Menjadi Calon Musisi Profesional

Fren, menjadi musisi profesional tentu saja adalah tentang bagaimana kita untuk nggak pernah berhenti belajar. Tapi, selain itu kamu juga patut mengetahui beberapa hal lainnya, lho.

  • Membuka Networking. Selain belajar, musisi pemula juga harus banyak mengikuti event dan festival. Mengapa? Untuk meningkatkan popularitas, manggung bukanlah satu-satunya cara yang bisa kamu coba. Relasi juga sangat penting bagi musisi pemula untuk mendapatkan dukungan dan kerjasama yang bahkan bisa meningkatkan popularitasmu secara lebih efektif!
  • Bertanggung Jawab. Tanggung jawab tersebut bukanlah semata-mata sikap kamu ke pekerjaanmu saja. Tapi juga mengarah ke tanggung jawab kepada pemerintah. Ambil saja contoh bayar pajak, setiap musisi harus rajin membayar pajak agar pemerintah semakin mudah memberikan hak-hak musisi yang sepantasnya.
  • Jujur Pada Diri Sendiri. Para musisi pemula harus jujur pada diri sendiri karena identitas musik adalah hal yang terpenting. Jadi, jangan mudah terombang-ambing arus. Jika kamu memang senang bermain musik dengan genre tertentu, tetaplah konsisten pada genre-mu!
  • Mendengarkan Suara Hati Fans. Menyesuaikan musik dengan selera fans tanpa harus menghilangkan identitas band adalah cara ideal untuk bertahan di bisnis musik. Selain itu, bagi kamu para musisi pemula juga bisa memulai dengan memberikan sentuhan-sentuhan inovatif pada musik kamu. Jika ingin menarik perhatian fans, pastikan juga kamu memberikan penawaran khusus agar fans pun tertarik untuk mengecek musik kamu.
  • Jangan Ada Kata Menyerah. Enggak pernah menyerah dan latihan mati-matian adalah poin penting untuk semua musisi. Jika band yang sudah dikenal saja mati-matian ketika latihan, maka kamu sebagai musisi pemula juga harus melatih diri sebaik mungkin dan nggak boleh menyerah.

Untuk para musisi pemula yang ingin melaju terus di dunia musik, pastikan juga kamu memperhatikan tips-tips di atas dan sering-sering share pengalaman bermusik kamu di Soundfren ya! Jangan ragu untuk minta pendapat tentang karya musikmu dari sesama pengguna Soundfren, karena kritik atau masukan yang kamu dapat akan sangat berguna untuk kelanjutan karir bermusikmu, Fren!

#BikinJalanLo Versi Gilbert Pohan

“Kehadiran Soundfren sangat membantu saya untuk promosi. Gak hanya itu, Soundfren juga bikin saya bisa menjalin relasi dan koneksi baru dengan teman-teman di industri musik – Gilbert Pohan”

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Gilbert Pohan telah menaruh ketertarikan akan musik. Berbeda dari anak seusianya yang lebih tertarik melatih vokal, Gilbert fokus untuk mendalami gitar akustik. Sejak saat itu, ia terus mengembangkan diri di jalur musik.

Kini, Gilbert mulai memetik hasil dari usahanya sedari kecil. Banyak karya telah ia rilis. Sebagai solois, Gilbert telah meluncurkan album debut “Pesan Yang Tertunda” di tahun 2014 silam. Setahun berselang, single “Mimpi Kita” didapuk sebagai salah satu original soundtrack Filosofi Kopi The Movie. Ia juga merilis karya “Terjatuh & Tumbuh” pada tahun lalu. Di tengah pandemi, Gilbert tetap terus produktif dengan meluncurkan single “Engkau Ada”. Selain sebagai solois, bersama grup musiknya Arah, Gilbert terlibat dalam single “I Want To Rock n Roll” yang menjadi soundtrack dari film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.

Tak hanya di atas panggung, Gilbert juga aktif di balik layar sebagai penulis lagu, komposer, produser, dan vocal director. Sebagai composer dan produser, single “Loveless”, yang dibawakan oleh Alex Ramp menjadi salah satu hasil karyanya.

Kehadiran teknologi di industri musik memberikan kemudahan bagi Gilbert untuk menjalani karir di industri musik. Akses untuk produksi dan rilis karya jauh yang jauh lebih fleksibel menjadi salah satu alasan Gilbert terus mengikuti tren teknologi khususnya di bidang permusikan. Gilbert tak ragu untuk mencoba beragam platform digital guna memproduksi dan mempromosikan karyanya. Salah satunya lewat Soundfren.

Sebagai seorang musisi, Gilbert menyadari bahwa ia membutuhkan koneksi dan relasi yang bisa memberikan efek positif untuk karirnya. Bagi Gilbert, Soundfren bisa membantunya menemukan relasi dan menjalin koneksi dengan para pengguna musik dari beragam profesi yang ada di dunia musik. Gilbert yang pernah tampil di salah satu acara Soundfren, DiLo Hackathon Festival 2019 merasa bahwa Soundfren juga bisa menjadi wadah promosi dan publikasi untuk para musisi.

Dengan hadirnya Soundfren, promosi karya menjadi semakin mudah dilakukan. Gilbert berharap agar Soundfren dapat mempertahankan eksistensinya sebagai sosial media musik untuk para penggiat musik.

Berkenalan dengan Music Publisher

Seberapa penting sih karya kita dikelola oleh music publisher?

Ya, pertanyaan ini selalu muncul setiap kita ngomongin music publisher. Apa sih fungsinya? Perlu nggak sih? Seberapa penting sih music publisher? Bener nggak, Fren?

Jawabannya sebenarnya singkat aja: penting. Apalagi untuk kita para pencipta musik, kehadiran publisher ini akan sangat membantu meringankan kerja kita, plus membuka peluang untuk memberikan pemasukan tambahan.

Stephen Navin, Chief Executives Music Publisher Association, mengatakan bahwa musik dapat mengembara ke mana saja, didengar di mana saja, dipertunjukkan, dan direkam dengan berbagai cara.  Jadi jangan kaget, kalau pendapatan seorang komposer musik itu bisa dari mana saja.

Dan salah satu cara memaksimalkan pendapatan ini adalah jika karya kita dikelola oleh music publisheryang kompeten tentunya.

Sebelum lebih lanjut, kita bahas dulu, apa sih sebenarnya music publisher ini? 

Gampangnya, music publisher adalah pihak yang mengelola, mengadministrasi, dan mengekploitasi hak cipta. Mereka adalah pihak yang diberi kuasa oleh pemegang hak cipta untuk menangani lagu ciptaannya yang bersifat komersial. Mulai dari mengurusi Hak Reproduksi, Hak Distribusi, Hak Derivatif, sampai dengan Hak Performing Rights.

Music publisher ini bekerja di ranah lisensi dan pengelolaan royalty penggunaan musik. Jadi mereka yang akan membantu mengurus hak cipta lagu kita, mencarikan peluang, dan tentunya mendistribusikan hak royalti musik kepada pencipta musik yang menjadi anggotanya.

Kenapa kita nggak urus sendiri aja? Well, nggak semudah itu, Fren. 

Karena mengurusi publishing sendiri berarti kita perlu memiliki sumber daya yang cukup dan kompeten untuk mengeksploitasi semua hak tersebut sehingga hak cipta bisa optimal secara komersial. Yang bisa terjadi justru waktu dan tenaga kita akan habis untuk mengurus hal-hal administratif yang cukup kompleks, sementara energi itu seharusnya akan lebih produktif jika kita salurkan untuk berkreasi dan berkarya. 

Sehingga, dengan menyerahkan pengelolaan karya kita kepada music publisher, hidup kita akan lebih nyaman. Karena kita tidak perlu pusing-pusing untuk mengontrol lagu-lagu kita dipakai oleh siapa, diputar di mana saja, dan lain sebagainya, untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari karya kita, karena ini akan menjadi tugas music publisher. Tentunya ada pembagian hasil dengan presentase yang disepakati di awal perjanjian. 

Nah, bagaimana music publisher di Indonesia dan bagaimana cara kita mendapatkan music publisheruntuk karya-karya kita, semuanya akan dibahas di Soundfren Connect, Rabu (12/8) besok. Akan ada Aldri Dataviadi dan Ganjar Ariel Santosa dari Massive Music Entertainment yang berbagi informasi dan cerita.

Untuk kita, para pencipta lagu, jangan sampai kelewatan untuk ikutan webinar ini. Informasi detail mengenai teknis pendaftaran bisa dilihat di aplikasi Soundfren, sosial media musik andalan kita. Sampai ketemu di acaranya, Fren! (Erick)

Foto : https://images.app.goo.gl/7u9nAXBTsH4F6MmU6

Mengenal Jenis-Jenis Senar Bass

Fren, kalo kamu pemain bass, kamu patut mengetahui hal ini!

  • Senar Bass Berdasarkan Bahannya. Dalam perkembangannya, para produsen senar bass banyak melakukan eksperimen dengan menggunakan beberapa campuran logam yang berbeda-beda. Faktor inilah yang kemudian menjadi pembeda dari satu produsen senar dengan lainnya.
  • Senar Bass Berdasarkan Lapisan (Coating). Senar dengan menggunakan coating umumnya identik dengan suara yang berbeda dengan senar biasa tanpa lapisan pelindung. Namun majunya teknologi memungkinkan lapisan coating pada senar hanya pada kisaran nanometer saja, membuatnya terasa tak jauh berbeda dengan senar un-coated.
  • Jenis senar bass berdasarkan panjangnya (scale length). Untuk kamu ketahui, biasanya dalam bungkus senar bass tertulis empat macam scale length, yaitu short, medium, long scale, dan extra long scale. Senar short scale untuk bass dengan scale length 30 inci, medium scale untuk bass dengan scale length 32 inci, long scale untuk 34 inci, dan extra long 35 inci. Hal ini sering kali luput dari perhatian pemain bass saat membeli senar. Scale length begitu penting untuk diperhatikan karena bila kamu salah beli bisa saja senar tidak cukup panjang atau malah terlalu panjang untuk bass.
  • Jenis senar bass berdasarkan ukuran. Semakin besar ukuran senar bass, maka akan semakin keras tension-nya, dan semakin besar tenaga yang dibutuhkan. Untuk ukuran senar bass, kamu harus memperhatikan tuning yang digunakan. Ukuran besar bisa kamu pertimbangkan jika menggunakan tuning rendah pada bass. Begitu sebaliknya. Untuk jelasnya, kamu harus memperhatikan kemasan bass yang mencantumkan ‘light’, ‘medium’, ‘heavy’ untuk memudahkan mengetahui ukuran senar dalam kemasan.

Itu tadi bermacam jenis senar gitar bass yang harus kamu ketahui, khususnya bagi para pemain bass agar tidak salah beli, dan senarnya cocok untuk lagu yang dimainkan. Kamu bisa ngobrol banyak tentang senar gitar bass ini bareng temen-temen di Soundfren. Kalau kamu lagi cari atau mau jual senar bass, bisa langsung posting aja, Fren!

#BikinJalanLo Versi New17band


“Video clip dari lagu Rasa Yang Tlah Mati berhasil tayang di UseeTV dan membuat karya kami makin bisa dinikmati oleh banyak orang – New17band”

Dunia musik membuat masing-masing personel grup musik New17band menjadi diri mereka sendiri tanpa harus menjadi orang lain. Hal inilah mengapa mereka bergabung menjadi satu kesatuan yang sangat menyukai musik di New17band. Bagi grup musik asal Samarinda ini, siapa pun yang membuat musik menjadi aura positif itulah panutan mereka dalam bermusik.

Pandemi COVID-19 membuat strategi bermusik New17band mendadak berubah total. Tak ada lagi jadwal manggung yang padat merayap di setiap minggunya. Beruntung, kecanggihan teknologi membuat New17band bisa bertahan di tengah pandemi. Banyaknya konser maupun jamming-jamming daring hingga webinar interaktif permusikan yang diikuti masing-masing personelnya membuat mereka terus produktif dalam berkarya.

Teknologi sangat memudahkan New17band untuk mengarungi industri musik. Beragam platform musik digital mereka ikuti demi melancarkan karir di industri musik. Salah satunya dengan gabung di Soundfren.

Bagi New17band bergabung dengan Soundfren merupakan pencapaian yang lebih baik karena membuat karya mereka makin bisa dinikmati oleh siapapun. Terlebih setelah lolos submisi “Indie Air”, video musik “Rasa Yang Tlah Mati” bisa tayang di UseeTV dan ditonton banyak orang. Sebelumnya untuk menonton video clip ini hanya bisa dari YouTube. Hal ini membuat karya New17band menjadi lebih dikenal masyarakat luas.

New17band ingin agar Soundfren bisa selalu membuat terobosan baru untuk industri musik, membuat acara-acara yang menarik dan berkualitas. New17band juga berharap agar tampilan fitur-fitur di aplikasi bisa terus ditingkatkan dan makin banyak benefit untuk premium user Soundfren.


Ngobrolin Youtube Sampai Hak Musisi di Soundfren Connect

Bulan Juli ini, Soundfren baru aja ngadain dua edisi terbaru Soundfren Connect, Fren! Sesi mana nih yang sempat kamu ikutin?

Pada edisi perdana bulan Juli, Soundfren membuka 3 webinar interaktif di tanggal 19-20 Juli 2020. Kelas pertama dibuka oleh duo Glaskaca dan bekerjasama dengan Kuassa, Rayhan Noor dan Wisnu Ikhsantama yang bahas produksi musik dari rumah. Dilanjut oleh Komang Adhyatma dari Collab Asia yang bahas dunia per-YouTube-an  dan EQ Puradiredja yang mengulik tahapan pra produksi seperti milih lagu, bikin demo, sampai konsep produksi.

Seminggu berselang, 26-28 Juli ada 3 webinar interaktif lagi yang dibuka dengan topik dan pembicara yang berbeda. Di Soundfren Connect edisi ini ada webinar seputar hak-hak sebagai musisi bersama Wakil Ketua 1 PRISINDO, Chandra Christanto dan Indra Prasta dari The Rain. Gokilnya nih Fren, di sesi ini kedatengan juga Roby “Geisha”.

Kemudian ada juga sesi bareng Dimas Wisnuwardono dari Sound From The Corner yang bahas cara mendokumentasikan karya musik di era digital. Hari terakhir, Soundfren Connect kembali melanjutkan produksi musik di rumah dengan gitar kesayangan yang sudah dibahas oleh Rayhan Noor dan Wisnu Ikhsantama di sesi sebelumnya.

Kamu yang belum sempat ikutan webinar di Soundfren Connect bisa dengerin semua rekamannya lewat fitur Soundfren Play di aplikasi. Khusus sampai akhir Juli, kamu bisa dengerin Soundfren Play secara gratis, Fren! Kamu bisa dengerin semua podcast dari Soundfren Connect tanpa harus upgrade akun jadi Premium User. Pas banget nih buat nemenin hari-hari kamu, Fren!

Soundfren berencana untuk kembali menghadirkan Soundfren Connect dengan topik dan pembicara yang lebih banyak dan lebih seru di bulan Agustus nanti. Tunggu tanggal mainnya ya, Fren! Cek terus info-info penting Soundfren Connect lewat aplikasi Soundfren dan juga media sosial @soundfren ya, Fren!

Jenis-jenis Piano

Fren, mau mulai menekuni alat musik piano? Ketahui dulu jenis-jenis piano ini, Fren!

  • Grand Piano. Jenis piano yang satu ini bisa dibilang jenis piano sesungguhnya, yang juga termasuk jenis piano akustik. Konstruksi atau bahan dasar dari grand piano adalah kayu yang mengikap dengan berjumlah tuts 88. Piano ini memiliki kotak akustik yang ditidurkan, dengan deretan senar-senar yang diketuk hammer piano ditidurkan. Grand piano sering digunakan dalam sebuah pagelaran orkestra. Harga dari grand piano sangat mahal, dari puluhan hingga ratusan juga. Proses instalasi juga tidak bisa sembarangan.
  • Upright Piano.Konstruksi dari jenis piano ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan jenis grand piano. Tetap berkonstruksi kayu, dengan 88 tuts, serta kotak akustik dan senar-senarnya Yang membedakan upright piano dengan grand piano adalah posisi kotak akustiknya yang berdiri. Dengan konstruksi seperti ini, piano model ini menghemat tempat.
  • Digital Piano.Ini adalah jenis piano elektronik, namun memiliki rentang nada yang sama dengan piano akustik biasa. Model tuts juga sama, menggunakan tipe tipe gradded-hammer. Jadi, walaupun jenisnya sudah digital, namun efek penekanan tutsnya masih sama dengan piano akustik, berat dan seperti mengetukkan palu ke senar-senar nada. Kamu bisa mencoba jenis piano ini dalam Roland RD-700 dan RD 300. Atau juga bisa kamu mainkan Yamaha seri Clavinova.
  • Keyboard.Sekilas keyboard dan digital piano memang mirip. Bahkan sama-sama jenis piano elektronik. Namun begitu tetap ada perbedaannya antara digital piano dan keyboard. Yang paling mencolok adalah model tuts-nya. Keyboard tidak menggunakan gradded hammer, melainkan model touch response. Ini artinya efek seperti mengetukkan palu tidak bisa kamu rasakan, karena itu tuts keyboard jauh lebih ringan untuk ditekan. Rentang nada yang dimiliki juga lebih sedikit, hanya sepanjang 61 nada. Akan tetapi keyboard memiliki kelebihan dalam memproduksi suara dari berbagai bermacam jenis alat musik. Variasi irama dalam keyboard juga banyak, sehingga kamu bisa seperti bermain dalam satu kesatuan full band. Contoh yang populer adalah Yamaha seri PSR, atau Roland seri E.
  • Organ.Organ lebih cenderung memainkan akord, jadi pemain organ tidak perlu susah-susah memikirkan melodi, karena bagian melodi sudah menjadi jatahnya pianis. Organ memiliki dua jenis, yaitu organ pipa (orgel) dan organ elektronik (electone).  Organ pipa memiliki deretan tuts lebih dari satu, dan tombol analog yang sangat banyak. Organ pipa sendiri memiliki pipa-pipa raksasa. Sementara organ elektronik deretan tutsnya kebanyakan 2 baris dan pedal kaki (pedalboard) sangat banyak.

Itu tadi beberapa jenis piano dari yang klasik hingga yang modern. Mungkin saja piano akan mengalami perkembangan lagi di masa depan nanti. Kamu bisa sharing seputar piano bareng temen-temen di Soundfren. Yuk, cek aplikasi Soundfren kamu sekarang!

#BikinJalanLo Versi Grady Legacy

“Soundfren, hadirmu membuat musisi semakin beken! – Grady Legacy”

Musik sudah mendarah daging dalam diri Grady Legacy. Awalnya, ia hanya ikut mendengarkan musik saat mendiang sang kakak memutar lagu-lagu melalui Video CD. Terbiasa mendengarkan musik membuat Grady tertarik untuk mendalaminya khususnya mengenai permainan gitar. Apalagi saat itu, Grady banyak melihat aksi gitar dari musisi idolanya, Steve Vai.

Grady semakin serius untuk mempelajari gitar. Keseriusannya berbuah manis, ia sering mendapatkan penghargaan best guitar player pada kompetisi musik antar SMP. Puncaknya, saat ia duduk di bangku kelas X SMA di tahun 2009, Grady memberanikan diri untuk mengikuti kompetisi gitar online yang diadakan Gitar Plus. Tekad Grady untuk ikut kompetisi semakin bulat saat ia tahu bahwa hadiah utama berupa satu set gitar. Selama ini Grady tak memiliki satu pun gitar pribadi meski telah bermain gitar sedari SMP. Keadaan ekonomi keluarga membuatnya tak bisa membeli gitar saat itu. Keinginan Grady untuk memiliki gitar akhirnya terwujud usai ia dinyatakan sebagai pemenang kompetisi tersebut.

Usai memiliki gitar sendiri, ambisi bermusik penggemar Tuan Tigabelas ini semakin besar. Grady terus memperdalam keahlian bermusiknya. Grady pernah bermimpi untuk bisa masuk dapur rekaman dan memiliki video musik sendiri. Semangat dan kerja kerasnya berbuah hasil. Kini, ia sedang dalam proses pembuatan video musiknya yang keempat. Bahkan video musiknya yang berjudul “Gigih” ditayangkan UseeTV melalui program “Indie Air” usai Grady keluar sebagai salah satu musisi terpilih dari submisi yang diadakan oleh Soundfren.

Selama bermusik, banyak pencapaian yang telah Grady raih. Ia banyak memenangkan beragam penghargaan musik dari tingkat sekolah hingga nasional, memiliki video musik sendiri, hingga memiliki penggemar. Hal ini tak membuatnya berpuas diri. Di tengah kecanggihan teknologi yang berkembang begitu pesat, Ia selalu memperbaiki kualitas bermusiknya apapun situasi dan kondisinya.

Selain terus berbenah dalam produksi karya musiknya, Grady juga aktif menambah relasi dan koneksi bermusik, salah satunya dengan bergabung di Soundfren. Pilihannya bergabung dengan Soundfren tak salah, ia merasa sangat terbantu untuk mempublikasikan karya-karyanya. 

Bagi Grady, Soundfren merupakan aplikasi yang sangat spesifik sebagai wadah untuk penggiat musik. Di Soundfren, ia bisa sharing tentang alat musik, recording, kompetisi, edukasi seputar musik, sampai event musik. Tentu ini sangat membantu Grady untuk mengenalkan karya musiknya lebih luas lagi.

Grady berharap dengan hadirnya Soundfren, semua karya musiknya bisa semakin tersebar luas, ia ingin Indonesia bisa mendengar karyanya.  Grady juga berharap agar Soundfren selalu memberikan kesempatan untuk musisi indie seperti dirinya agar bisa menjadi musisi besar. Karena mimpinya dan banyak teman-teman musisi ialah bisa hidup dari karya dan berkontribusi untuk dunia musik.