#BikinJalanLo Versi Rangga Pranendra

“Kedepannya saya berharap bersama Soundfren akan lebih banyak lagi orang yang mendengar karya-karya ciptaan saya – Rangga Pranendra”

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Rangga Pranendra telah menunjukkan ketertarikannya pada musik. Awalnya ia melihat teman sekelasnya yang kini telah menjadi musisi, Dimas Wibisana sedang mengisi acara di sekolah. Rangga kemudian mulai belajar musik bersama Dimas dengan harapan bisa ikut manggung. Setiap pulang sekolah, Rangga mempelajari hal-hal tentang musik di rumah Dimas. Dimulai dengan belajar memetik gitar hingga berlatih vokal. 

Kerja keras Rangga sedari berseragam putih merah berbuah hasil, kini ia telah memiliki single dan tampil di berbagai panggung. Bahkan belum lama ini, video musik miliknya telah tayang di UseeTV dan UseeTV GO lewat program “Indie Air”.

Rangga yang baru saja merilis single bertajuk “Manis Berbahaya” mengaku jika musik-musiknya banyak dipengaruhi oleh L’Arc-en-Ciel dan Sheila on 7. 

Rangga yang telah mengarungi musik sejak kecil mengalami beberapa momen-momen yang tak bisa lupakan dan akan terus diingat sebagai bagian dari jalan bermusiknya. Ada masa di mana hidup Rangga didedikasikan terhadap sebuah idol group lokal kecintaannya, JKT48. Saking berdedikasinya, lagu-lagu yang ia buat tidak lepas dari elemen mereka. Alhasil, sampai sekarang nama Rangga Pranendra tidak bisa lepas dari embel-embel JKT48. Kecanggihan teknologi membuat Rangga semakin mudah mengakses segala hal tentang idolanya yang kemudian dijadikan sumber inspirasi.

Bicara tentang musik dan teknologi, selain mempermudahnya mencari inspirasi, Rangga merasa sangat terbantu dengan teknologi yang bersinggungan dengan musik seperti platform digital yang memudahkan lagu-lagu karyanya untuk sampai ke telinga para pendengar bahkan ke orang-orang yang tidak ia kenal. Salah satu platform yang ia manfaatkan adalah layanan streaming musik dan juga tentunya Soundfren.

Kehadiran Soundfren membantu Rangga untuk meraih impiannya di industri musik. Walau masih terhitung sebagai pengguna baru, namun Rangga telah merasakan manfaat kehadiran Soundfren salah satunya adalah dengan terpilih untuk meramaikan program “Indie Air”. Rangga berharap bersama Soundfren akan semakin banyak orang yang mendengar lagu-lagu yang ia ciptakan.

Tips Membeli Ukulele

Emang paling bener kalo lagi #DiRumahAja itu ngulik-ngulik musik yang kamu suka, nggak terbatas apapun alat musiknya, salah satunya ukulele, Fren! Nah, buat kamu yang lagi cari-cari ukulele, perhatikan juga beberapa hal sebelum membeli ukulele.

  • Ukulele yang berkualitas biasanya terbuat dari kayu sengon dan mahoni. Lalu pada bagian kepalanya terdapat dolphin gold plate dengan tambahan string aquila, yang akan memberikan nada indah saat dipetik. Kamu juga bisa memilih warna ukulele sesuai dengan seleramu. Agar kamu lebih bersemangat saat belajar, dan juga lebih percaya diri saat menggunakannya.
  • Ukulele 4 senar ukuran mini biasanya terduat dari kombinasi kayu berkualitas pada bagian bodinya. Bagian atas terbuat dari kayu meranti dan bagian dalam dari kayu sengon. Senarnya menggunakan senar nilon yang menghasilkan suara bening dan senarnya tidak mudah putus.
  • Ukulele model terbaru merupakan gitar kecil dengan 4 senar dan bodi bagian atas terbuat dari plywood sedangkan bagian dalam dari kayu meranti. Pada putaran stemnya biasanya terbuat dari kayu sengon. Meskipun ukurannya kecil, suara yang dihasilkan sangat indah karena menggunakan senar nilon berkualitas.

Nah, itu dia beberapa hal penting yang harus kamu perhatikan saat mau beli ukulele. Kamu juga bisa cari referensi ukulele yang oke dengan nanya-nanya temen-temen di aplikasi Soundfren.

Semoga kamu berhasil menemukan ukulele idaman ya!

Tips Memilih Bass yang Tepat

Fren, buat kamu yang mau membeli bass, perhatikan dahulu beberapa hal sebagai pertimbangan kamu. Jangan lupa untuk tanya-tanya teman dan rajin cek review di internet!

  • Sesuaikan dengan Kebutuhan

Menyesuaikan dengan kebutuhan  di sini maksudnya adalah jangan asal beli bass berdasarkan harga yang mahal atau nggak modal alias terlalu murah juga, Fren. Tapi pilihlah bass sesuai dengan karakter musik yang kamu mainkan. Pikirkan juga segi kenyamanannya dari segi neck, body, dll.

  • Kenali Bahan Pembuatannya

Tentu saja untuk mengetahui ketahanan terhadap perubahan cuaca dan suara yang dihasilkan. Karena, terkadang ada gitar bass yang bagian body and neck menggunakan kayu yang berbeda. Kayu yang berbeda, suara yang dihasilkan juga berbeda. Jadi, dalam hal ini harus jeli dalam melihat serat dan warnanya.

  • Rajin Cek Review

Zaman sekarang, kalau mau beli sesuatu kita punya banyak opsi untuk cari-cari review-nya dulu di internet. Untuk itu, jangan buru-buru mengambil keputusan, cek review dari berbagai sumber agar kamu semakin yakin.

  • Perhatikan Fret & Bridge

Dalam hal fret, membutuhkan kejelian. Karena, fret terlihat sama dan cuman dari segi warna yang membedakan. Fret berkualitas rendah mudah terkikis oleh senar. Yang efeknya, ketika mulai memainkan gitar bass (senar ditekan), bisa membuat senar bertabrakan dengan fret di depannya. Kemudian pilihlah gitar bass dengan bridge yang terlihat mudah untuk memasang dan melepas senar. Lebih baiknya, cari gitar bass yang nggak perlu memasukkan senar melalui lubang bawah supaya ketika memasang dan melepas senar lebih mudah.

  • Tentukan Jenis Pick-Up

Pick-up adalah komponen penting dalam gitar bass. Karena, berguna untuk mengubah sinyal analog ke digital. Sampai terbitnya tulisan ini ada dua jenis pick-up yang umum digunakan, yaitu magnetic dan piezoelectric. Dan pick-up yang paling sering digunakan adalah pick-up magnetik.

Dan pick-up magnetik, sampai terbitnya tulisan ini ada tiga, yaitu single coil, dual coil (humbucker) dan soapbar. Suara yang dihasilkan single coil terdengar cerah dan jernih, dual coil (humbucker) suaranya lebih fat and rich (karena untuk menghilangkan buss / hum / noise yang ada di single coil). Dan soapbar, suara yang dihasilkan terdengar acak.

Ada juga pick-up aktif dan pasif. Bedanya adalah yang aktif menggunakan baterai, sedangkan yang pasif nggak. Pick-up aktif bisa dikontrol, karena bisa untuk cut and boost. Dan cara mengontrolnya tergantung pada pre-amp yang dipasang pada pick-up.

Nah, gimana udah dapet pencerahan mengenai bass mana yang mau kamu pilih? Kamu juga bisa masukan dari teman-teman di Soundfren dengan posting status di aplikasi!

#BikinJalanLo Versi Pale Skies


“Soundfren telah memberikan dampak positif untuk karir bermusik kami, banyak pendengar yang tahu karya kami dari sini – Pale Skies”

Ketertarikan pada dunia musik dan ingin memberikan warna baru untuk band duo menjadi awal mula Pale Skies hadir di industri musik tanah air. Keseriusan Miftah Bravenda dan Lingga Salaga mengulik lagu telah melahirkan single perdana yang kemudian diberi judul “Larung Memori”.  Duo yang terbentuk di tahun 2019 ini juga sering menyanyikan dan mengaransemen ulang lagu karya musisi lokal maupun internasional seperti salah satu lagu milik Cigarettes After Sex yang berjudul “Nothing’s Gonna Hurt You Baby”.

Dalam proses pembuatan lagu, ada banyak proses yang terjadi di dalamnya. Hal ini menjadikan Pale Skies menyadari bahwa dalam bermusik harus memiliki banyak elemen yang disiapkan, baik segi produksi maupun promosi. Untuk musisi independen hal ini menjadi sebuah tantangan yang besar.

Salah satu cara duo ambient pop ini menjawab tantangan di dunia musik adalah dengan memanfaatkan teknologi yang kian canggih, baik untuk produksi maupun promosi karya. Tak terkecuali, duo yang terinspirasi dari Cigarettes After Sex dan The Trees and The Wild ini menjadikan Soundfren sebagai jalan untuk berkarya di industri musik.

Aplikasinya yang mudah digunakan membuat Pale Skies semakin nyaman menikmati fitur-fitur yang ditawarkan Soundfren. Bergabung menjadi pengguna Soundfren membuat duo yang dimotori Miftah Bravenda dan Lingga Salaga ini mengalami perkembangan yang positif. Banyak pendengar yang mengetahui karya-karya Pale Skies dari Soundfren.

Pale Skies berharap agar Soundfren bisa menjadi wadah bagi musisi independen yang baru memulai karier maupun yang ingin terus melebarkan kariernya. Selain itu, baik Soundfren maupun Pale Skies bisa memberikan pengaruh positif untuk dunia musik tanah air.

Tips Mendapatkan Hasil Rekaman yang Jernih

Biar lagi di fase #StayAtHome, tapi jangan sampai nggak produktif, Fren! Musik harus jalan terus. Setuju? Bahkan ini adalah saat yang tepat untuk kamu merekam banyak materi. Eits, tapi perhatikan juga gimana caranya mendapatkan hasil rekaman yang jernih. Soundfren punya tips nih supaya hasil rekamanmu jernih.

  1. Temukan Ruangan yang Tepat. Pilihlah  ruangan yang bisa membuat kalian bekerja dengan nyaman, Fren.  Lalu, pilih  ruangan yang tidak menggunakan alas atau lantai kayu karena lantai kayu akan dengan mudah memantulkan suara. Akan lebih baik jika di dalam ruangan kamu terdapat karpet, karena dapat menyerap sebagian suara, sehingga akan mengurangi suara yang mungkin dapat dipantulkan.
  2. Setting Ruangan
    • Kalau tembok ruangan kamu terbuat dari beton, letakkan dua atau 3 busa di sekitar tembok tempat kita melakukan rekaman. Hal itu akan membantu mengurangi efek bising dari suara yang dihasilkan.
    • Saat kalian sudah berada di dalam ruangan tersebut namun masih mendengar suara dari luar ruangan, maka kalian perlu menutup celah pada pintu dengan menggunakan handuk atau selimut.
    • Jika ruangan yang kalian gunakan belum menggunakan karpet maka kalian bisa melerakkan kain atau selimut tebal dibagian bawah atua lantai. Hal itu juga dapat mengurangi efek pantulan suara pada mikrofon.
  3. Siapkan Alat Perekam. Siapkan alat perekam yang kamu butuhkan, seperti mikrofon dengan popping shield. Selain itu pilihlah software rekaman dengan interface yang friendly untuk kamu. Lalu setelah itu mulailah merekam.
  4. Setelah selesai merekam, dengar kembali hasil rekaman. Dengan mendengarkan kembali hasil rekaman, kamu akan mengetahui letak salah ataupun beberapa hal yang menurut kamu belum memuaskan. Catatlah semua hal itu poin demi poin untuk segera kamu revisi dan ulang kembali sampai kamu merasa puas.

Nah, gimana Fren sudah siap rekam hasil karya kamu? Kalau udah beres jangan lupa untuk dishare di Soundfren ya!

Stay at Home, Draw and Win!

Berkarya bisa dimana saja, termasuk di rumah. Saat wabah COVID-19 melanda, segala kegiatan kreatif pun terbatas. Ini dia solusi agar kalian tidak mati gaya di rumah, Ballads of The Cliche berkolaborasi bersama Soundfren mengadakan “Stay at Home and Draw!”. Tertarik? Simak dulu informasi detailnya : 

Berhadiah Rp 1.000.000 untuk 1 (satu) pemenang. Temanya apa sih? Step Out and Dance!

Implementasikan single terbaru Ballads of The Cliche “Step Out and Dance!” ke dalam gambar (desain, ilustrasi maupun foto). Single tersebut dapat kalian dengarkan disini. 

Siapa yang boleh ikutan? Semua boleh ikutan, asalkan follow IG @balladsofthecliche dan @soundfren dan mempunyai akun Soundfren.

Karya apa saja yang bisa diikutkan? Segala format gambar tidak bergerak seperti desain, tipografi, ilustrasi, maupun foto dan bisa diaplikasikan ke dalam media kaos/ t-shirt.

Gimana mekanisme kontesnya?

  • Download aplikasi Soundfren di Apps Store atau Play Store
  • Buat akun Soundfren
  • Buka tab “Profile” lalu buka menu “Works” dan pilih “Add My Works” dengan karya visual buatanmu
  • Buka tab “Explore” dan pilih menu “Submission”
  • Pilih “Stay at Home and Draw!”
  • Baca syarat dan ketentuan, lalu klik “Join Submission”
  • Isi form, lalu klik “Submit”

Ketentuan :

  • Peserta dapat mengirimkan lebih dari satu karya
  • Periode kontes dari 19 Maret hingga 02 April 2020 dan diumumkan 09 April 2020 via media sosial Ballads of The Cliche dan Soundfren
  • Konten gambar tidak boleh mengandung unsur kekerasan, penggunaan obat-obatan terlarang, konten/aktifitas seksual, Politik, SARA atau terkesan menyinggung/menjelek-jelekkan pihak manapun.
  • Pihak penyelenggara tidak bertanggung jawab jika ada pihak-pihak yang melakukan klaim atas teks, gambar, maupun hal-hal yang dijadikan konten gambar dan diunggah oleh para peserta.
  • Penyelenggara memiliki hak untuk mengubah syarat dan ketentuan jika dianggap diperlukan, tanpa perlu ada pemberitahuan terlebih dahulu.
  • Gambar dan segala informasi yang telah diunggah oleh peserta, sepenuhnya menjadi milik Soundfren, yang selanjutnya dapat dipergunakan sebagai iklan, event khusus, termasuk promosi penjualan, serta dapat dipasang di akun resmi media sosial milik penyelenggara.
  • Kontes ini tidak dipungut biaya apapun.
  • Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat
  • Pemenang terpilih akan dihubungi langsung oleh pihak Soundfren. Apabila pemenang yang terpilih tidak dapat dihubungi dan/atau tidak mengirimkan konfirmasi dalam 7 x 24 jam setelah pengumuman, pemenang akan dianggap gugur tanpa pemberitahuan.

#BikinJalanLo Versi Allson Siringo

“Saya bisa mendapatkan sesi mentoring menulis lagu sekaligus rekaman di program BERISIK lewat Soundfren – Allson Siringo”

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Allson Siringo dan musik sudah menjadi bagian tak terpisahkan. Allson mulai belajar memetik gitar dan mempelajari lagu-lagu karya musisi idolanya seperti Gun’s n Roses, Mr.Big, Last Child, Virgoun, Blink-182, Naif, Avenged Sevenfold, dan banyak lagi.

Menekuni musik sejak belia, tentunya jalan yang Allson tempuh tak selalu mulus. Cerita pahit dan manis selalu menghiasi karir bermusiknya. Ada banyak pula pencapaian yang telah ia raih di industri ini. Ia pernah diundang mengisi acara kampus, masuk playlist streaming musik, dan ia juga pernah mengisi salah satu rubrik di majalah kampus.

Dengan didukung oleh perkembangan teknologi di industri musik yang semakin melesat maju, membuat Allson menjadi lebih mudah mencari  mencari relasi dengan musisi dan mempromosikan karyanya. Salah satu cara yang ia tempuh untuk mendapatkan banyak relasi di dunia musik adalah dengan memanfaatkan aplikasi Soundfren. Di Soundfren, Allson bisa memperluas relasi bermusiknya serta mengikuti berbagai submisi yang ada.

Allson sudah banyak menciptakan lagu dengan genre Alternative Rock salah satunya single yang sudah dirilis bertajuk “Kembali.” Keahlian Allson dalam menulis lagu semakin terasah saat ia terpilih menjadi musisi terpilih program “BERISIK (Belajar Karir di Musik) Eps.1. Ia bersama dua musisi terpilih lainnya mendapatkan sesi mentoring menulis lagu sekaligus rekaman bersama produser musik Estu Pradhana dan solois Gabriel Mayo. Sesuatu yang belum pernah Allson dapatkan sebelum bergabung di Soundfren.

Sejauh ini, Allson sangat puas bergabung di Soundfren. Ia bisa mendapatkan job manggung dengan mengikuti submisi di aplikasi Soundfren. Hal yang paling ia sukai jika karya musiknya dikurasi dan lolos submisi.

#BikinJalanLo Versi Dimas Pamungkas (Vokalis Frekuensi)

“Soundfren paham betul apa masalah yang harus kami hadapi. Kehadiran Soundfren benar-benar menjadi solusi untuk memperluas publikasi dan relasi kami di dunia musik – Dimas Pamungkas”

Sebelum terjun ke dunia musik, Dimas Pamungkas adalah seorang karyawan dengan rutinitas yang menurutnya kurang menarik. Langkah berani ia ambil saat memutuskan untuk mengundurkan diri dari tempatnya bekerja dan mulai mengikuti apa kata hatinya yaitu bermusik. Dimas meninggalkan zona nyamannya dan mulai menyusun jalan hidup yang banyak orang ragukan kesuksesannya, tapi hal ini justru membuat Dimas senang karena bisa berbagi cerita dan mungkin dapat bermanfaat bagi orang lain lewat energi positif yang ia salurkan lewat lagu ciptaannya.

Setelah fokus di dunia musik, Dimas bersama grup musik Frekuensi telah banyak melahirkan karya lagu beraliran pop. Namun sayangnya, mereka belum begitu paham bagaimana cara menyebarluaskan karya agar dapat dinikmati semua orang. Di tengah kendala mereka dalam publikasi, Soundfren datang membawa solusi. Bagi Dimas, Soundfren paham betul apa masalah yang tengah hadapi sebagai band indie, yaitu relasi & publikasi. Kehadiran Soundfren benar-benar menjadi solusi untuk memperluas publikasi dan relasi Frekuensi di dunia musik. 

Soundfren sebagai salah satu wadah yang lahir dari kemajuan teknologi membawa Frekuensi lebih mudah dalam menghadapi tantangan di industri musik. Mereka semakin siap menghadapi perkembangan di dunia musik. Meski demikian perkembangan teknologi diibaratkan seperti dua sisi mata pisau, bisa sangat membantu tapi juga disisi lain dapat merugikan. Teknologi sangat membantu dalam hal publikasi, namun juga cukup merugikan jika pembajakan musik dengan memanfaatkan perkembangan teknologi terus terjadi.

Bergabungnya Dimas bersama Frekuensi di Soundfren telah membawa angin segar bagi karir bermusik mereka. Penggemar dari Stars & Rabbit dan Sheila On 7 ini merasakan kecepatan Soundfren dalam merespon keluhan dan masalah band-band indie seperti respon terhadap relasi dan publikasi.

Dimas merasa bahwa ia sangat merasa terbantu dengan hadirnya Soundfren, Frekuensi jadi tahu apa yang harus dilakukan setelah memproduksi sebuah karya lagu dan bagaimana menampilkan pesan lewat lagu kepada orang banyak. Ini merupakan suatu kepuasan bagi musisi indie seperti Frekuensi.

Soundfren juga telah memberikan peluang kepada Frekuensi lewat submisi Indie Air. Berkat submisi yang diikuti, band yang hits dengan single  “Bungkam” ini bisa tampil di program Indie Air yang tayang di UseeTV.

Dimas berharap Soundfren bisa terus membantu mewadahi untuk para pelaku musisi indie. Kemudian, untuk kedepannya mudah-mudahan lebih banyak kerja sama yang dilakukan Soundfren dengan acara-acara musik agar  tentunya dapat memberikan banyak kesempatan berkarya kepada para musisi indie.

#BikinJalanLo Versi Bartelemi

“Kami mendapat kesempatan untuk tampil di acara Indie Air karena mendaftar melalui Soundfren – Bartelemi

Dimulai dari mendengar berbagai genre musik, dilanjutkan dengan mulai mempelajari instrumen musik hingga kemudian membentuk sebuah band. Itulah awal perjalanan dari grup musik Ibukota, Bartelemi yang terdiri dari mereka yang memiliki cita-cita yang sama di dunia musik.

Di awal terjun ke industri musik, Bartelemi sempat mengalami kejadian kurang menyenangkan yaitu saat tak bisa check sound akibat hal teknis namun walau demikian mereka tetap melanjutkan penampilan sebagai pengisi acara. Kepuasaan para penonton yang hadir saat itu menjadi obat mujarab bagi Bartelemi. Langkah demi langkah baik pahit maupun manis di industri musik tetap mereka jalani hingga akhirnya manpu melahirkan karya yang tertuang lewat lagu “Raga” dan “Deru Waktu.”

Bagi grup musik yang terinspirasi dari The Beatles, Foo Fighter, Blur, Radiohead, dan Extreme ini perkembangan teknologi sangat membantu mereka dalam bermusik mulai dari proses rekaman hingga penampilan di atas panggung. Salah satu perkembangan teknologi yang bisa dirasakan langsung adalah lewat Soundfren

Sebelum bergabung dengan Soundfren, Gerry dkk menaruh harapan agar bisa mendapatkan informasi mengenai acara misik dan bisa berpartisipasi lebih sering di dalamnya. Harapan itu terbukti saat mereka bisa tampil di acara “Indie Air” yang ditayangkan melalui kanal Usee Prime di UseeTV.

Grup musik yang digawangi oleh Bob, Gerry, Batara, Afdha, dan Kiki ini menganggap bahwa Soundfren memiliki banyak fitur untuk menyebarkan karya dan ada fitur yang memberikan banyak informasi mengenai acara musik. Bartelemi berharap Soundfren bisa menjadi wadah untuk semua pemusik indie dan bisa membantu para musisi menyebarkan karya karya nya. Kedepannya Soundfren bisa lebih memperbanyak lagi aktivasi untuk para penggunanya agar karya mereka semakin luas dinikmati masyarakat luas.

#BikinJalanLo Versi Robin and the Poetry


“Soundfren membantu kami untuk memperkenalkan karya lebih jauh – Robin and the Poetry”

Tak pernah terpikirkan akan serius di industri musik, Robin and the Poetry awalnya hanya iseng mencoba bermain musik namun seiring berjalannya waktu ada kenikmatan tersendiri yang mereka rasakan dari musik. Bagi grup musik yang terinspirasi dari Sore Band, White Shoes and the Couples Company, Efek Rumah Kaca, FSTVLST, The Adams, dan Mondo Gascaro ini bisa bermain musik dan memiliki karya sendiri itu merupakan pencapaian yang tak bisa diungkapkan lewat kata-kata. 

Robin and the Poetry bersyukur lahir di era kecanggihan teknologi yang terus melesat, karena mereka bisa lebih leluasa dalam mempromosikan karya. Kemajuan teknologi yang masuk ke industri musik juga tak dipungkiri bisa menjadi boomerang terhadap para musisi, karena akan banyak pembajakan terhadap karya musik.

Salah satu cara yang dilakukan Robin and the Poetry dalam menyikapi kemajuan teknologi adalah bergabung dengan platform Soundfren. Aplikasi yang lahir berkat kemajuan teknologi di era digital ini. Berkat Soundfren, grup musik yang memiliki hits “Pecah Suara” ini bisa mendapat relasi yang semakin dapat memuaskan hasrat mereka dalam bermusik. Selain itu, Soundfren juga membantu mereka untuk mengenalkan karya-karya musik ke masyarakat.

Grup musik yang digawangi oleh M. Raihan Aqil, Khairul Khusnul Z, Asep M Ainal F, Nur Hakim, Anas, dan Simon berharap supaya karya mereka dapat dinikmati lebih luas oleh masyarakat. Soundfren sangat menakjubkan dengan fitur-fitur yang ada di dalamnya.