#BikinJalanLo Versi Shagah

“Dengan ikutan Soundfren Connect, saya jadi makin matang dalam memahami musik dan berani berkarya lebih gila lagi – Shagah”

Sudah mulai mengenal dan mempelajari alat musik sedari sekolah menengah pertama, Shagah bermimpi untuk bisa berkarir di industri musik. Shagah sempat tertarik untuk masuk ke sekolah musik, namun harapan itu tak terwujud. Ia justru mengambil jurusan lain yang jauh dari musik dengan tetap menekuni musik.

Penggemar dari Linkin Park, Radiohead, Caspian, Tides from Nebula, dan Hammock ini kini telah memiliki album instrumen bergenre post rock. Keseriusan Shagah dalam industri musik membawanya pada banyak pengalaman dan kisah baru termasuk merasakan pahit manisnya proses pembuatan album dan video musik.

Telah memiliki album dan beberapa single hits, tak membuat musisi asal Kupang ini berpuas diri, ia terus menambah pengetahuan baru terkait musik. Selama pandemi yang membuat kegiatan musiknya menjadi berbeda dari biasanya, Shagah banyak mengikuti webinar interaktif termasuk di Soundfren Connect. 

Berawal dari melihat promosi yang dipublikasikan oleh akun salah satu media partner yakni @kuassa, Shagah tertarik mengikuti Soundfren Connect dengan materi “Menghitung dan Menyiasati Budget Produksi Sebuah Lagu” yang dibawakan oleh Rayhan Noor dan Dimas Ikhsantama. Keaktifan dan antusiasnya saat sesi berlangsung, membuahkan hadiah dari sponsor Soundfren Connect. Tercatat, pemilik single “Remain Some Air From Them” ini telah mengikuti empat kali sesi Soundfren Connect.

Bagi Shagah, dengan mengikuti Soundfren Connect, ia semakin matang dalam memahami musik, berani berkarya lebih gila lagi, dan bisa membangun jaringan dengan musisi atau produser. Ke depannya ia berharap agar ada materi tentang musik atau album yang baru dirilis dalam sesi Soundfren Connect.

#BikinJalanLo Versi Amethyst Insight


“Setelah ikutan Soundfren Connect bareng Rayhan dan Wisnu, gue jadi tahu gimana caranya ngerencanain dan bikin anggaran yang tepat buat produksi musik – Amethyst Insight”

Tak ada yang menyangka seorang Matt akan begitu mencintai musik. Pasalnya pemilik nama panggung Amethyst Insight ini pernah mengikuti les musik karena sebuah keterpaksaan. Matt baru tertarik pada dunia musik saat duduk di bangku SMA, bertahun-tahun setelah mengikuti les musik.

Saat berseragam putih abu-abu, Matt mulai menemukan kebahagiaan lewat musik. Ia mulai tampil di pentas seni sekolah dan melihat betapa luar biasanya luapan kegembiraan orang-orang saat menonton aksi panggungnya. Sejak hari itu Matt dan musik menjadi tak terpisahkan.

Matt yang memulai karir bermusiknya dengan menyanyikan lagu-lagu milik musisi idolanya secara perlahan telah menghasilkan karya sendiri. Lagu-lagu yang ia buat, ia bagikan lewat platform media sosial tak terkecuali lewat Soundfren. Terakhir, Matt membagikan karyanya yang berjudul It’s Okay. Pujian dan komentar banyak ia terima dan dijadikannya sebagai motivasi untuk bisa menjadi musisi besar dengan karya-karya yang berkualitas serta digemari banyak orang.

Penggemar dari Rex Orange County, Baskara, Rich Brian, dan Ardhito Pramono ini merasa sangat terbantu dengan kehadiran platform jejaring sosial salah satunya seperti Soundfren. Di fitur “Artist Spotlight”, Matt menjadi lebih mudah untuk membagikan karyanya. Ia juga bisa langsung melihat respon dari para pendengar karyanya.

Selain menjadikan Soundfren untuk promosi karya, Matt merasa bahwa Soundfren bisa memperluas wawasan bermusiknya. Khususnya setelah ia mengikuti salah satu webinar di Soundfren Connect. Usai mengikuti sesi bersama Rayhan Noor dan Wisnu Ikshantama yang membahas mengenai “Menghitung dan Menyiasati Budget Produksi Sebuah Lagu”, Matt mendapatkan pandangan baru yang siap ia terapkan untuk proses bermusiknya. Matt jadi bisa membuat perencanaan anggaran untuk segala tahapan dalam produksi musik, dari pra produksi hingga bagian promosi.

Dengan banyak manfaat yang ia dapatkan, Matt tak ragu untuk kembali mengikuti sesi Soundfren Connect selanjutnya. Sebagai wadah yang bisa mempertemukan Matt dengan musisi-musisi profesional yang sudah berpengalaman baik lewat Soundfren Connect maupun fitur-fitur lainnya, Matt berharap Soundfren bisa terus hadir menemani sebagai teman bermusiknya.

#BikinJalanLo Versi Gilbert Pohan

“Kehadiran Soundfren sangat membantu saya untuk promosi. Gak hanya itu, Soundfren juga bikin saya bisa menjalin relasi dan koneksi baru dengan teman-teman di industri musik – Gilbert Pohan”

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Gilbert Pohan telah menaruh ketertarikan akan musik. Berbeda dari anak seusianya yang lebih tertarik melatih vokal, Gilbert fokus untuk mendalami gitar akustik. Sejak saat itu, ia terus mengembangkan diri di jalur musik.

Kini, Gilbert mulai memetik hasil dari usahanya sedari kecil. Banyak karya telah ia rilis. Sebagai solois, Gilbert telah meluncurkan album debut “Pesan Yang Tertunda” di tahun 2014 silam. Setahun berselang, single “Mimpi Kita” didapuk sebagai salah satu original soundtrack Filosofi Kopi The Movie. Ia juga merilis karya “Terjatuh & Tumbuh” pada tahun lalu. Di tengah pandemi, Gilbert tetap terus produktif dengan meluncurkan single “Engkau Ada”. Selain sebagai solois, bersama grup musiknya Arah, Gilbert terlibat dalam single “I Want To Rock n Roll” yang menjadi soundtrack dari film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.

Tak hanya di atas panggung, Gilbert juga aktif di balik layar sebagai penulis lagu, komposer, produser, dan vocal director. Sebagai composer dan produser, single “Loveless”, yang dibawakan oleh Alex Ramp menjadi salah satu hasil karyanya.

Kehadiran teknologi di industri musik memberikan kemudahan bagi Gilbert untuk menjalani karir di industri musik. Akses untuk produksi dan rilis karya jauh yang jauh lebih fleksibel menjadi salah satu alasan Gilbert terus mengikuti tren teknologi khususnya di bidang permusikan. Gilbert tak ragu untuk mencoba beragam platform digital guna memproduksi dan mempromosikan karyanya. Salah satunya lewat Soundfren.

Sebagai seorang musisi, Gilbert menyadari bahwa ia membutuhkan koneksi dan relasi yang bisa memberikan efek positif untuk karirnya. Bagi Gilbert, Soundfren bisa membantunya menemukan relasi dan menjalin koneksi dengan para pengguna musik dari beragam profesi yang ada di dunia musik. Gilbert yang pernah tampil di salah satu acara Soundfren, DiLo Hackathon Festival 2019 merasa bahwa Soundfren juga bisa menjadi wadah promosi dan publikasi untuk para musisi.

Dengan hadirnya Soundfren, promosi karya menjadi semakin mudah dilakukan. Gilbert berharap agar Soundfren dapat mempertahankan eksistensinya sebagai sosial media musik untuk para penggiat musik.

#BikinJalanLo Versi New17band


“Video clip dari lagu Rasa Yang Tlah Mati berhasil tayang di UseeTV dan membuat karya kami makin bisa dinikmati oleh banyak orang – New17band”

Dunia musik membuat masing-masing personel grup musik New17band menjadi diri mereka sendiri tanpa harus menjadi orang lain. Hal inilah mengapa mereka bergabung menjadi satu kesatuan yang sangat menyukai musik di New17band. Bagi grup musik asal Samarinda ini, siapa pun yang membuat musik menjadi aura positif itulah panutan mereka dalam bermusik.

Pandemi COVID-19 membuat strategi bermusik New17band mendadak berubah total. Tak ada lagi jadwal manggung yang padat merayap di setiap minggunya. Beruntung, kecanggihan teknologi membuat New17band bisa bertahan di tengah pandemi. Banyaknya konser maupun jamming-jamming daring hingga webinar interaktif permusikan yang diikuti masing-masing personelnya membuat mereka terus produktif dalam berkarya.

Teknologi sangat memudahkan New17band untuk mengarungi industri musik. Beragam platform musik digital mereka ikuti demi melancarkan karir di industri musik. Salah satunya dengan gabung di Soundfren.

Bagi New17band bergabung dengan Soundfren merupakan pencapaian yang lebih baik karena membuat karya mereka makin bisa dinikmati oleh siapapun. Terlebih setelah lolos submisi “Indie Air”, video musik “Rasa Yang Tlah Mati” bisa tayang di UseeTV dan ditonton banyak orang. Sebelumnya untuk menonton video clip ini hanya bisa dari YouTube. Hal ini membuat karya New17band menjadi lebih dikenal masyarakat luas.

New17band ingin agar Soundfren bisa selalu membuat terobosan baru untuk industri musik, membuat acara-acara yang menarik dan berkualitas. New17band juga berharap agar tampilan fitur-fitur di aplikasi bisa terus ditingkatkan dan makin banyak benefit untuk premium user Soundfren.


#BikinJalanLo Versi Hinar Titah

Fitur-fitur dalam aplikasi Soundfren gak cuman untuk promosi tetapi juga berbagi info soal musik. Keren! – Hinar Titah”

Saat duduk di bangku sekolah dasar dan melihat banyak kakak kelas memainkan musik, Hinar Titah mulai tertarik untuk mengenal musik. Ia memulai dengan mempelajari alat musik gitar. Seiring waktu, ia juga mendalami vokal yang bisa mendukung karir bermusiknya.

Sekarang, penggemar dari John Mayer ini telah memiliki beberapa single lengkap dengan video musiknya yang diunggah lewat platform media sosial. Bahkan untuk video musik “Berlibur Sendiri” telah ditayangkan di program Indie Air di UseeTV usai Hinar Titah terpilih sebagai salah satu peserta submisi yang diadakan di Soundfren. Selain bermusik, ia juga terlibat dalam beberapa proyek film pendek.

Karya musik Hinar Titah cepat dikenal oleh masyarakat luas dengan adanya teknologi yang semakin canggih di industri musik. Menurutnya, perkembangan teknologi sudah pasti sangat membantu musisi seperti dirinya yang bergerak secara independen dari proses produksi sampai tahap promosi. Hal ini membuat semua musisi memiliki peluang yang sama untuk dikenal luas di masyarakat.

Dari kecanggihan teknologi, jalan bermusik musisi asal Balikpapan ini semakin mulus. Meski tak mudah, ia terus mencari peluang lewat platform-platform digital tak terkecuali menjajal Soundfren. Bagi Hinar Titah, Soundfren beda dari aplikasi lain, fitur-fitur dalam aplikasi Soundfren tidak hanya untuk wadah promosi karya tetapi juga berbagi info dan lain-lain soal musik. 

Setelah bergabung dengan Soundfren, Hinar Titah banyak mendapatkan teman dari sesama musisi yang ia harapkan kedepannya bisa membantunya belajar lebih dalam soal apapun di dunia musik saat ini. Hinar Titah berharap agar Soundfren terus ada dan selalu menyediakan fitur-fitur yang senantiasa mendukung karir musik para penggunanya.

#BikinJalanLo Versi Marko Savana


“Pandangan dan wawasan bermusik semakin tercerahkan khususnya yang terkait promosi musik dengan ikutan webinar interaktif di Soundfren Connect – Marko Savana”

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, begitu pun dengan Marko Savana. Kecintaan orang tuanya akan musik menular ke dalam diri Marko. Hobi bermusik Marko didukung penuh oleh orang tuanya. 

Marko kecil sudah mulai mengikuti kursus bermusik gitar klasik. Ketekunan Marko dalam mengikuti kursus dan dukungan dari orang tua membuat Marko sukses meraih juara 1 lomba gitar klasik di Surabaya. 

Di tengah kegiatan bermusiknya, Marko menekuni dunia fotografi yang membawanya bertemu dengan lebih banyak teman-teman di industri musik. Selain bermain gitar, Marko kerap kali diminta untuk menjadi fotografer beberapa band lokal di Surabaya.

Ingin memperkuat relasi bermusik, Marko yang mengidolakan Tommy Emmanuel, Jubing Kristianto, Mateus Asato, dan Mike Dawes ini mencoba untuk menjajal aplikasi Soundfren. Media sosial Instagram mempertemukan Marko dengan Soundfren dan membawanya berkenalan dengan para penggiat musik yang tergabung di Soundfren.

Semakin lama bergabung di Soundfren, ada hal lain yang Marko dapatkan selain menciptakan dan memperkuat relasi di dunia musik. Marko mendapatkan pandangan dan pemahaman baru seputar musik lewat Soundfren Connect.

Tak kurang dari 4 sesi yang telah Marko ikuti, terbaru ia mengikuti webinar interaktif bersama Noor Kamil dari MASPAM RECORDS yang membahas “Jurus Pemasaran Musik Digital di Era Pandemi”. Marko sangat berterima kasih dengan hadirnya Soundfren Connect ia tetap bisa produktif dan mendapatkan ilmu baru di tengah pandemi ini khususnya ilmu yang terkait promosi musik.

Marko berharap Soundfren Connect bisa terus hadir dengan beragam topik yang menarik dari industri musik baik lokal maupun internasional. Ia juga berharap Soundfren bisa terus hadir menemani kehidupan bermusiknya.

#BikinJalanLo Versi Jatiprima Handali

“Lewat Soundfren, saya bisa ketemu sekaligus nambah ilmu dari pakarnya langsung di Soundfren Connect! – Jatiprima Handali”

Beragam genre musik sudah dicobanya, namun Jatiprima Handali selalu terus memperdalam kemampuan bermusiknya khususnya bermain gitar. Sejak duduk dibangku SMP, Jatiprima mulai menemukan gairah bermusik. Ia belajar memetik gitar dan memainkan musik rock era 80-90an. Saat memasuki sekolah menengah atas, ia mencoba mendalami perkusi.

Tak berhenti disitu, saat kuliah ia banting setir dengan mempelajari biola dan menelaah lagu-lagu klasik. Jatiprima juga aktif di beberapa komunitas musik dan orkestra. Saat ini, ia tengah belajar dan mendalami gitar kembali.

Berbagai genre dan beragam alat musik ia pelajari sejak awal perkenalannya dengan musik hingga saat ini. Musik telah memberikan arti penting dalam hidupnya. Bahkan musik telah membawa Jatiprima sukses mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Panggung ke panggung ia datangi untuk membayar uang kuliah hingga lulus.

Musik pula yang mempertemukan Jatiprima dengan Soundfren. Jatiprima yang saat ini tengah menyukai musik-musik dari Mac DeMarco sangat antusias mengikuti beragam kegiatan bermusik yang diadakan oleh Soundfren, salah satunya Soundfren Connect. Webinar interaktif yang mempertemukan para penggiat musik dengan obrolan seputar topik-topik dan isu terhangat dari industri musik.

Jatiprima mengikuti kelas membuat lagu bersama Sir Dandy dan Riko Prayitno, personel dari grup musik Mocca. Tak hanya mempelajari pembuatan lagu, ia juga mengambil sesi khusus mempelajari digital recording. Bagi Jatiprima, lewat Soundfren Connect bisa mendapatkan ilmu langsung dari pembicara yang berpengalaman di dunia musik. 

Di tengah pandemi ini, Soundfren telah memberikan manfaat untuk karir bermusiknya dengan menghadirkan fitur Soundfren Connect. Jatiprima berharap Soundfren bisa semakin kreatif dalam memajukan musik di indonesia dan bisa membuat musisi-musisi Indonesia melanglang buana hingga mendunia.

#BikinJalanLo Versi Rangga Pranendra

“Kedepannya saya berharap bersama Soundfren akan lebih banyak lagi orang yang mendengar karya-karya ciptaan saya – Rangga Pranendra”

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Rangga Pranendra telah menunjukkan ketertarikannya pada musik. Awalnya ia melihat teman sekelasnya yang kini telah menjadi musisi, Dimas Wibisana sedang mengisi acara di sekolah. Rangga kemudian mulai belajar musik bersama Dimas dengan harapan bisa ikut manggung. Setiap pulang sekolah, Rangga mempelajari hal-hal tentang musik di rumah Dimas. Dimulai dengan belajar memetik gitar hingga berlatih vokal. 

Kerja keras Rangga sedari berseragam putih merah berbuah hasil, kini ia telah memiliki single dan tampil di berbagai panggung. Bahkan belum lama ini, video musik miliknya telah tayang di UseeTV dan UseeTV GO lewat program “Indie Air”.

Rangga yang baru saja merilis single bertajuk “Manis Berbahaya” mengaku jika musik-musiknya banyak dipengaruhi oleh L’Arc-en-Ciel dan Sheila on 7. 

Rangga yang telah mengarungi musik sejak kecil mengalami beberapa momen-momen yang tak bisa lupakan dan akan terus diingat sebagai bagian dari jalan bermusiknya. Ada masa di mana hidup Rangga didedikasikan terhadap sebuah idol group lokal kecintaannya, JKT48. Saking berdedikasinya, lagu-lagu yang ia buat tidak lepas dari elemen mereka. Alhasil, sampai sekarang nama Rangga Pranendra tidak bisa lepas dari embel-embel JKT48. Kecanggihan teknologi membuat Rangga semakin mudah mengakses segala hal tentang idolanya yang kemudian dijadikan sumber inspirasi.

Bicara tentang musik dan teknologi, selain mempermudahnya mencari inspirasi, Rangga merasa sangat terbantu dengan teknologi yang bersinggungan dengan musik seperti platform digital yang memudahkan lagu-lagu karyanya untuk sampai ke telinga para pendengar bahkan ke orang-orang yang tidak ia kenal. Salah satu platform yang ia manfaatkan adalah layanan streaming musik dan juga tentunya Soundfren.

Kehadiran Soundfren membantu Rangga untuk meraih impiannya di industri musik. Walau masih terhitung sebagai pengguna baru, namun Rangga telah merasakan manfaat kehadiran Soundfren salah satunya adalah dengan terpilih untuk meramaikan program “Indie Air”. Rangga berharap bersama Soundfren akan semakin banyak orang yang mendengar lagu-lagu yang ia ciptakan.

#BikinJalanLo Versi Andreas Sinaga


“Kini koneksi bermusik saya semakin luas dan video klip saya bisa tayang di Indie Air, UseeTV – Andreas Sinaga”

Darah seni yang mengalir pada diri Andreas Sinaga menjadikannya seorang musisi. Lahir dari orang tua musisi dan sering melihat para musikus tampil membuat Andreas mengambil jalan untuk berkarir di dunia musik.

Selama menjalani karir di industri musik, penggemar dari Stevie Wonder dan Tulus ini selalu berusaha menarik perhatian di depan khalayak ramai. Baginya, ini merupakan awal untuk membuat cerita menarik dalam karir bermusiknya. Andreas juga berkeyakinan ia mampu membawa hal baru dalam musik. Hal ini ia buktikan dengan merilis beberapa single di antaranya “Hadirat Rasa”, “InKromatik”, dan Pemilik Kisah”.

Sadar jika bakat saja tak cukup untuk membuatnya sukses di industri ini, Andreas terus memperdalam wawasannya. Belajar berimprovisasi dengan alat-alat musik dan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang semakin maju adalah langkah yang ia lakukan sejauh ini untuk menghadapi kerasnya dunia musik.

Setiap hari, penyanyi sekaligus penulis lagu ini selalu mengeksplorasi hal-hal baru salah satunya adalah dengan mencoba bergabung di Soundfren. Kecepatan arus informasi di era teknologi yang kian maju membawa Andreas mengenal Soundfren dan menjelajahi semua fitur di dalamnya. Hingga akhirnya, video klip terbarunya “Hadirat Rasa” disaksikan jutaan penonton usai tayang di Indie Air UseeTV dan dapat disaksikan ulang via aplikasi UseeTV GO.

Selain memberikan kesempatan untuk tampil, Soundfren juga telah membuat koneksi bermusik Andreas semakin luas dan membuat suasana dalam sosialisasi bermusik lebih menarik. Andreas berharap agar Soundfren selalu memberi hal baru dan hal yang baik untuk para pengguna setianya.

#BikinJalanLo Versi Pale Skies


“Soundfren telah memberikan dampak positif untuk karir bermusik kami, banyak pendengar yang tahu karya kami dari sini – Pale Skies”

Ketertarikan pada dunia musik dan ingin memberikan warna baru untuk band duo menjadi awal mula Pale Skies hadir di industri musik tanah air. Keseriusan Miftah Bravenda dan Lingga Salaga mengulik lagu telah melahirkan single perdana yang kemudian diberi judul “Larung Memori”.  Duo yang terbentuk di tahun 2019 ini juga sering menyanyikan dan mengaransemen ulang lagu karya musisi lokal maupun internasional seperti salah satu lagu milik Cigarettes After Sex yang berjudul “Nothing’s Gonna Hurt You Baby”.

Dalam proses pembuatan lagu, ada banyak proses yang terjadi di dalamnya. Hal ini menjadikan Pale Skies menyadari bahwa dalam bermusik harus memiliki banyak elemen yang disiapkan, baik segi produksi maupun promosi. Untuk musisi independen hal ini menjadi sebuah tantangan yang besar.

Salah satu cara duo ambient pop ini menjawab tantangan di dunia musik adalah dengan memanfaatkan teknologi yang kian canggih, baik untuk produksi maupun promosi karya. Tak terkecuali, duo yang terinspirasi dari Cigarettes After Sex dan The Trees and The Wild ini menjadikan Soundfren sebagai jalan untuk berkarya di industri musik.

Aplikasinya yang mudah digunakan membuat Pale Skies semakin nyaman menikmati fitur-fitur yang ditawarkan Soundfren. Bergabung menjadi pengguna Soundfren membuat duo yang dimotori Miftah Bravenda dan Lingga Salaga ini mengalami perkembangan yang positif. Banyak pendengar yang mengetahui karya-karya Pale Skies dari Soundfren.

Pale Skies berharap agar Soundfren bisa menjadi wadah bagi musisi independen yang baru memulai karier maupun yang ingin terus melebarkan kariernya. Selain itu, baik Soundfren maupun Pale Skies bisa memberikan pengaruh positif untuk dunia musik tanah air.