#BikinJalanLo Versi Ardhy Saputro

“Berkat Soundfren, karir musik Saya juga semakin menanjak dan jadi lebih dikenal orang – Ardhy Saputro”

Musik bukan merupakan pekerjaan utama dari seorang Ardhy Saputro, namun musik telah membuatnya jatuh cinta dan menjadi salah salah satu hobi yang menghasilkan. Keisengennya membuat remix hingga flip remix membuahkan satu track perdana yang kini sudah bisa didengar banyak orang. Kini Ardy menjadi lebih sering mengeksplorasi kemampuan bermusiknya disela kesibukan sehari-hari.

Martin Garrix, Avicii, Dipha Barus, Hindia adalah deretan nama musisi yang menjadi panutannya dalam bermusik. Beberapa pertemuan dengan sang idola dan teman-teman di industri musik telah membuat Ardhy semakin mencintai musik. Musik juga yang membuat Ardhy mendapatkan apresiasi, salah satunya lewat pencapaiannya di kontes remix yang diadakan sebuah label ternama dari Belanda. Saat itu Ardhy menempati urutan 22 dari ribuan kontestan yang berpartisipasi. 

Keseriusan Ardhy akan hobi bermusiknya ini semakin ia buktikan dengan terus mengikuti tren teknologi yang ada di bidang musik. Tak terkecuali dengan gabung di Soundfren. Ardhy sangat tertarik untuk mencoba beragam fitur di dalam aplikasi. Bahkan ia juga rajin mengikuti kegiatan tatap muka yang diadakan Soundfren seperti acara Soundfren Meet Up.

Dengan bergabungnya Ardhy di Soundfren, ia mendapatkan kesan yang sangat positif. Jalan karirnya bisa dibilang semakin menanjak. Bahkan kehadirannya di beberapa acara Soundfren membuat musisi asal Jakarta ini bisa bertemu dengan musisi idola hingga berkolaborasi dengan beberapa pengguna Soundfren yang lain dan menciptakan sebuah karya baru. Ardhy berharap, musiknya bisa semakin dikenal oleh masyarakat luas dan semakin mudah untuk berkolaborasi dengan teman-teman musisi di era digital seperti ini.

Ardhy pun menaruh segenggam harap untuk Soundfren. Ia ingin Soundfren semakin banyak penggunanya dan bisa mengembangkan label atau sub label rekaman. Karena kenyataan sekarang adalah banyak musisi lokal yang berusaha mengirimkan karyanya ke pihak label dan tak sedikit dari mereka yang mendapat penolakan. Tak lupa Ardhy juga mengingatkan kepada kita semua untuk menjaga diri di tengah pandemi ini. 

#BikinJalanLo Versi LOR

“Sejak terpilih menjadi band pembuka di +62 Experience, LOR jadi lebih dikenal oleh masyarakat luas – LOR”

Berawal dari ketertarikan menekuni dunia musik, pada Juni tahun lalu, lahirlah sebuah grup musik yang kemudian diberi nama LOR yang terdiri dari Gias, Hanung dan Balia.

LOR terhitung sebagai pendatang baru di industri musik namun grup musik asal Yogyakarta ini sudah berhasil merilis EP perdana pada Februari silam. Berisikan 5 buah lagu, EP bertajuk “Check 1,2,3” merupakan titik awal perjalanan Gias cs di dunia musik. Dalam bermusik, LOR terinspirasi pada musik-musik milik The Stroke, The Hives, Beach Boy, dan The Kooks.

Sejak awal terbentuk, LOR mulai mempromosikan karya musiknya dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi termasuk dengan bergabung di Soundfren. Dengan menjadi pengguna Soundfren, LOR berharap agar bisa terkoneksi dengan musisi lainnya serta karya mereka dapat didengar oleh banyak orang tak terkecuali para penggiat musik.

Sebagai pendatang baru, tentunya LOR butuh banyak panggung untuk bisa mempromosikan band serta karya musik karena promosi digital saja tidak cukup. LOR giat mengikuti submisi di Soundfren hingga, setelah melewati proses panjang, grup musik ini terpilih untuk menjadi band pembuka di konser musik +62 Experience yang dimeriahkan oleh Feel Koplo, Denny Caknan, dan Pamungkas.

Sejak tampil di acara yang berlangsung di Sleman City Hall membuat LOR menjadi lebih dikenal oleh masyarakat luas, khususnya Yogyakarta, dan semakin banyak yang mendengarkan musik karya mereka. LOR berharap agar Soundfren dapat terus mendukung para musisi dan juga profesional musik lainnya.

#BikinJalanLo Versi Rendra Dgembel (He-Man Band)

“Band saya sudah dua kali dilibatkan di acara yang bekerjasama dengan Soundfren dan selalu menyenangkan – Rendra Dgembel (Drummer He-Man Band)”

Terlahir dari keluarga musisi, Rendra Dgembel sudah tak asing dengan musik. Sang ayah adalah pemain keroncong yang masih aktif hingga saat ini. Sementara Rendra merupakan drummer dari grup musik He-Man Band. Rendra memulai perkenalannya dengan dunia musik saat duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saat itu ia mulai mendengarkan album “Appetite for Destruction” milik GnR dan “Generasi Biru” dari Slank. Sejak saat itu Rendra mulai mengidolakan kedua grup musik tersebut. Ia juga terinspirasi dari Van Hallen, 30s to Mars, AVA, hingga musisi Indonesia saat ini seperti Barasuara dan Pamungkas.

Selama bermusik, Rendra sudah banyak meraih pencapaian baik secara individu maupun bersama band. Banyak hal yang dianggap kecil bagi orang lain namun merupakan pencapaian yang berarti bagi dirinya. Mulai dari berfoto bersama musisi idola, mendapatkan tenda artis, main di panggung-panggung besar, memiliki album, dan namanya tertera sebagai pencipta lagu di album. Tentunya masih banyak pencapaian yang ingin ia raih dengan menekuni jalan di industri musik seperti membuat karya lebih banyak dan lebih baik lagi dengan memanfaatkan teknologi yang sudah semakin maju.

Bagi Rendra, musik dan teknologi adalah dua hal yang saling bersentuhan. Rendra juga merasa perlu bagi dirinya dan band untuk lebih memanfaatkan peran teknologi seperti aktif di media sosial dan aplikasi musik seperti Soundfren yang menjadi wadah untuk bisa terkoneksi dengan sesama musisi lain.

Dengan aktif di Soundfren, He-Man Band sudah dua kali terlibat dalam acara yang bekerjasama dengan Soundfren yakni “Kurasi Musik Vol.4” dan yang terbaru “Indie Air.” Bagi Rendra, Soundfren seperti matahari pagi, memberikan banyak harapan untuk sebuah hari yang panjang dan indah. Sebuah aplikasi yang menghubungkan para musisi saling kenal, berbagi, dan bekerjasama

Rendra berharap Soundfren dapat menjadi sebuah komunitas besar yang ikut maju bersama bersama para penggunanya dan selalu memiliki konten-konten menarik. Selain itu ia juga menaruh harapan agar Soundfren rutin memiliki acara besar setiap tahunnya yang dapat melibatkan para pengguna setianya.

#BikinJalanLo Versi Bartelemi

“Kami mendapat kesempatan untuk tampil di acara Indie Air karena mendaftar melalui Soundfren – Bartelemi

Dimulai dari mendengar berbagai genre musik, dilanjutkan dengan mulai mempelajari instrumen musik hingga kemudian membentuk sebuah band. Itulah awal perjalanan dari grup musik Ibukota, Bartelemi yang terdiri dari mereka yang memiliki cita-cita yang sama di dunia musik.

Di awal terjun ke industri musik, Bartelemi sempat mengalami kejadian kurang menyenangkan yaitu saat tak bisa check sound akibat hal teknis namun walau demikian mereka tetap melanjutkan penampilan sebagai pengisi acara. Kepuasaan para penonton yang hadir saat itu menjadi obat mujarab bagi Bartelemi. Langkah demi langkah baik pahit maupun manis di industri musik tetap mereka jalani hingga akhirnya manpu melahirkan karya yang tertuang lewat lagu “Raga” dan “Deru Waktu.”

Bagi grup musik yang terinspirasi dari The Beatles, Foo Fighter, Blur, Radiohead, dan Extreme ini perkembangan teknologi sangat membantu mereka dalam bermusik mulai dari proses rekaman hingga penampilan di atas panggung. Salah satu perkembangan teknologi yang bisa dirasakan langsung adalah lewat Soundfren

Sebelum bergabung dengan Soundfren, Gerry dkk menaruh harapan agar bisa mendapatkan informasi mengenai acara misik dan bisa berpartisipasi lebih sering di dalamnya. Harapan itu terbukti saat mereka bisa tampil di acara “Indie Air” yang ditayangkan melalui kanal Usee Prime di UseeTV.

Grup musik yang digawangi oleh Bob, Gerry, Batara, Afdha, dan Kiki ini menganggap bahwa Soundfren memiliki banyak fitur untuk menyebarkan karya dan ada fitur yang memberikan banyak informasi mengenai acara musik. Bartelemi berharap Soundfren bisa menjadi wadah untuk semua pemusik indie dan bisa membantu para musisi menyebarkan karya karya nya. Kedepannya Soundfren bisa lebih memperbanyak lagi aktivasi untuk para penggunanya agar karya mereka semakin luas dinikmati masyarakat luas.

#BikinJalanLo Versi Camelia Jonathan


“Pencapaian pribadi tahun ini adalah bisa satu gig bersama musisi perempuan yang saya kagumi , Ayu Ting Ting” – Camelia Jonathan”

Camelia Jonathan sudah hobi menyanyi sejak kecil dan mulai menulis lagu sejak duduk di bangku sekolah dasar. Baru saat menjadi mahasiswa di tahun 2007, ia memulai rekaman lagu untuk pertama kalinya. Setelah itu, CJ sapaan akrab Camelia, mulai menjalani setiap langkah untuk bisa berkomitmen di dunia musik.

Salah satu musisi yang menginspirasi CJ adalah Imogen Heap, karena menurut CJ beliau adalah seorang perempuan, mandiri, dan pionir dalam bidang teknologi dan musik. Dari beliau, CJ senantiasa diingatkan untuk menyaring bunyi-bunyian dan inspirasi yang positif dari sekedar kebisingan dan energi negatif di sekitar yang kadang tidak bisa kita hentikan.

Selama 12 tahun berkolaborasi dan mencoba berbagai hal di industri kreatif dan konten digital, CJ banyak menemukan hal-hal baru sekaligus membuat pencapaiannya di dunia musik semakin bertambah. Salah satunya terjadi di tahun ini, dimana ia bisa berada satu acara bersama musisi perempuan idolanya, Ayu Ting Ting di acara Langit Musik x Soundfren. CJ juga berencana untuk mengadakan solo gig dalam waktu dekat untuk membawakan karya-karya dan cerita dalam konsep miliknya sendiri.

Bagi CJ, perkembangan teknologi yang telah merambat ke industri musik semakin mendorong kolaborasi seni dan sains untuk memecahkan masalah-masalah, khususnya di industri musik. Sayangnya, penggunaan teknologi oleh musisi di Indonesia masih sebatas untuk teknikal saja, belum sampai kolaborasi dari segi kreativitas lintas disiplin. Dunia musik di Indonesia bukanlah industri dengan infrastruktur yang ideal seperti di luar negeri.

Dunia musik Indonesia adalah rimba di mana tidak semua musisi bisa berhasil dengan menjalani cara yang sama. Database dan jaringan sangat penting bagi para musisi yang baru ingin memulai karirnya. Komunitas dan jaringan apapun akan sangat membantu, salah satunya dengan adanya aplikasi Soundfren.

Bergabungnya CJ bersama Soundfren membuatnya menambah kenalan di ekosistem musik dan menemukan talenta baru untuk berkolaborasi. Sejauh ini CJ telah mendapatkan 2 gig dari aplikasi Soundfren. Fitur-fitur untuk audisi gig dan berkolaborasi dengan musisi lain sangat membantu sekali. CJ berharap Soundfren terus memperbanyak submisi agar kesempatan musisi untuk tampil semakin terbuka terlebih program offline yang dijalankan Soundfren beberapa bulan terakhir ini terlihat sangat agresif.

#BikinJalanLo Versi Gabriel Mayo

“Salah satu pencapaian dalam karir saya adalah saat buat konser tunggal untuk album terbaru” – Gabriel Mayo”

Bulan November tahun ini menjadi sangat spesial bagi penyanyi Gabriel Mayo. Ia berhasil membuat konser tunggal sekaligus mempromosikan album terbaru bertajuk “In Between”. Dalam mini konser ini juga dimeriahkan oleh musisi yang merupakan pengguna Soundfren.

Sejak kecil Gabriel Mayo sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia musik. Di tengah keseriusannya menjalankan pendidikan formal, Mayo mulai belajar musik instrumen secara otodidak. Dengan didukung oleh orang-orang terdekatnya, Mayo semakin semangat dan serius menekuni dunia musik. Bagi Mayo, dari orang-orang sekitarnya, ada pelajaran yang bisa ia ambil dan sangat membantunya dalam berkarir diindustri musik.

Perkembangan teknologi yang masuk ke industri musik siap tidak siap harus dihadapi oleh para musisi, tak terkecuali Gabriel Mayo. Menurut pelantun “Insomnia”, perkembangan teknologi harus diikuti, dipelajari, dan disinergikan. Orang yang berhasil adalah mereka yang bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi apapun.

Salah satu langkah Gabriel Mayo dalam mengikuti perkembangan teknologi ini adalah dengan bergabung ke Soundfren. Aplikasi untuk para musisi ini membantu Mayo menghubungkan segala aspek tentang musisi. Gabriel Mayo dan Soundfren juga pernah bekerjasama mencari musisi terpilih untuk menjadi pengisi acara dalam “In Between Showcase”. Selain akhirnya bertemu dengan pengguna Soundfren yang menjadi pengisi acara konser tunggalnya, Mayo juga menemukan teman-teman musisi dengan karya-karya bagus.

Gabriel Mayo berharap ke depannya, Soundfren bisa berkembang lebih baik dan terus menghubungkan antar musisi tanah air. Apapun kendalanya, akan selalu ada jalan untuk mengatasinya.

#BikinJalanLo Versi Magnesence

Semoga Soundfren tetap eksis demi memajukan musik di Indonesia – Magnesence”

Di tahun 2018 grup musik Magnesence sempat merilis single perdana, namun tak lama mereka ditinggalkan oleh sang vokalis. Keadaan ini tak membuat Magnesence menyerah, di tahun ini mereka mulai bangkit dengan semangat yang lebih baru sehingga menjadi semakin banyak yang mendengarkan grup musik asal Bandung ini.

Magnesence merupakan band indie pop yang terbentuk pada tahun 2012 di kota Bandung. Berawal dari keinginan membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri dan diperdengarkan ke banyak orang menjadi awal mula perjalanan grup band yang kini telah pindah ke Jakarta ini.

Grup musik yang mengidolakan Michael Jackson, John Mayer, Jason Mraz, dan 4 Peniti ini merasakan kemajuan teknologi cukup berperan positif dalam karir musik. Perkembangan teknologi yang merambah industri musik membuat jalur distribusi karya musisi indie bisa dengan mudah untuk diakses dan secara tidak langsung dapat tahulebih dalam mengenai kegiatan para musisinya. 

Salah satu langkah Magnesence dalam mengikuti kemajuan teknologi adalah dengan bergabung menjadi pengguna Soundfren. Selain untuk ajang bertemu dengan sesama musisi, Magnesence juga berharap bisa berdiskusi dan berkolaborasi dengan penggiat musik di Soundfren. 

Soundfren telah membuka jalan Magnesence semakin lebar diindustri musik. Grup musik dengan hits Hypothermia ini sudah bisa tampil dibeberapa acara musik dimana juga dapat menambah teman baru. Sejauh ini Magnesence sudah dua kali tampil diacara yang diadakan Soundfren, yakni pada Ngelisan Vol.5 pada bulan Agustus 2019 dan dua bulan berikutnya mereka mendapatkan kesempatan mengisi acara di Kurasi Musik Vol. 2.

Magnesence berharap Soundfren akan terus selalu ada untuk para profesional musik. Selain itu, mereka juga berharap agar Soundfren terus mempertahankan eksistensinya untuk memajukan musik Indonesia.

#BikinJalanLo Versi Hellwe Official

“Pasti Soundfren akan menghasilkan impact yang sangat besar buat band kami – Hellwe”

Grup musik Hellwe percaya jika keseimbangan antara realita dan idealisme dapat dituangkan ke dalam sebuah karya musik. Lewat musik, grup musik asal Tangerang Selatan ini bisa melakukan apapun yang diinginkan dan tidak bisa dilakukan di luar realita. Hellwe menuangkan semuanya lewat nada-nada rock alternative.

Berbicara soal kecintaan dibidang musik, Hellwe yang terdiri dari 5 orang ini memiliki cerita menarik mengenai pengalaman manggung pertama mereka. Pertama kali mereka diundang menjadi bintang tamu sebuah acara musik metal core dan underground, namun justru Hellwe merasa bahwa musik mereka tidak sesangar band-band pembuka lainnya. 

Pengalaman tampil pertama kali memberikan mereka pengalaman berharga untuk aksi panggung selanjutnya. Terlebih saat ini Hellwe merasakan perkembangan teknologi di industri musik memberikan mereka banyak panggung untuk tampil. Lewat kemajuan teknologi, grup yang mengidolakan For Get Me A Nots merasakan kemudahan untuk promosi dan bebas untuk menciptakan karya lalu mempublikasikannya dimanapun berada. 

Bagi Hellwe, perkembangan teknologi ini tergantung dari seniman itu sendiri, apakah mereka bisa memanfaatkannya dan mengikuti dengan baik. Hellwe juga memilih Soundfren sebagai wadah untuk membangun jaringan dan mengenalkan karya mereka agar bisa dinikmati banyak orang. Hellwe telah merasakan pengaruh positif dari perkembangan teknologi lewat Soundfren. Grup musik dengan hits “Sancaka” ini pernah menjad musisi terpilih Kurasi Musik Vol.3 yang proses submisinya dilakukan melalui Soundfren.

HeHellwe percaya bahwa Soundfren sebagai wadah untuk para musisi dapat memberikan pengaruh yang besar bagi para penggiat musik. Untuk bisa terus memberikan langkah positif bagi para penggunanya, Hellwe berharap jika Soundfren terus mengembangkan fitur-fitur menarik dan menjadi sarana promosi bagi para musisi.