Meremang Jiwa Dalam Balutan Lagu Jawa

#FrenInfo


Fren, nggak semua orang ngerasa happy di bulan penuh cinta ini. Ada juga teman-teman kita yang memilih menenggelamkan dirinya dalam kesedihan. Salah satu caranya adalah dengerin lagu sedih berulang-ulang. Apalagi dengerin lagu lagu sang Maestro, Didi Kempot.

Lord Didi Kempot, seniman Sala, Jawa Tengah, yang juga berjuluk The Godfather of Broken Hearts tentunya sudah sangat dikenal di kalangan masyarakat lewat lagu-lagunya yang menyanyat hati. Dalam asmaradana, semuanya terasa indah, menggebu, membuai. Harapan seolah jadi kepastian, dan berpisah adalah pengingat kelam agar dihindari, tak perlu terjadi.

Asmaradana dapat melantingkan pemilik hati ke mega demi mega, aras demi aras, terus ke atas. Asmaradana nan memabukkan juga dapat membanting pemilik hati ke tanah kenyataan. Menyakitkan. Tak ada jamu penawar luka bindam maupun tersayat. Tapi tembang Didi Kempot dapat mengurangi rasa sakit.

Temukan info-info lain terkait musik hanya di Soundfren!

Musisi Dunia yang Terpapar Isu Mental Health

#FrenInfo

Fren, seniman juga manusia. Ada kalanya, mereka kelihatan ceria di atas panggung, padahal mungkin lagi mengalami banyak masalah dalam hidupnya. Ada beberapa musisi yang mengalami isu mental health. Apalagi jadwal manggung yang nggak pernah putus kadang bikin mereka susah bergaul. Maka dari itu, kita harus menghargai setiap torehan karya yang mereka hasilkan. Setuju, Fren?

  • John Lennon.Musisi jenius, John Lennon menderita gangguan mental yang membuatnya sulit membaca, menulis dan mudah melupakan sesuatu. Namun hal ini justru membuatnya untuk rajin menulis frame lirik setiap lagu dan mengolahnya jadi karya fenomenal.
  • Demi Lovato.Demi Lovato mengidap bipolar disorder sejak tahun 2010. Namun itu tak membuatnya menyerah dalam bermusik. Demi Lovato memiliki emosi yang nggak stabil akibat dari tekanan psikologis yang ia derita. Namun berkat kekurangannya tersebut, Demi mampu mencipatakan karyanya lewat lagu.
  • Rihanna. Rihanna ternyata memiliki gangguan mental Attention Deficit Disorder (ADD) yang membuatnya merasa selalu dicintai dan diperhatikan. Namun hal ini membuat Rihanna selalu percaya diri dan nggak menghiraukan penilaian orang lain atas karyanya.
  • Adam Levine. Vokalis Maroon 5 ini memang tengah berada di puncak popularitas musik dunia. Selain bersuara emas, Adam Levine juga memiliki wajah tampan dan tubuh atletis yang membuatnya digilai kaum hawa. Siapa sangka, Adam Levine ternyata menderita gangguan kejiwaan yang membuatnya tak bisa diam dan cederung hiperaktif. Namun hal itu membuatnya selalu enerjik di panggung. Adam juga terlibat dalam kampanye membantu pederita gangguan mental lainnya.
  • Kurt Cobain. Walaupun sudah meninggal dunia, ikon musik rock dunia ini masih tetap dikenang masyarakat. Coabin menderita Attention Deficit Disorder (ADD) dan gangguan bipolar disorder. Hal ini membuat ia depresi dan mencoba bunuh diri sampai akhirnya ia tewas setelah menembak dirinya sendiri.

Temukan info-info lain terkait musik hanya di Soundfren!

8 Musisi yang Pernah Berada dalam Jeruji

Musisi dalam Jeruji

Fren, tanpa bermaksud menyudutkan, hanya ingin menegaskan bahwa dibalik kehebatan para maestro musik ini, mereka juga manusia biasa yang kerap melakukan kesalahan. Namun, karya besar mereka adalah monumen yang akan selalu diingat sepanjang sejarah musik tanah air.

  • Ahmad Dhani. Pentolan Dewa ini divonis 1,5 tahun oleh Majelis Hakim PN Jakarta Selatan Januari 2019. Dhani dinyatakan bersalah melakukan ujaran kebencian lewat media sosial dan langsung dijebloskan ke Penjara Cipinang.
  • Koes Plus. Dipenjara tanpa proses persidangan dengan tuduhan meracuni jiwa generasi muda dengan musik ngak-ngik-ngok. Dipenjara pada 29 Juni kemudian dibebaskan 29 September 1965.
  • Sammy Simorangkir. Mantan vokalis Kerispatih ini divonis setahun penjara pada Juni 2010 setelah kedapatan mengonsumsi sabu-sabu di kediamannya.
  • Yoyo. Berselang satu tahun dari kasus Sammy, Yoyo dijebloskan ke penjara karena mengonsumsi narkoba jenis sabu.
  • Fariz RM. Telah 3 kali ditangkap  karena kasus narkoba. Tahun 2007, 2015, dan 2018, Fariz harus menjalani hari-hari dari balik jeruji besi.
  • Ahmad Albar. Rocker gaek dari God Bless ini divonis 8 bulan penjara pada 25 Juni 2008 karena penggunaan narkoba. Selain itu, ia juga dituduh bersekongkol dengan buronan kasus narkoba.
  • Ariel. Divonis 3,5 tahun pada Januari 2011 setelah video rekaman percintaannya dengan Luna Maya dan Cut Tari tersebar luas di internet.
  • Andika. Mantan vokalis Kangen Band dibui pada tahun 2011 karena kasus narkoba. Di tahun 2013, Andika kembali mendekam di penjara karena membawa kabur seorang gadis di bawah umur.

Temukan fakta-fakta menarik seputar industri musik lainnya di Soundfren!

Terima Kasih Boomerang

Beberapa waktu lalu, band rock legendaris Boomerang dinyatakan bubar, banyak berbagai isu yang mewarnai isu bubarnya Boomerang. Apapun itu, terima kasih Boomerang atas kenangan manisnya!

Grup band yang kini beranggotakan Andi Babas (vokal), Hubert Henry Limahelu (bass), Farid Martin (drum) dan Tommy Maranua (gitar) menjadi sorotan usai postingan mantan gitarisnya, John Paul Ivan.

Gitaris dengan ciri khas rambut dan permainan ikonik itu sempat mengunggah postingan soal akhir kisah dan perjalanan dari band yang pernah digawanginya itu pada Senin 2 November 2020 di akun Instagram pribadinya, @i_am_john_paul_ivan.

“Doakan dan support selalu buat semua member yang sudah pernah singgah Didalam band. Tidak perlu menyalahkan ke ini dan itu, hargai saja keputusan/pilihan yang telah diambil oleh setiap member,” tulis caption dari postingan bergambar logo Boomerang berlabel “The End Of 1994-2020” itu.

“Biarlah nama dan karya yang sudah berjalan selama 26 tahun ini menjadi ‘Suatu Kenangan Terindah Yang Pernah Kalian Miliki Dan Rasakan’ Terima Kasih banyak buat semua yang selama ini sudah support dan setia,” tulis caption tersebut.

Kabar yang beredar soal bakal bubarnya Boomerang diawali dengan pernyataan sang drummer, Farid Martin dalam postingan Instagram pribadinya @gerilyaone_ yang menyebut dirinya telah resmi mengundurkan diri.

Apa lagu Boomerang favoritmu, Fren? Yuk share di Soundfren!

#BikinJalanLo Versi Septian Rahman

“Soundfren Connect telah memperluas cakrawala pengetahuan saya tentang dunia musik – Septian Rahman”

Septian Rahman mulai mengenal musik saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Di sana, ia dipertemukan dengan teman-teman yang memiliki minat sama pada musik. Sejak saat itu, Septian dan musik menjadi tak terpisahkan.

Septian yang menaruh minat pada gitar, fokus untuk memperdalam kemampuannya untuk menjadi seorang gitaris. Penggemar dari band Kotak ini tak henti untuk terus belajar dan belajar. Meski di tengah pandemi, Septian tetap terus mencoba produktif dan berkarya.

Bagi Septian, sejak mengenal musik, ia menjadi lebih banyak teman. Musik adalah bahasa universal yang mempertemukannya dengan banyak orang. Pandemi yang membuat kegiatan menjadi terbatas dan lebih sering berada di rumah, tak membuat Septian kehilangan akal untuk terus membangun relasi dan berkoneksi.

Septian mencoba melirik aplikasi Soundfren yang ia harapkan bisa menambah teman baru yang bisa ia ajak untuk berkolaborasi nantinya. Ternyata, bukan hanya sekedar koneksi yang ia dapat. Musisi asal Banjarmasin ini mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman baru setelah mengikuti webinar di Soundfren Connect.

Soundfren Connect telah membuka cakrawala pengetahuan tentang dunia musik yang lebih luas untuk seorang Septian. Tak ayal, ia rutin mengikuti sesi-sesi yang dihadirkan. Septian berharap agar ke depannya Soundfren dapat menjangkau lebih banyak lagi pengguna lewat fitur-fitur yang ada di dalamnya. Karena semakin banyak pengguna maka akan semakin banyak juga relasi yang terjalin serta kolaborasi yang lahir.

#BikinJalanLo Versi Gantara Putra

“Beberapa kali ikutan #SoundfrenConnect, banyak ilmu baru yang saya dapat. Pandangan dan wawasan bermusik saya pun semakin terbuka lebar – Gantara Putra”

Sudah menyukai musik sedari dini membuat Gantara Putra memilih untuk serius mendalami musik hingga kini. Berlatih vokal dan alat musik sudah ia tekuni semenjak kecil. Sekarang, Gantara telah menjadi bagian dari grup musik Raung Sindara bersama keempat orang temannya.

Bersama Raung Sindara, Gantara telah merasakan banyak panggung musik seperti Jakarta Fair 2019 dan pensi-pensi di Ibukota. Sayangnya, di tengah pandemi yang belum kunjung usai ini, kegiatan manggung Gantara mau tak mau jalan di tempat.

Selama masa pandemi, Gantara mencoba untuk terus menggali potensi bermusiknya, salah satunya dengan bergabung di Soundfren. Dengan menjadi pengguna Soundfren, Gantara bisa memperluas relasi bermusiknya. Bagi Gantara, Soundfren adalah aplikasi yang sangat membantunya untuk bertemu dengan orang yang menyukai musik baik pelaku ataupun mereka di belakang layar.

Selain membangun koneksi dan berinteraksi dengan teman-teman baru, Gantara juga aktif mengikuti webinar interaktif lewat Soundfren Connect yang diadakan oleh Soundfren. Bagi Gantara yang telah beberapa kali mengikuti Soundfren Connect, ada banyak ilmu yang ia dapatkan dari praktisi dan penggiat musik. Pandangan dan wawasan bermusik Gantara pun semakin terbuka lebar. Kebutuhan bermusiknya terpenuhi dalam satu aplikasi.

Gantara berharap ke depannya Soundfren bisa lebih dikenal secara dunia global. Gantara ingin Soundfren ada terus menemani karir bermusiknya baik sebagai musisi. Ataupun jika suatu hari nanti mimpinya untuk menjadi produser atau DJ terwujud, Soundfren hadir menjadi bagian dari perjalanan bermusik Gantara.

Sekilas Tentang Manajerial Artis


Jangan sampai salah, seorang manajer band harus memikirkan strategi bisnis, membangun image, melakukan promosi, berjejaring, dll, bukan sekadar mencarikan jadwal manggung.

Keberhasilan sebuah band atau artis tidak akan lepas dari peran manajer. Bisa dipastikan, kalau di balik setiap band atau artis yang sukses, selalu ada manajer dan team manajemen yang baik dan terarah.  

Ibarat Yin dan Yang yang saling melengkapi, antara manajer dan artis juga harus berkolaborasi dengan baik untuk menghasilkan output yang maksimal. Artinya masing-masing memiliki ranah dan fungsi yang saling mengisi. Manajer memikirkan strategi bisnis, membangun image, melakukan promosi, networking, dll, sementara artis fokus berkarya dan memikirkan sisi kreativitas seperti membuat lagu, penampilan, karakter, dan sebagainya.

Dari sini tentu sangat jelas, kalau tugas manajer band bukanlah sekadar mencari job manggung. Karena tugas dan fungsi itu memang idealnya dilakukan oleh booking agent. Dan seorang manajer memiliki tugas dan fungsi yang lebih dari itu.

Sebenarnya tidak ada pakem baku dan pasti akan tugas dan fungsi manajemen artis. Dan sepertinya belum ada juga sekolah khusus untuk menjadi manajer band ini. Semuanya berjalan berdasarkan pengalaman dan masing-masing punya pandangan dan cara tersendiri akan tugas mereka, dan ini biasanya tergantung dengan kondisi artis yang mereka pegang. 

Meski begitu, pada umumnya seorang manajer artis sehari-hari bertugas untuk membuat perencanaan karir, membuat strategi bisnis, membangun image band, melakukan publikasi, mencarikan kontrak rekaman dengan label, membina hubungan dengan media massa, mengatur jadwal konser/tur, rekaman, mengurus lisensi, mencarikan sponsor/ endorsement, dan lain sebagainya.

Dari situ, kita bisa tahu kalau seorang manager artis mutlak harus memiliki kecerdasan yang tinggi, mau belajar, dan memiliki networking yang luas. 

Lantas apa saja kesulitan dan kemudahan yang dirasakan seorang manajer band/artis musik dalam memulai langkah awal menentukan strategi bisnis produk musik? Bagaimana membangun relasi yang baik di bisnis musik? Dan sejauh apa peran seorang manajer band/artis dalam membantu musisi di ranah kekaryaan? 

Jawabannya bisa kita dapatkan di acara Soundfren Connect yang akan berlangsung Minggu, 16 Agustus 2020 mendatang. Akan ada Melina Anggraeni dari Sun Eater yang akan berbagi tips dan pengalamannya di acara gelaran sosial media musik kesayangan kita ini. So, buat kamu yang ingin tahu lebih dalam seluk beluk manajerial band, jangan sampai melewatkan sesi ini. 

Untuk info lebih lanjut mengenai pendaftaran, bisa lihat langsung di aplikasi Soundfren. Sampai ketemu, Fren! (Erick)

Foto : https://haulixdaily.com/2019/05/manger-music-defined

Berkenalan dengan Music Publisher

Seberapa penting sih karya kita dikelola oleh music publisher?

Ya, pertanyaan ini selalu muncul setiap kita ngomongin music publisher. Apa sih fungsinya? Perlu nggak sih? Seberapa penting sih music publisher? Bener nggak, Fren?

Jawabannya sebenarnya singkat aja: penting. Apalagi untuk kita para pencipta musik, kehadiran publisher ini akan sangat membantu meringankan kerja kita, plus membuka peluang untuk memberikan pemasukan tambahan.

Stephen Navin, Chief Executives Music Publisher Association, mengatakan bahwa musik dapat mengembara ke mana saja, didengar di mana saja, dipertunjukkan, dan direkam dengan berbagai cara.  Jadi jangan kaget, kalau pendapatan seorang komposer musik itu bisa dari mana saja.

Dan salah satu cara memaksimalkan pendapatan ini adalah jika karya kita dikelola oleh music publisheryang kompeten tentunya.

Sebelum lebih lanjut, kita bahas dulu, apa sih sebenarnya music publisher ini? 

Gampangnya, music publisher adalah pihak yang mengelola, mengadministrasi, dan mengekploitasi hak cipta. Mereka adalah pihak yang diberi kuasa oleh pemegang hak cipta untuk menangani lagu ciptaannya yang bersifat komersial. Mulai dari mengurusi Hak Reproduksi, Hak Distribusi, Hak Derivatif, sampai dengan Hak Performing Rights.

Music publisher ini bekerja di ranah lisensi dan pengelolaan royalty penggunaan musik. Jadi mereka yang akan membantu mengurus hak cipta lagu kita, mencarikan peluang, dan tentunya mendistribusikan hak royalti musik kepada pencipta musik yang menjadi anggotanya.

Kenapa kita nggak urus sendiri aja? Well, nggak semudah itu, Fren. 

Karena mengurusi publishing sendiri berarti kita perlu memiliki sumber daya yang cukup dan kompeten untuk mengeksploitasi semua hak tersebut sehingga hak cipta bisa optimal secara komersial. Yang bisa terjadi justru waktu dan tenaga kita akan habis untuk mengurus hal-hal administratif yang cukup kompleks, sementara energi itu seharusnya akan lebih produktif jika kita salurkan untuk berkreasi dan berkarya. 

Sehingga, dengan menyerahkan pengelolaan karya kita kepada music publisher, hidup kita akan lebih nyaman. Karena kita tidak perlu pusing-pusing untuk mengontrol lagu-lagu kita dipakai oleh siapa, diputar di mana saja, dan lain sebagainya, untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari karya kita, karena ini akan menjadi tugas music publisher. Tentunya ada pembagian hasil dengan presentase yang disepakati di awal perjanjian. 

Nah, bagaimana music publisher di Indonesia dan bagaimana cara kita mendapatkan music publisheruntuk karya-karya kita, semuanya akan dibahas di Soundfren Connect, Rabu (12/8) besok. Akan ada Aldri Dataviadi dan Ganjar Ariel Santosa dari Massive Music Entertainment yang berbagi informasi dan cerita.

Untuk kita, para pencipta lagu, jangan sampai kelewatan untuk ikutan webinar ini. Informasi detail mengenai teknis pendaftaran bisa dilihat di aplikasi Soundfren, sosial media musik andalan kita. Sampai ketemu di acaranya, Fren! (Erick)

Foto : https://images.app.goo.gl/7u9nAXBTsH4F6MmU6