Fakta Bermusik Bagi Kesehatan

Fren, selain sebagai sarana untuk menyalurkan hal yang kamu senangi, bermusik juga punya banyak manfaat buat kesehatan.

  • Meningkatkan konsentrasi. Saat mempelajari suatu instrumen atau alat musik otakmu dituntut untuk fokus sehingga konsentrasi jadi meningkat.
  • Melepaskan stres. Banyak studi menyebut bermain alat musik dapat mengurangi rasa sakit serta stres sehingga bisa menjaga kesehatan mental.
  • Melawan alzheimer dan demensia. Musik banyak digunakan di panti jompo untuk terapi karena banyak studi menyebut musik bisa memperkuat memori dan ingatan.
  • Menyeimbangkan otak kiri dan kanan. Belajar instrumen seperti biola, gitar, bahkan piano turut melatih otak kiri dan kanan agar bekerja secara seimbang.
  • Membuat tubuh rileks. Banyak studi menunjukkan bahwa mendengarkan musik yang menenangkan bisa membuat tubuh lebih rileks.
  • Memperbaiki suasana hati. Penelitian McGill University Montreal menyebut musik dapat memicu pelepasan hormon dopamin yang berhubungan dengan perasaan senang.

Jadi buat kamu yang sering dengerin musik ini merupakan sebuah fakta yang menyenangkan bukan? Temukan fakta-fakta seputar musik lainnya di Soundfren.

#BikinJalanLo Versi Niki Ariestya

“Terima kasih buat Soundfren Connect yang menemani kehidupan selama pandemi! – Niki Ariestya

Kebahagiaan saat mendengarkan musik membuat Niki Ariestya menjadi gemar mengulik lagu. Dengan banyak belajar dari internet, Niki banyak mengulik lagu-lagu musisi favoritnya. 

Dengan berawal dari sering mendengarkan musik, mengulik lagu musisi idola, dan menonton konser-konser musik, Niki kini menjadikan musik sebagai salah satu sumber penghasilannya. Mengelola semacam komunitas dan festival musik menjadi rutinitas Niki sekarang. Dari pekerjaannya ini, Niki jadi mendapat banyak pengetahuan baru. Ia juga jadi tahu jika ternyata industri musik tidak hanya bermain musik atau ngeband, tapi ada banyak hal-hal di belakang layar yang menarik minatnya.

Kecintaan Niki pada musik membuatnya selalu semangat mempelajari hal-hal baru tentang musik. Niki banyak mengikuti sesi webinar salah satunya lewat Soundfren Connect yang infonya ia dapatkan dari media sosial salah satu pembicara, Henry Foundation. Merasa pas dengan materi yang akan dibawakan, Niki pun tak ragu untuk mengikuti webinar di Soundfren Connect. Bahkan hingga saat ini, Niki sudah mengikuti 4 sesi webinar bersama Soundfren.

Bagi Niki, dengan mengikuti Soundfren Connect ia jadi banyak mendapatkan pengetahuan baru yang berkaitan dengan musik dan sebenarnya juga bisa diterapkan di hal-hal lain. Niki berharap agar Soundfren Connect bisa terus ada karena masih sangat jarang program sejenis yang menarik seperti ini. “Terima kasih buat Soundfren Connect yang menemani kehidupan selama pandemi!”

#BikinJalanLo Versi Meyanne Rasita

“Dengan join webinar di Soundfren Connect yang bikin aku dapat insight bagus dan relasi baru – Meyanne Rasita”

Ketertarikan Meyanne Rasita pada musik sudah muncul sejak kecil. Meyanne kecil gemar mendengarkan musik serta menyaksikan konser lewat DVD. Sejak saat itu juga, Meyanne mulai mempelajari alat-alat musik.

Kecintaan Meyanne pada musik berlanjut hingga saat ini meskipun ia tak terjun langsung di panggung musik. Di dunia kerja, penggemar dari The Corrs ini sibuk di balik layar untuk mengurusi kontrak sebuah label musik. Ia mempersiapkan kontrak untuk client dari record label Darlin’ Records.

Walaupun tidak langsung terlibat di panggung musik, Meyanne tetap terus berusaha meningkatkan pengetahuan dan wawasan bermusiknya. Di tengah pandemi ini, Meyanne mengaktualisasi diri dengan mengikuti beragam webinar salah satunya lewat Soundfren Connect.

Meyanne mengetahui Soundfren Connect lewat salah seorang teman yang sebelumnya pernah bergabung di salah satu sesi. Tak hanya satu sesi yang Meyanne ikuti, ia ketagihan untuk memperluas wawasan bermusiknya dengan bergabung dalam beberapa sesi. 

Dengan bergabung dalam webinar Soundfren Connect, Meyanne merasa ia mendapatkan pandangan baru dalam bermusik. Selain itu, Soundfren Connect juga menjadi ajang menambah relasi. 

#BikinJalanLo Versi Bassrange Music

“Lewat beragam fitur di aplikasi, membuat kami terasa mudah untuk menambah wawasan bermusik serta membangun relasi – Bassrange Music”

Melihat teman-teman di bangku SMP bisa dengan begitu mahir memainkan gitar membuat Az-Zahir tertarik untuk bisa memetik gitar. Di kelas 9 SMP, akhirnya ia memutuskan untuk mempelajari musik khususnya gitar. Sebelumnya ia tidak pernah belajar musik seserius itu.

Hingga kini, musik seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya. Usai lulus dari SMA, Az-Zahir melanjutkan pendidikannya di Universitas Pendidikan Indonesia dengan menempuh jurusan Pendidikan Seni Musik. Di kampus, ia bertemu dengan teman-teman yang memiliki minat yang sama di musik hingga akhirnya lahir sebuah grup musik bernama Bassrange Music.

Bassrange Music hadir dengan memberikan nuansa baru untuk industri musik. Dengan menggabungkan aransemen alat musik modern dan tradisional dalam beberapa karyanya, Bassrange Music menambah semarak warna musik Indonesia. Dengan dukungan teknologi yang semakin maju bukan persoalan yang menyulitkan Bassrange Music untuk memiliki konsep musik seperti ini.

Bagi Bassrange Music, industri musik saat ini sudah punya pasarnya masing-masing. Dalam arti sudah memiliki pendengarnya masing-masing. Bassrange Music telah memiliki pasar sendiri dengan identitas yang mereka miliki dan jaga selama ini.

Dengan semua personel yang masih berstatus mahasiswa, Bassrange Musik tak melewatkan submisi Liga Musik Kampus 2020 yang diadakan di Soundfren. Dalam submisi ini, Az-Zahir dkk sangat totalitas dalam membuat konsep hingga produksi video musik. Usaha keras Bassrange Music akhirnya mengantarkan mereka ke panggung juara Liga Musik Kampus 2020. Sebuah pencapaian paling berkesan bagi grup musik yang bermarkas di Bandung ini.

Usai sukses di Liga Musik Kampus 2020, Bassrange Music tak berhenti untuk terus berkarya. Di Soundfren, Az-Zahir dkk terus menggali beragam fiturnya untuk menambah wawasan serta membangun relasi dengan para penggiat musik. Bassrange Music berharap Soundfren dapat menjangkau lebih luas musisi-musisi serta penggiat musik di Indonesia.

Dibalik Lagu “Barcelona” dari Fariz RM

Fren, pastinya banyak dari kalian yang udah akrab denngan legenda hidup satu ini. Yap, Fariz Rustam Munaf atau lebih akrab disapa Fariz RM adalah seorang musikus dan penyanyi senior tanah air. Namanya melambung di era 80-an. Beberapa karyanya yang terkenal yaitu Barcelona, Nada Kasih, Panggung Perak, dan Sakura. Hingga saat ini, lagu-lagu ciptaan Fariz pun masih sering dinyanyikan penyanyi lain.

Karier profesionalnya diawali tahun 1977, bersama Adjie Soetama, Raidy Noor, Addie MS, dan Ikang Fawzi yang juga telah berteman dengan Fariz sejak duduk di bangku SMAN 3 Jakarta. Fariz menjajal kemampuannya di Lomba Cipta Lagu Remaja yang diadakan Radio Prambors. Langkah pertamanya ini berhasil membawanya duduk manis di urutan ketiga. Tawaran band pun mulai datang menghampirinya.

Fariz melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung dengan mengambil fokus studi Seni Rupa. Di samping menimba ilmu, Fariz juga memperdalam teknik bermusiknya. Ia menjadi keyboardist pengganti di band beraliran rock, Giant Step. Selain itu, Fariz juga mengisi posisi drummer untuk band rock The Rollies. Musisi multitalenta ini juga dipercaya untuk mengiringi kelompok musik asal Bandung pimpinan Harry Roesli tahun 1979 silam.

Selang setahun, Fariz merilis album Sakura. Tidak tanggung-tanggung, dirinya memainkan drum, gitar, keyboard, bass, hingga perkusi sendirian. Dengan warna musik yang fresh dan groovy, album tersebut sukses besar. Nama Fariz RM pun semakin melambung. Selain lagu Sakura, lagu berjudul Barcelona menjadi salah satu mahakarya dari seorang legenda hidup bernama Fariz RM. Banyak orang menebak-nebak makna lagu Barcelona. Sebenarnya, menurut Fariz, cerita Barcelona tidaklah rumit. Lagu itu hanya bercerita tentang perspektif cinta dari orang Barat dan Timur.

Fariz sendiri menyaksikan perbedaan perspektif itu kala mendapatkan beasiswa kuliah singkat penyutradaraan dan produser di Barcelona, Spanyol, pada 1987. Di kampus, ia kenal dengan pasangan muda bernama Jerome Rodriguez asal Filipina dan Margaret Ferrier asal Inggris. Jerome galau setengah mati ketika kuliah singkat akan berakhir, karena artinya ia akan berpisah dengan Margaret. Sakura dan Barcelona kemudian menjelma jadi lagu paling hit dan lagu wajib Fariz saat manggung. Fariz sendiri takut dipukuli orang bila manggung tak membawakan dua lagu itu

Itu dia sedikit cerita di balik kesuksesan Fariz RM, temukan beragam fakta seru lainnya dari musisi favorit kamu di aplikasi Soundfren!

#BikinJalanLo Versi Septian Rahman

“Soundfren Connect telah memperluas cakrawala pengetahuan saya tentang dunia musik – Septian Rahman”

Septian Rahman mulai mengenal musik saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Di sana, ia dipertemukan dengan teman-teman yang memiliki minat sama pada musik. Sejak saat itu, Septian dan musik menjadi tak terpisahkan.

Septian yang menaruh minat pada gitar, fokus untuk memperdalam kemampuannya untuk menjadi seorang gitaris. Penggemar dari band Kotak ini tak henti untuk terus belajar dan belajar. Meski di tengah pandemi, Septian tetap terus mencoba produktif dan berkarya.

Bagi Septian, sejak mengenal musik, ia menjadi lebih banyak teman. Musik adalah bahasa universal yang mempertemukannya dengan banyak orang. Pandemi yang membuat kegiatan menjadi terbatas dan lebih sering berada di rumah, tak membuat Septian kehilangan akal untuk terus membangun relasi dan berkoneksi.

Septian mencoba melirik aplikasi Soundfren yang ia harapkan bisa menambah teman baru yang bisa ia ajak untuk berkolaborasi nantinya. Ternyata, bukan hanya sekedar koneksi yang ia dapat. Musisi asal Banjarmasin ini mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman baru setelah mengikuti webinar di Soundfren Connect.

Soundfren Connect telah membuka cakrawala pengetahuan tentang dunia musik yang lebih luas untuk seorang Septian. Tak ayal, ia rutin mengikuti sesi-sesi yang dihadirkan. Septian berharap agar ke depannya Soundfren dapat menjangkau lebih banyak lagi pengguna lewat fitur-fitur yang ada di dalamnya. Karena semakin banyak pengguna maka akan semakin banyak juga relasi yang terjalin serta kolaborasi yang lahir.

Fakta Hildur Guðnadóttir, Komposer di Balik Scoring Film Joker

Buat kalian yang lagi menggeluti musik scoring, kalian musti tau komposer yang satu ini. Film Joker adalah salah satu mahakarya miliknya!

  • Biografi Singkat. Hildur Ingveldardóttir Guðnadóttir lahir di Reykjavík sebuah daerah di Islandia pada 4 September 1982. Ia merupakan seorang komposer dan musisi. Instrumen yang jadi ciri khasnya adalah cello, meski ia juga mendalami perkusi. Saat ini ia berusia 37 tahun, dengan rekam jejak yang cukup panjang di industri musik. Selain bermain musik dan jadi komposer, Hildur juga merupakan penyanyi, yang tertuang dalam beberapa karya kolaborasinya dengan musisi lain.
  • Hildur dan Chernobyl. Salah satu karya yang membuat namanya disegani dunia adalah scoring film Chernobyl (2019). Di penghargaan Primetime Emmie Awards, Hildur memenangkan Outstanding Music Composition for a Limited Series, Movie, or Special berkat scoring-nya itu. Di tahun 2018 ia juga meraih dua penghargaan lainnya yakni Best Music (Journey’s End) di Beijing International Film Festival dan Best Original Score Asia Pacific Screen Awards di film Mary Magdalene.
  • Hildur dan Joker. Hildur Guðnadóttir menulis beberapa lagu untuk lagu tema film Joker. Beberapa di antaranya adalah Main Theme, Defeated Clown dan Call Me Joker. Bebunyian cello mendominasi scoring Hildur, dengan nada-nada yang menyayat hati dan pikiran. Pendalaman yang ia lakukan cukup misterius dan mengalir begitu saja. Ia tak memungkiri hal yang ia rasakan sangat kuat dan di saat itulah ia yakin sedang membuat karya yang sesuai keinginannya.

Itu dia beberapa fakta dari Hildur, Fren. Buat kamu yang mau tahu fakta-fakta tentang penggiat musik idolamu silahkan meluncur langsung ke aplikasi Soundfren. Karena semua kebutuhan bermusiknya ada dalam satu aplikasi, Fren!

Fakta Musik Dangdut

Ya, walaupun musik dangdut jarang disukai anak muda karena terkesan ‘nggak keren’ tapi kamu nggak bisa memungkiri, Fren kalo musik dangdut bisa bikin cair suasana. Bahkan, beberapa pemandu karaoke alias DJ Karaoke di festival musik juga banyak, lho yang muterin musik dangdut, Fren!

  • Pendapat Ahli Dangdut dari Amerika. Meskipun asli Indonesia, tapi ahli Dangdut adalah orang Amerika, yaitu Profesor Andrew Weintraub. Dia melakukan penelitian seluk beluk musik dangdut sejak tahun 1984 saat dia masih kuliah program sarjana. Hasil karyanya tentang musik dangdut bisa kamu baca lewat buku yang berjudul “Dangdut, Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia.”
  • Dangdut Bisa Bikin Sehat dan Gembira. Goyangan dalam lagu dangdut membuat kamu berasa seperti sedang berolahraga sambil menikmati musik dangdut. Selain bikin kamu keringatan, bisa membuat jantung lebih sehat. Tak cukup bikin keringatan, lirik lagu dangdut sering membuat kamu untuk melupakan masalah sejenak dan bersenang-senang dengan mengajak bergoyang menikmati setiap alunan nadanya. 
  • Senjata pemanggil massa. Dangdut sangat berguna untuk mengumpulkan massa. Mulai dari acara pernikahan di desa, syukuran sampai acara yang berbau politik. Tinggal undang penyanyi dangdut yang sedang hits saat ini, sediakan tempat dengan panggung yang luas, dan yang paling penting gratis. Dijamin banyak massa datang dengan senang hati.
  • Musik sejuta umat. Nggak hanya jadi identitas negeri, dangdut juga bisa membuktikan bahwa musiknya bisa mendunia dan menjangkau segala kalangan masyarakat. Tak hanya itu, dangdut secara konsisten selalu hadir di televisi Indonesia. Buktinya aja sekarang semua acara televisi pasti ada joget dengan lagu dangdut dan banyak yang mulai ketagihan dengan musik ini.
  • Musik asli Indonesia. Memang, tak semua orang Indonesia menyukai lagu dangdut, tapi harus diakui bahwa ‘dangdut is the music of my country’. Musik pop, rock, jazz sebenarnya bukanlah milik Indonesia, yang asli Indonesia ya dangdut. Unsur-unsur yang terkandung di dalamnya adalah campuran dari musik Melayu, India, dan Arab karena dulunya banyak pedagang Arab yang membawa musik gambus dan qasidah. Dengan transformasi yang perlahan-lahan, musik dangdut menemukan bentuk sesungguhnya seperti yang didengar sekarang.

Nah, gimana Fren tertarik buat cobain musik dangdut? Kalau kamu minat buat bikin musik dangdut tapi belum punya partner yang klop, sok monggo bikin postingan “Collaboration” di aplikasi Soundfren! 

#BikinJalanLo Versi Riko Bobot

“Soundfren Connect bisa jadi bekal saya dalam menciptakan karya atau tampil di panggung-panggung musik suatu hari nanti – Riko Bobot”

Berawal dari hobi menyanyi, Riko Bobot mulai tertarik mendalami musik. Saat remaja, ia beberapa kali tampil baik solo, band, maupun paduan suara. Jalan bermusik Riko tak selalu indah, penggemar dari Afgan, Yovie Widianto, Shawn Mendez, dan Billie Eilish ini pernah gagal dalam mengikuti audisi ajang pencarian bakat menyanyi di tanah air.

Meskipun saat ini Riko tidak berprofesi di bidang musik, tapi baginya musik sudah menjadi bagian dalam hidup. Riko terus mencoba belajar dan mengenal industri musik. Besar keinginannya untuk bisa merilis karya sendiri. Salah satu agenda yang ia ikuti untuk menambah pengetahuan bermusiknya dan mewujudkan impiannya ialah lewat Soundfren Connect.

Berawal dari melihat promo Soundfren Connect di platform Instagram, Riko tertarik untuk bergabung bersama praktisi musik dan penggiat musik dalam satu webinar. Hingga kini, tercatat Riko telah mengikuti 3 sesi Soundfren Connect.

Dari Soundfren Connect, Riko banyak mendapat ilmu baru soal industri musik dan mengenal lebih jauh lagi tentang musik. Dengan mengikuti Soundfren Connect, menambah bekal Riko untuk bisa memiliki karya sendiri suatu hari nanti, berkesempatan ambil bagian dari acara-acara musik, dan jadi musisi terpilih di submisi Soundfren.

Membangun Citra Musisi dalam Bermusik

Selain membuat lagu atau karya, hal yang perlu diperhatikan seorang musisi adalah membangun citra.

Setiap penikmat musik dan pelaku musik (musisi) pasti memiliki idola mereka masing-masing. Sampai ada yang membayangkan ingin menjadi seperti idolanya tersebut di kemudian hari. Idola atau influence dari setiap orang pun memiliki ciri khas dan karakter mereka masing-masing.

Lalu, bagaimanakah supaya bisa mencapai posisi seperti idola kita? Tentu saja banyak hal-hal yang perlu dipelajari dari karakter idola kita tersebut, salah satunya dengan membangun citra diri sebagai musisi.

Ya, membangun citra diri sebagai musisi dalam bermusik merupakan bagian dari hal yang terpenting, supaya para penikmat karya (penggemar) bisa mengenal ciri khas dan karakter yang kita punya. Salah satunya adalah attitude dalam bermusik.

Selain karya yang kita punya, penggemar akan selalu melihat sisi pribadi kita (attitude) yang kita perlihatkan kepada publik. Maka bentuklah attitude kamu dengan baik, karena jika sampai salah menujukkan attitude dengan baik, bisa-bisa penggemar menilaimu tidak sesuai dengan harapan kamu.

Kemudian, buatlah image atau karakter yang bisa membuat penggemar kamu selalu mengingat ciri khas yang kamu tampilkan. Boleh sesuai dengan idola yang kamu idolakan atau membuat karakter diri kamu sebenarnya (natural), tergantung kenyamanan kamu dalam membentuk karakter tersebut.

Membuat image juga bisa diaplikasikan melalui fashion atau gaya berpakaian. Tetapi, jangan asal memilih fashion lho. Sesuaikanlah fashion atau gaya berpakaian kamu dengan musik yang kamu mainkan.

Untuk tau lebih dalam lagi mengenai cara membangun citra sebagai seorang musisi/band dalam bermusik, kamu harus ikutan Soundfren Connect, Senin, 21 September 2020 mendatang. Bakal ada Luks Superglad (Superglad dan Kausa) yang berbagi tips dan pengalamannya. Webinar ini akan dimulai pukul 19:30 wib dan dipandu oleh Deyuri sebagai moderator. 

Langsung aja daftar di aplikasi Soundfren ya! Biayanya cuma 35 ribu rupiah. Murah kan? Emang cuma Soundfren yang paling ngerti musisi. Pas banget kayak tagline-nya: “Semua Kebutuhan Bermusikmu dalam Satu Aplikasi”

Untuk info lebih lengkap tentang berbagai sesi Soundfren Connect, langsung aja intip di aplikasi Soundfren sekarang juga ya, Fren! (Madava)