#BikinJalanLo Versi Marko Savana


“Pandangan dan wawasan bermusik semakin tercerahkan khususnya yang terkait promosi musik dengan ikutan webinar interaktif di Soundfren Connect – Marko Savana”

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, begitu pun dengan Marko Savana. Kecintaan orang tuanya akan musik menular ke dalam diri Marko. Hobi bermusik Marko didukung penuh oleh orang tuanya. 

Marko kecil sudah mulai mengikuti kursus bermusik gitar klasik. Ketekunan Marko dalam mengikuti kursus dan dukungan dari orang tua membuat Marko sukses meraih juara 1 lomba gitar klasik di Surabaya. 

Di tengah kegiatan bermusiknya, Marko menekuni dunia fotografi yang membawanya bertemu dengan lebih banyak teman-teman di industri musik. Selain bermain gitar, Marko kerap kali diminta untuk menjadi fotografer beberapa band lokal di Surabaya.

Ingin memperkuat relasi bermusik, Marko yang mengidolakan Tommy Emmanuel, Jubing Kristianto, Mateus Asato, dan Mike Dawes ini mencoba untuk menjajal aplikasi Soundfren. Media sosial Instagram mempertemukan Marko dengan Soundfren dan membawanya berkenalan dengan para penggiat musik yang tergabung di Soundfren.

Semakin lama bergabung di Soundfren, ada hal lain yang Marko dapatkan selain menciptakan dan memperkuat relasi di dunia musik. Marko mendapatkan pandangan dan pemahaman baru seputar musik lewat Soundfren Connect.

Tak kurang dari 4 sesi yang telah Marko ikuti, terbaru ia mengikuti webinar interaktif bersama Noor Kamil dari MASPAM RECORDS yang membahas “Jurus Pemasaran Musik Digital di Era Pandemi”. Marko sangat berterima kasih dengan hadirnya Soundfren Connect ia tetap bisa produktif dan mendapatkan ilmu baru di tengah pandemi ini khususnya ilmu yang terkait promosi musik.

Marko berharap Soundfren Connect bisa terus hadir dengan beragam topik yang menarik dari industri musik baik lokal maupun internasional. Ia juga berharap Soundfren bisa terus hadir menemani kehidupan bermusiknya.

#BikinJalanLo Versi Jatiprima Handali

“Lewat Soundfren, saya bisa ketemu sekaligus nambah ilmu dari pakarnya langsung di Soundfren Connect! – Jatiprima Handali”

Beragam genre musik sudah dicobanya, namun Jatiprima Handali selalu terus memperdalam kemampuan bermusiknya khususnya bermain gitar. Sejak duduk dibangku SMP, Jatiprima mulai menemukan gairah bermusik. Ia belajar memetik gitar dan memainkan musik rock era 80-90an. Saat memasuki sekolah menengah atas, ia mencoba mendalami perkusi.

Tak berhenti disitu, saat kuliah ia banting setir dengan mempelajari biola dan menelaah lagu-lagu klasik. Jatiprima juga aktif di beberapa komunitas musik dan orkestra. Saat ini, ia tengah belajar dan mendalami gitar kembali.

Berbagai genre dan beragam alat musik ia pelajari sejak awal perkenalannya dengan musik hingga saat ini. Musik telah memberikan arti penting dalam hidupnya. Bahkan musik telah membawa Jatiprima sukses mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Panggung ke panggung ia datangi untuk membayar uang kuliah hingga lulus.

Musik pula yang mempertemukan Jatiprima dengan Soundfren. Jatiprima yang saat ini tengah menyukai musik-musik dari Mac DeMarco sangat antusias mengikuti beragam kegiatan bermusik yang diadakan oleh Soundfren, salah satunya Soundfren Connect. Webinar interaktif yang mempertemukan para penggiat musik dengan obrolan seputar topik-topik dan isu terhangat dari industri musik.

Jatiprima mengikuti kelas membuat lagu bersama Sir Dandy dan Riko Prayitno, personel dari grup musik Mocca. Tak hanya mempelajari pembuatan lagu, ia juga mengambil sesi khusus mempelajari digital recording. Bagi Jatiprima, lewat Soundfren Connect bisa mendapatkan ilmu langsung dari pembicara yang berpengalaman di dunia musik. 

Di tengah pandemi ini, Soundfren telah memberikan manfaat untuk karir bermusiknya dengan menghadirkan fitur Soundfren Connect. Jatiprima berharap Soundfren bisa semakin kreatif dalam memajukan musik di indonesia dan bisa membuat musisi-musisi Indonesia melanglang buana hingga mendunia.

#BikinJalanLo Versi Rangga Pranendra

“Kedepannya saya berharap bersama Soundfren akan lebih banyak lagi orang yang mendengar karya-karya ciptaan saya – Rangga Pranendra”

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Rangga Pranendra telah menunjukkan ketertarikannya pada musik. Awalnya ia melihat teman sekelasnya yang kini telah menjadi musisi, Dimas Wibisana sedang mengisi acara di sekolah. Rangga kemudian mulai belajar musik bersama Dimas dengan harapan bisa ikut manggung. Setiap pulang sekolah, Rangga mempelajari hal-hal tentang musik di rumah Dimas. Dimulai dengan belajar memetik gitar hingga berlatih vokal. 

Kerja keras Rangga sedari berseragam putih merah berbuah hasil, kini ia telah memiliki single dan tampil di berbagai panggung. Bahkan belum lama ini, video musik miliknya telah tayang di UseeTV dan UseeTV GO lewat program “Indie Air”.

Rangga yang baru saja merilis single bertajuk “Manis Berbahaya” mengaku jika musik-musiknya banyak dipengaruhi oleh L’Arc-en-Ciel dan Sheila on 7. 

Rangga yang telah mengarungi musik sejak kecil mengalami beberapa momen-momen yang tak bisa lupakan dan akan terus diingat sebagai bagian dari jalan bermusiknya. Ada masa di mana hidup Rangga didedikasikan terhadap sebuah idol group lokal kecintaannya, JKT48. Saking berdedikasinya, lagu-lagu yang ia buat tidak lepas dari elemen mereka. Alhasil, sampai sekarang nama Rangga Pranendra tidak bisa lepas dari embel-embel JKT48. Kecanggihan teknologi membuat Rangga semakin mudah mengakses segala hal tentang idolanya yang kemudian dijadikan sumber inspirasi.

Bicara tentang musik dan teknologi, selain mempermudahnya mencari inspirasi, Rangga merasa sangat terbantu dengan teknologi yang bersinggungan dengan musik seperti platform digital yang memudahkan lagu-lagu karyanya untuk sampai ke telinga para pendengar bahkan ke orang-orang yang tidak ia kenal. Salah satu platform yang ia manfaatkan adalah layanan streaming musik dan juga tentunya Soundfren.

Kehadiran Soundfren membantu Rangga untuk meraih impiannya di industri musik. Walau masih terhitung sebagai pengguna baru, namun Rangga telah merasakan manfaat kehadiran Soundfren salah satunya adalah dengan terpilih untuk meramaikan program “Indie Air”. Rangga berharap bersama Soundfren akan semakin banyak orang yang mendengar lagu-lagu yang ia ciptakan.

#BikinJalanLo Versi Andreas Sinaga


“Kini koneksi bermusik saya semakin luas dan video klip saya bisa tayang di Indie Air, UseeTV – Andreas Sinaga”

Darah seni yang mengalir pada diri Andreas Sinaga menjadikannya seorang musisi. Lahir dari orang tua musisi dan sering melihat para musikus tampil membuat Andreas mengambil jalan untuk berkarir di dunia musik.

Selama menjalani karir di industri musik, penggemar dari Stevie Wonder dan Tulus ini selalu berusaha menarik perhatian di depan khalayak ramai. Baginya, ini merupakan awal untuk membuat cerita menarik dalam karir bermusiknya. Andreas juga berkeyakinan ia mampu membawa hal baru dalam musik. Hal ini ia buktikan dengan merilis beberapa single di antaranya “Hadirat Rasa”, “InKromatik”, dan Pemilik Kisah”.

Sadar jika bakat saja tak cukup untuk membuatnya sukses di industri ini, Andreas terus memperdalam wawasannya. Belajar berimprovisasi dengan alat-alat musik dan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang semakin maju adalah langkah yang ia lakukan sejauh ini untuk menghadapi kerasnya dunia musik.

Setiap hari, penyanyi sekaligus penulis lagu ini selalu mengeksplorasi hal-hal baru salah satunya adalah dengan mencoba bergabung di Soundfren. Kecepatan arus informasi di era teknologi yang kian maju membawa Andreas mengenal Soundfren dan menjelajahi semua fitur di dalamnya. Hingga akhirnya, video klip terbarunya “Hadirat Rasa” disaksikan jutaan penonton usai tayang di Indie Air UseeTV dan dapat disaksikan ulang via aplikasi UseeTV GO.

Selain memberikan kesempatan untuk tampil, Soundfren juga telah membuat koneksi bermusik Andreas semakin luas dan membuat suasana dalam sosialisasi bermusik lebih menarik. Andreas berharap agar Soundfren selalu memberi hal baru dan hal yang baik untuk para pengguna setianya.

#BikinJalanLo Versi Pale Skies


“Soundfren telah memberikan dampak positif untuk karir bermusik kami, banyak pendengar yang tahu karya kami dari sini – Pale Skies”

Ketertarikan pada dunia musik dan ingin memberikan warna baru untuk band duo menjadi awal mula Pale Skies hadir di industri musik tanah air. Keseriusan Miftah Bravenda dan Lingga Salaga mengulik lagu telah melahirkan single perdana yang kemudian diberi judul “Larung Memori”.  Duo yang terbentuk di tahun 2019 ini juga sering menyanyikan dan mengaransemen ulang lagu karya musisi lokal maupun internasional seperti salah satu lagu milik Cigarettes After Sex yang berjudul “Nothing’s Gonna Hurt You Baby”.

Dalam proses pembuatan lagu, ada banyak proses yang terjadi di dalamnya. Hal ini menjadikan Pale Skies menyadari bahwa dalam bermusik harus memiliki banyak elemen yang disiapkan, baik segi produksi maupun promosi. Untuk musisi independen hal ini menjadi sebuah tantangan yang besar.

Salah satu cara duo ambient pop ini menjawab tantangan di dunia musik adalah dengan memanfaatkan teknologi yang kian canggih, baik untuk produksi maupun promosi karya. Tak terkecuali, duo yang terinspirasi dari Cigarettes After Sex dan The Trees and The Wild ini menjadikan Soundfren sebagai jalan untuk berkarya di industri musik.

Aplikasinya yang mudah digunakan membuat Pale Skies semakin nyaman menikmati fitur-fitur yang ditawarkan Soundfren. Bergabung menjadi pengguna Soundfren membuat duo yang dimotori Miftah Bravenda dan Lingga Salaga ini mengalami perkembangan yang positif. Banyak pendengar yang mengetahui karya-karya Pale Skies dari Soundfren.

Pale Skies berharap agar Soundfren bisa menjadi wadah bagi musisi independen yang baru memulai karier maupun yang ingin terus melebarkan kariernya. Selain itu, baik Soundfren maupun Pale Skies bisa memberikan pengaruh positif untuk dunia musik tanah air.

#BikinJalanLo Versi Arjuna Balagita

“Dan sekarang, sebagian klien dan partner kolaborasi saya datang dari aplikasi Soundfren – Arjuna Balagita”

Saat masih menempuh jenjang sekolah dasar, Arjuna Balagita sudah mulai akrab dengan dunia musik. Semua ini berawal saat mendiang sang ibunda yang kerap kali membelikan kaset-kaset musik bergenre rock dan beberapa kaos band rock seperti Bonjovi. Waktu itu, musik yang sedang trend di Kalimantan, tempatnya bermukim, adalah musik speed metal dan musik dari Negeri Jiran, Malaysia. 

Arjuna kecil mulai bermusik dengan pengaruh musik-musik Power Metal, Helloween, Search, dan Slam. Arjuna menjadikan Ahmad Dhani dan Rolling Stones sebagai panutannya dalam bermusik. Menurutnya, Rolling Stones mampu menjadikan musik rock and roll, yang kala itu masih sedikit yang tahu, menjadi meledak di pasaran. Begitu pun dengan sosok Ahmad Dhani. Bagi Arjuna banyak karya pentolan grup band Dewa ini yang sukses dan menjadi hits.

Arjuna semakin serius dalam karir bermusiknya saat ia pindah ke kota Yogyakarta di tahun 2004, era dimana grup musik Sheila on 7 sedang digandrungi publik. Saat itu, ia membuat sebuah band ‘The Arjuns’  bersama rekan-rekannya. Terhalang biaya rekaman membuat band ini baru membuat demo perdananya di tahun 2014. Arjuna, yang saat itu sudah bekerja sebagai music director di sebuah radio swasta Jawa Tengah, mulai mempromosikan karya-karya The Arjuns. Perkembangan teknologi yang semakin canggih di industri musik turut membantu The Arjuns dalam mempublikasikan karya mereka. Dua tahun wara wiri mempromosikan karya, The Arjuns mendapat tawaran dari label asal Malaysia.

Sayangnya, karena kesibukan masing-masing personilnya, membuat The Arjuns hanya tinggal nama. Hal ini tak lantas membuat Arjuna gentar menghadapi kerasnya industri musik. Ia bangkit dan mengambil jalan untuk solo. Perjalanannya dari kolaborasi di Malaysia saat masih bersama The Arjuns dijadikan jembatan untuk membangun karir solonya. Arjuna terus mengeksplorasi kemampuan bermusiknya hingga ia merilis single perdananya dengan berduet bersama Resty Aziz dibawah naungan label asal Ibukota di tahun 2017.Sejak saat  itu, Arjuna mendapatkan lebih banyak kesempatan manggung baik di dalam maupun luar negeri.

Arjuna tak lantas puas dengan pencapaiannya, ia kemudian mendirikan label sendiri yang diberi nama JSM RECORD. Banyak lagu yang sudah ia kerjakan dan banyak musisi yang sudah bekerjasama dengan penulis lagu “Hujan di Kota Jogja” ini. Bagi Arjuna, musik selalu mengikuti zaman dan ia tak pernah berhenti untuk terus belajar memperdalam kemampuannya dalam bermusik.

Salah satu bukti ia terus meningkatkan kemampuannya di industri musik adalah dengan bergabung di Soundfren. Arjuna ingin mengenal lebih banyak teman musisi yang bisa menambah wawasan bermusiknya. Lewat Soundfren, Arjuna juga ingin mengubah pandangan masyarakat mengenai dunia musik dengan mengenalkan karya-karya yang berkualitas. 

Arjuna secata aktif  mempublikasikan karya-karya, pengalaman, dan tak jarang curhatannya seputar musik di Soundfren. Hal ini ternyata mendatangkan banyak klien yang akhirnya mau berkolaborasi dengannya, seperti misalnya untuk memproduksi lagu. Soundfren adalah aplikasi yang sangat mudah diakses bagi Arjuna. Ia terus berharap agar Soundfren tidak hanya sekadar menjadi aplikasi musik saja namun sebagai music production yang mampu mencetak musisi-musisi berkualitas.

#BikinJalanLo Versi Allson Siringo

“Saya bisa mendapatkan sesi mentoring menulis lagu sekaligus rekaman di program BERISIK lewat Soundfren – Allson Siringo”

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Allson Siringo dan musik sudah menjadi bagian tak terpisahkan. Allson mulai belajar memetik gitar dan mempelajari lagu-lagu karya musisi idolanya seperti Gun’s n Roses, Mr.Big, Last Child, Virgoun, Blink-182, Naif, Avenged Sevenfold, dan banyak lagi.

Menekuni musik sejak belia, tentunya jalan yang Allson tempuh tak selalu mulus. Cerita pahit dan manis selalu menghiasi karir bermusiknya. Ada banyak pula pencapaian yang telah ia raih di industri ini. Ia pernah diundang mengisi acara kampus, masuk playlist streaming musik, dan ia juga pernah mengisi salah satu rubrik di majalah kampus.

Dengan didukung oleh perkembangan teknologi di industri musik yang semakin melesat maju, membuat Allson menjadi lebih mudah mencari  mencari relasi dengan musisi dan mempromosikan karyanya. Salah satu cara yang ia tempuh untuk mendapatkan banyak relasi di dunia musik adalah dengan memanfaatkan aplikasi Soundfren. Di Soundfren, Allson bisa memperluas relasi bermusiknya serta mengikuti berbagai submisi yang ada.

Allson sudah banyak menciptakan lagu dengan genre Alternative Rock salah satunya single yang sudah dirilis bertajuk “Kembali.” Keahlian Allson dalam menulis lagu semakin terasah saat ia terpilih menjadi musisi terpilih program “BERISIK (Belajar Karir di Musik) Eps.1. Ia bersama dua musisi terpilih lainnya mendapatkan sesi mentoring menulis lagu sekaligus rekaman bersama produser musik Estu Pradhana dan solois Gabriel Mayo. Sesuatu yang belum pernah Allson dapatkan sebelum bergabung di Soundfren.

Sejauh ini, Allson sangat puas bergabung di Soundfren. Ia bisa mendapatkan job manggung dengan mengikuti submisi di aplikasi Soundfren. Hal yang paling ia sukai jika karya musiknya dikurasi dan lolos submisi.

#BikinJalanLo Versi Rendra Dgembel (He-Man Band)

“Band saya sudah dua kali dilibatkan di acara yang bekerjasama dengan Soundfren dan selalu menyenangkan – Rendra Dgembel (Drummer He-Man Band)”

Terlahir dari keluarga musisi, Rendra Dgembel sudah tak asing dengan musik. Sang ayah adalah pemain keroncong yang masih aktif hingga saat ini. Sementara Rendra merupakan drummer dari grup musik He-Man Band. Rendra memulai perkenalannya dengan dunia musik saat duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saat itu ia mulai mendengarkan album “Appetite for Destruction” milik GnR dan “Generasi Biru” dari Slank. Sejak saat itu Rendra mulai mengidolakan kedua grup musik tersebut. Ia juga terinspirasi dari Van Hallen, 30s to Mars, AVA, hingga musisi Indonesia saat ini seperti Barasuara dan Pamungkas.

Selama bermusik, Rendra sudah banyak meraih pencapaian baik secara individu maupun bersama band. Banyak hal yang dianggap kecil bagi orang lain namun merupakan pencapaian yang berarti bagi dirinya. Mulai dari berfoto bersama musisi idola, mendapatkan tenda artis, main di panggung-panggung besar, memiliki album, dan namanya tertera sebagai pencipta lagu di album. Tentunya masih banyak pencapaian yang ingin ia raih dengan menekuni jalan di industri musik seperti membuat karya lebih banyak dan lebih baik lagi dengan memanfaatkan teknologi yang sudah semakin maju.

Bagi Rendra, musik dan teknologi adalah dua hal yang saling bersentuhan. Rendra juga merasa perlu bagi dirinya dan band untuk lebih memanfaatkan peran teknologi seperti aktif di media sosial dan aplikasi musik seperti Soundfren yang menjadi wadah untuk bisa terkoneksi dengan sesama musisi lain.

Dengan aktif di Soundfren, He-Man Band sudah dua kali terlibat dalam acara yang bekerjasama dengan Soundfren yakni “Kurasi Musik Vol.4” dan yang terbaru “Indie Air.” Bagi Rendra, Soundfren seperti matahari pagi, memberikan banyak harapan untuk sebuah hari yang panjang dan indah. Sebuah aplikasi yang menghubungkan para musisi saling kenal, berbagi, dan bekerjasama

Rendra berharap Soundfren dapat menjadi sebuah komunitas besar yang ikut maju bersama bersama para penggunanya dan selalu memiliki konten-konten menarik. Selain itu ia juga menaruh harapan agar Soundfren rutin memiliki acara besar setiap tahunnya yang dapat melibatkan para pengguna setianya.

#BikinJalanLo Versi Bartelemi

“Kami mendapat kesempatan untuk tampil di acara Indie Air karena mendaftar melalui Soundfren – Bartelemi

Dimulai dari mendengar berbagai genre musik, dilanjutkan dengan mulai mempelajari instrumen musik hingga kemudian membentuk sebuah band. Itulah awal perjalanan dari grup musik Ibukota, Bartelemi yang terdiri dari mereka yang memiliki cita-cita yang sama di dunia musik.

Di awal terjun ke industri musik, Bartelemi sempat mengalami kejadian kurang menyenangkan yaitu saat tak bisa check sound akibat hal teknis namun walau demikian mereka tetap melanjutkan penampilan sebagai pengisi acara. Kepuasaan para penonton yang hadir saat itu menjadi obat mujarab bagi Bartelemi. Langkah demi langkah baik pahit maupun manis di industri musik tetap mereka jalani hingga akhirnya manpu melahirkan karya yang tertuang lewat lagu “Raga” dan “Deru Waktu.”

Bagi grup musik yang terinspirasi dari The Beatles, Foo Fighter, Blur, Radiohead, dan Extreme ini perkembangan teknologi sangat membantu mereka dalam bermusik mulai dari proses rekaman hingga penampilan di atas panggung. Salah satu perkembangan teknologi yang bisa dirasakan langsung adalah lewat Soundfren

Sebelum bergabung dengan Soundfren, Gerry dkk menaruh harapan agar bisa mendapatkan informasi mengenai acara misik dan bisa berpartisipasi lebih sering di dalamnya. Harapan itu terbukti saat mereka bisa tampil di acara “Indie Air” yang ditayangkan melalui kanal Usee Prime di UseeTV.

Grup musik yang digawangi oleh Bob, Gerry, Batara, Afdha, dan Kiki ini menganggap bahwa Soundfren memiliki banyak fitur untuk menyebarkan karya dan ada fitur yang memberikan banyak informasi mengenai acara musik. Bartelemi berharap Soundfren bisa menjadi wadah untuk semua pemusik indie dan bisa membantu para musisi menyebarkan karya karya nya. Kedepannya Soundfren bisa lebih memperbanyak lagi aktivasi untuk para penggunanya agar karya mereka semakin luas dinikmati masyarakat luas.

#BikinJalanLo Versi Wenny Flowee


“Dengan adanya Soundfren, sangat membantu aku banget untuk promo dan kolaborasi sesama pengguna lainnya – Wenny Flowee”

Sejak masih berusia 5 tahun, Wenny Flowee sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia musik. Dengan dukungan dari keluarga, Wenny banyak mengikuti lomba menyanyi hingga bisa tampil di televisi nasional. Berawal dari menyanyikan lagu milik orang lain, kini Wenny Flowee sudah bisa membuat lagu sendiri. Penyanyi sekaligus penulis lagu ini sangat menikmati semua prosesnya.

Penyanyi yang mengidolakan Taylor Swift ini merasakan bahwa perkembangan teknologi di industri musik sangat berdampak bagi karirnya terlebih dengan maraknya sistem digital. Wenny bukanlah orang yang ahli dalam bidang teknologi tapi baginya ia merasa harus mencoba dan memahaminya.

Di tahun 2019 ini, Wenny Flowee sangat terbantu dengan hadirnya aplikasi jejaring sosial Soundfren. Terbukti dengan banyaknya kolaborasi yang berhasil dilakukan Wenny bersama dengan pengguna Soundfren lainnya. Salah satunya, ia bekerjasama dengan seorang desainer untuk membuat artwork atau video lyric dari karya musiknya melalui Soundfren.

Menurut pelantun “Untuk Lelaki” ini, banyak pengguna Soundfren yang sudah berpengalaman di industri musik dan bisa menjadi rekan kolaborasi. Selain itu, Soundfren juga merupakan wadah untuk promo karya musik. Wenny yang pernah tampil dalam acara Kurasi Musik Vol 1 ini berharap agar Soundfren bisa memperbanyak acara yang bisa mempertemukan para penggunanya seperti Soundfren Meet Up.