquiat. Seniman muda ini mengalami masalah serius dengan narkotika. Juan-Michel Basquiat mencampurkan opioid dan kokain dan meninggal dunia.
  • Mia Zapata. Mia mengalami kekerasan fisik saat meninggal dunia. Dia diperkosa, dipukuli, dan dicekik sampai meninggal pada Juli 1993.
  • Kurt Cobain. Tubuh Kurt Cobain ditemukan oleh teknisi listrik pada 8 April 1994. Dia dikabarkan melakukan bunuh diri.
  • Randy “Stretch” Walker. Randy menjadi target pembunuhan di Queens. Kurang dari setahun, dia ditembak secara fatal.
  • Jeremy Michael Ward. Jeremy ditemukan meninggal dunia karena overdosis heroin di kediamannya di Los Angeles pada Mei 2003, kematiannya kurang dari sebulan sebelum album debut bandnya, Mars Volta.
  • Jonathan Brandis. Mengalami depresi dan masalah psikologis, Jonathan memutuskan bunuh diri pada tahun 2003. Dia memulai karir aktingnya sejak usia enam tahun.
  • Amy Winehouse. Amy dikabarkan muak dengan karirnya dan meninggal dunia setelah menenggak vodka di rumahnya di London pada Juli 2011.
  • Anton Yelchin. Pada tahun 2011-2015, Anton telah muncul di 18 film. Dia meninggal karena menabrakkan mobilnya ke pilar batu bata.

Itu dia deretan selebriti yang harus kehilangan nyawa di usia 27 tahun. Temukan fakta lain tentang penggiat musik idola kamu di aplikasi Soundfren!