#BikinJalanLo Versi Riko Bobot

“Soundfren Connect bisa jadi bekal saya dalam menciptakan karya atau tampil di panggung-panggung musik suatu hari nanti – Riko Bobot”

Berawal dari hobi menyanyi, Riko Bobot mulai tertarik mendalami musik. Saat remaja, ia beberapa kali tampil baik solo, band, maupun paduan suara. Jalan bermusik Riko tak selalu indah, penggemar dari Afgan, Yovie Widianto, Shawn Mendez, dan Billie Eilish ini pernah gagal dalam mengikuti audisi ajang pencarian bakat menyanyi di tanah air.

Meskipun saat ini Riko tidak berprofesi di bidang musik, tapi baginya musik sudah menjadi bagian dalam hidup. Riko terus mencoba belajar dan mengenal industri musik. Besar keinginannya untuk bisa merilis karya sendiri. Salah satu agenda yang ia ikuti untuk menambah pengetahuan bermusiknya dan mewujudkan impiannya ialah lewat Soundfren Connect.

Berawal dari melihat promo Soundfren Connect di platform Instagram, Riko tertarik untuk bergabung bersama praktisi musik dan penggiat musik dalam satu webinar. Hingga kini, tercatat Riko telah mengikuti 3 sesi Soundfren Connect.

Dari Soundfren Connect, Riko banyak mendapat ilmu baru soal industri musik dan mengenal lebih jauh lagi tentang musik. Dengan mengikuti Soundfren Connect, menambah bekal Riko untuk bisa memiliki karya sendiri suatu hari nanti, berkesempatan ambil bagian dari acara-acara musik, dan jadi musisi terpilih di submisi Soundfren.

#BikinJalanLo Versi Shagah

“Dengan ikutan Soundfren Connect, saya jadi makin matang dalam memahami musik dan berani berkarya lebih gila lagi – Shagah”

Sudah mulai mengenal dan mempelajari alat musik sedari sekolah menengah pertama, Shagah bermimpi untuk bisa berkarir di industri musik. Shagah sempat tertarik untuk masuk ke sekolah musik, namun harapan itu tak terwujud. Ia justru mengambil jurusan lain yang jauh dari musik dengan tetap menekuni musik.

Penggemar dari Linkin Park, Radiohead, Caspian, Tides from Nebula, dan Hammock ini kini telah memiliki album instrumen bergenre post rock. Keseriusan Shagah dalam industri musik membawanya pada banyak pengalaman dan kisah baru termasuk merasakan pahit manisnya proses pembuatan album dan video musik.

Telah memiliki album dan beberapa single hits, tak membuat musisi asal Kupang ini berpuas diri, ia terus menambah pengetahuan baru terkait musik. Selama pandemi yang membuat kegiatan musiknya menjadi berbeda dari biasanya, Shagah banyak mengikuti webinar interaktif termasuk di Soundfren Connect. 

Berawal dari melihat promosi yang dipublikasikan oleh akun salah satu media partner yakni @kuassa, Shagah tertarik mengikuti Soundfren Connect dengan materi “Menghitung dan Menyiasati Budget Produksi Sebuah Lagu” yang dibawakan oleh Rayhan Noor dan Dimas Ikhsantama. Keaktifan dan antusiasnya saat sesi berlangsung, membuahkan hadiah dari sponsor Soundfren Connect. Tercatat, pemilik single “Remain Some Air From Them” ini telah mengikuti empat kali sesi Soundfren Connect.

Bagi Shagah, dengan mengikuti Soundfren Connect, ia semakin matang dalam memahami musik, berani berkarya lebih gila lagi, dan bisa membangun jaringan dengan musisi atau produser. Ke depannya ia berharap agar ada materi tentang musik atau album yang baru dirilis dalam sesi Soundfren Connect.

#BikinJalanLo Versi Tuan Kantoran

“Promosi karya dan kesempatan manggung yang hadir lewat Soundfren membuat kami bisa terus bertahan di dunia musik sekarang ini – Tuan Kantoran”

Awalnya bermain musik hanya untuk mengisi waktu luang, namun setelah melihat apresiasi dari orang banyak Tuan Kantoran kini lebih intens meniti karir di industri musik. Kebahagiaan saat bermain musik dan melihat orang-orang terhibur dengan musik mereka menjadi sebuah motivasi Bayu cs untuk terus bertahan di dunia musik.

Tak ada idola yang begitu Tuan Kantoran puja, bagi mereka siapa saja yang bermain musik dengan baik adalah panutan untuk melahirkan karya. Karya yang berkualitas dan mudah diterima oleh pendengar.

Tahun 2020 menjadi tahun yang istimewa bagi Tuan Kantoran, grup musik asal Jakarta Selatan ini baru saja merilis mini album “Kejar” dengan 6 lagu di dalamnya. Dengan perilisan album baru, tentunya Tuan Kantoran butuh wadah untuk promosi dan memperkenalkan karya baru mereka. Di era yang serba digital ini, Tuan Kantoran menjadikan Soundfren sebagai wadah untuk mengenalkan rilisan terbaru mereka.

Selain mengenalkan lagu-lagu baru di dalam aplikasi, Tuan Kantoran juga menjajal berbagai submisi untuk mendapatkan kesempatan tampil yang bisa menambah jam terbang manggung mereka. Hasilnya, di bulan Agustus lalu mereka terpilih untuk tampil di acara “Kreditan” dan “Sansday”.

Dengan bisa mengenalkan single “Undangan Party”, “Bukan Pahlawan”, “Liburan Keluarga”, dan lainnya serta menambah jam terbang untuk manggung, Tuan Kantoran menganggap bahwa Soundfren bisa membantu mereka untuk berkembang dan melebarkan sayap di dunia musik.

Soundfren telah menjadi bagian dari perjalanan musik Tuan Kantoran. Bayu cs berharap ke depannya Soundfren bisa lebih banyak membuat kegiatan yang memiliki benefit untuk penggunanya seperti konser online di tengah pandemi ini.

#BikinJalanLo Versi Arkandea

“Soundfren Connect bikin wawasan bermusik makin luas dan jadi bisa kenalan sama orang-orang di dunia musik – Arkandea”

Ketertarikan seorang Arkandea pada musik bermula saat masih duduk di bangku SMP. Saat itu, ia sering mendengarkan musik dari soundtrack-soundtrack anime seperti Larc En Ciel. Dari sana, Arkandea mulai merajut impian untuk bisa tampil di atas panggung musik. 

Setelah mengenal musik, penggemar dari Hindia ini menjadi lebih banyak berkenalan dengan orang-orang di industri musik. Ia mulai membangun relasi demi mewujudkan impiannya sekaligus menambah pengetahuan bermusiknya.

Tak kenal lelah, Arkandea terus memperdalam wawasan bermusiknya. Salah satunya lewat Soundfren. Pertama kali ia tahu Soundfren lewat Wisnu Ikhsantama, produser, sound engineer, dan personel dari Glaskaca yang menjadi juga salah satu pembicara di Soundfren Connect.

Mengetahui bahwa di Soundfren Connect ada webinar yang bisa memperkaya ilmu bermusiknya, Arkandea tak ragu untuk mengikuti beberapa sesi di dalamnya. Salah satu sesi yang ia ikuti adalah topik “Bikin Sendiri Musik dari Rumah: Rekaman Gitar dari Rumah” bersama Rayhan Noor dan Wisnu Ikhsantama.

Dari Soundfren Connect, Arkandea menjadi paham proses produksi musik dari tahapan dasar hingga menjadi sebuah musik utuh. Arkandea mencoba mempraktekan apa yang telah ia dapat saat mengikuti Soundfren Connect. Di tengah pandemi, ia tetap bisa memperdalam kemampuan bermusiknya dan terus produktif. Selain bermusik, sekarang Arkandea juga aktif mengisi podcast.

Arkandea berharap Soundfren terus menghadirkan sesuatu yang bisa membuatnya produktif dan bisa semakin mengenal orang-orang dari dunia musik. Perfoma aplikasi Soundfren juga terus ditingkatkan agar ia semakin nyaman berada di dalamnya dan menikmati semua fitur-fitur aplikasi.

#BikinJalanLo Versi Amethyst Insight


“Setelah ikutan Soundfren Connect bareng Rayhan dan Wisnu, gue jadi tahu gimana caranya ngerencanain dan bikin anggaran yang tepat buat produksi musik – Amethyst Insight”

Tak ada yang menyangka seorang Matt akan begitu mencintai musik. Pasalnya pemilik nama panggung Amethyst Insight ini pernah mengikuti les musik karena sebuah keterpaksaan. Matt baru tertarik pada dunia musik saat duduk di bangku SMA, bertahun-tahun setelah mengikuti les musik.

Saat berseragam putih abu-abu, Matt mulai menemukan kebahagiaan lewat musik. Ia mulai tampil di pentas seni sekolah dan melihat betapa luar biasanya luapan kegembiraan orang-orang saat menonton aksi panggungnya. Sejak hari itu Matt dan musik menjadi tak terpisahkan.

Matt yang memulai karir bermusiknya dengan menyanyikan lagu-lagu milik musisi idolanya secara perlahan telah menghasilkan karya sendiri. Lagu-lagu yang ia buat, ia bagikan lewat platform media sosial tak terkecuali lewat Soundfren. Terakhir, Matt membagikan karyanya yang berjudul It’s Okay. Pujian dan komentar banyak ia terima dan dijadikannya sebagai motivasi untuk bisa menjadi musisi besar dengan karya-karya yang berkualitas serta digemari banyak orang.

Penggemar dari Rex Orange County, Baskara, Rich Brian, dan Ardhito Pramono ini merasa sangat terbantu dengan kehadiran platform jejaring sosial salah satunya seperti Soundfren. Di fitur “Artist Spotlight”, Matt menjadi lebih mudah untuk membagikan karyanya. Ia juga bisa langsung melihat respon dari para pendengar karyanya.

Selain menjadikan Soundfren untuk promosi karya, Matt merasa bahwa Soundfren bisa memperluas wawasan bermusiknya. Khususnya setelah ia mengikuti salah satu webinar di Soundfren Connect. Usai mengikuti sesi bersama Rayhan Noor dan Wisnu Ikshantama yang membahas mengenai “Menghitung dan Menyiasati Budget Produksi Sebuah Lagu”, Matt mendapatkan pandangan baru yang siap ia terapkan untuk proses bermusiknya. Matt jadi bisa membuat perencanaan anggaran untuk segala tahapan dalam produksi musik, dari pra produksi hingga bagian promosi.

Dengan banyak manfaat yang ia dapatkan, Matt tak ragu untuk kembali mengikuti sesi Soundfren Connect selanjutnya. Sebagai wadah yang bisa mempertemukan Matt dengan musisi-musisi profesional yang sudah berpengalaman baik lewat Soundfren Connect maupun fitur-fitur lainnya, Matt berharap Soundfren bisa terus hadir menemani sebagai teman bermusiknya.

#BikinJalanLo Versi Gilbert Pohan

“Kehadiran Soundfren sangat membantu saya untuk promosi. Gak hanya itu, Soundfren juga bikin saya bisa menjalin relasi dan koneksi baru dengan teman-teman di industri musik – Gilbert Pohan”

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Gilbert Pohan telah menaruh ketertarikan akan musik. Berbeda dari anak seusianya yang lebih tertarik melatih vokal, Gilbert fokus untuk mendalami gitar akustik. Sejak saat itu, ia terus mengembangkan diri di jalur musik.

Kini, Gilbert mulai memetik hasil dari usahanya sedari kecil. Banyak karya telah ia rilis. Sebagai solois, Gilbert telah meluncurkan album debut “Pesan Yang Tertunda” di tahun 2014 silam. Setahun berselang, single “Mimpi Kita” didapuk sebagai salah satu original soundtrack Filosofi Kopi The Movie. Ia juga merilis karya “Terjatuh & Tumbuh” pada tahun lalu. Di tengah pandemi, Gilbert tetap terus produktif dengan meluncurkan single “Engkau Ada”. Selain sebagai solois, bersama grup musiknya Arah, Gilbert terlibat dalam single “I Want To Rock n Roll” yang menjadi soundtrack dari film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.

Tak hanya di atas panggung, Gilbert juga aktif di balik layar sebagai penulis lagu, komposer, produser, dan vocal director. Sebagai composer dan produser, single “Loveless”, yang dibawakan oleh Alex Ramp menjadi salah satu hasil karyanya.

Kehadiran teknologi di industri musik memberikan kemudahan bagi Gilbert untuk menjalani karir di industri musik. Akses untuk produksi dan rilis karya jauh yang jauh lebih fleksibel menjadi salah satu alasan Gilbert terus mengikuti tren teknologi khususnya di bidang permusikan. Gilbert tak ragu untuk mencoba beragam platform digital guna memproduksi dan mempromosikan karyanya. Salah satunya lewat Soundfren.

Sebagai seorang musisi, Gilbert menyadari bahwa ia membutuhkan koneksi dan relasi yang bisa memberikan efek positif untuk karirnya. Bagi Gilbert, Soundfren bisa membantunya menemukan relasi dan menjalin koneksi dengan para pengguna musik dari beragam profesi yang ada di dunia musik. Gilbert yang pernah tampil di salah satu acara Soundfren, DiLo Hackathon Festival 2019 merasa bahwa Soundfren juga bisa menjadi wadah promosi dan publikasi untuk para musisi.

Dengan hadirnya Soundfren, promosi karya menjadi semakin mudah dilakukan. Gilbert berharap agar Soundfren dapat mempertahankan eksistensinya sebagai sosial media musik untuk para penggiat musik.

#BikinJalanLo Versi New17band


“Video clip dari lagu Rasa Yang Tlah Mati berhasil tayang di UseeTV dan membuat karya kami makin bisa dinikmati oleh banyak orang – New17band”

Dunia musik membuat masing-masing personel grup musik New17band menjadi diri mereka sendiri tanpa harus menjadi orang lain. Hal inilah mengapa mereka bergabung menjadi satu kesatuan yang sangat menyukai musik di New17band. Bagi grup musik asal Samarinda ini, siapa pun yang membuat musik menjadi aura positif itulah panutan mereka dalam bermusik.

Pandemi COVID-19 membuat strategi bermusik New17band mendadak berubah total. Tak ada lagi jadwal manggung yang padat merayap di setiap minggunya. Beruntung, kecanggihan teknologi membuat New17band bisa bertahan di tengah pandemi. Banyaknya konser maupun jamming-jamming daring hingga webinar interaktif permusikan yang diikuti masing-masing personelnya membuat mereka terus produktif dalam berkarya.

Teknologi sangat memudahkan New17band untuk mengarungi industri musik. Beragam platform musik digital mereka ikuti demi melancarkan karir di industri musik. Salah satunya dengan gabung di Soundfren.

Bagi New17band bergabung dengan Soundfren merupakan pencapaian yang lebih baik karena membuat karya mereka makin bisa dinikmati oleh siapapun. Terlebih setelah lolos submisi “Indie Air”, video musik “Rasa Yang Tlah Mati” bisa tayang di UseeTV dan ditonton banyak orang. Sebelumnya untuk menonton video clip ini hanya bisa dari YouTube. Hal ini membuat karya New17band menjadi lebih dikenal masyarakat luas.

New17band ingin agar Soundfren bisa selalu membuat terobosan baru untuk industri musik, membuat acara-acara yang menarik dan berkualitas. New17band juga berharap agar tampilan fitur-fitur di aplikasi bisa terus ditingkatkan dan makin banyak benefit untuk premium user Soundfren.


#BikinJalanLo Versi Grady Legacy

“Soundfren, hadirmu membuat musisi semakin beken! – Grady Legacy”

Musik sudah mendarah daging dalam diri Grady Legacy. Awalnya, ia hanya ikut mendengarkan musik saat mendiang sang kakak memutar lagu-lagu melalui Video CD. Terbiasa mendengarkan musik membuat Grady tertarik untuk mendalaminya khususnya mengenai permainan gitar. Apalagi saat itu, Grady banyak melihat aksi gitar dari musisi idolanya, Steve Vai.

Grady semakin serius untuk mempelajari gitar. Keseriusannya berbuah manis, ia sering mendapatkan penghargaan best guitar player pada kompetisi musik antar SMP. Puncaknya, saat ia duduk di bangku kelas X SMA di tahun 2009, Grady memberanikan diri untuk mengikuti kompetisi gitar online yang diadakan Gitar Plus. Tekad Grady untuk ikut kompetisi semakin bulat saat ia tahu bahwa hadiah utama berupa satu set gitar. Selama ini Grady tak memiliki satu pun gitar pribadi meski telah bermain gitar sedari SMP. Keadaan ekonomi keluarga membuatnya tak bisa membeli gitar saat itu. Keinginan Grady untuk memiliki gitar akhirnya terwujud usai ia dinyatakan sebagai pemenang kompetisi tersebut.

Usai memiliki gitar sendiri, ambisi bermusik penggemar Tuan Tigabelas ini semakin besar. Grady terus memperdalam keahlian bermusiknya. Grady pernah bermimpi untuk bisa masuk dapur rekaman dan memiliki video musik sendiri. Semangat dan kerja kerasnya berbuah hasil. Kini, ia sedang dalam proses pembuatan video musiknya yang keempat. Bahkan video musiknya yang berjudul “Gigih” ditayangkan UseeTV melalui program “Indie Air” usai Grady keluar sebagai salah satu musisi terpilih dari submisi yang diadakan oleh Soundfren.

Selama bermusik, banyak pencapaian yang telah Grady raih. Ia banyak memenangkan beragam penghargaan musik dari tingkat sekolah hingga nasional, memiliki video musik sendiri, hingga memiliki penggemar. Hal ini tak membuatnya berpuas diri. Di tengah kecanggihan teknologi yang berkembang begitu pesat, Ia selalu memperbaiki kualitas bermusiknya apapun situasi dan kondisinya.

Selain terus berbenah dalam produksi karya musiknya, Grady juga aktif menambah relasi dan koneksi bermusik, salah satunya dengan bergabung di Soundfren. Pilihannya bergabung dengan Soundfren tak salah, ia merasa sangat terbantu untuk mempublikasikan karya-karyanya. 

Bagi Grady, Soundfren merupakan aplikasi yang sangat spesifik sebagai wadah untuk penggiat musik. Di Soundfren, ia bisa sharing tentang alat musik, recording, kompetisi, edukasi seputar musik, sampai event musik. Tentu ini sangat membantu Grady untuk mengenalkan karya musiknya lebih luas lagi.

Grady berharap dengan hadirnya Soundfren, semua karya musiknya bisa semakin tersebar luas, ia ingin Indonesia bisa mendengar karyanya.  Grady juga berharap agar Soundfren selalu memberikan kesempatan untuk musisi indie seperti dirinya agar bisa menjadi musisi besar. Karena mimpinya dan banyak teman-teman musisi ialah bisa hidup dari karya dan berkontribusi untuk dunia musik. 

#BikinJalanLo Versi Hinar Titah

Fitur-fitur dalam aplikasi Soundfren gak cuman untuk promosi tetapi juga berbagi info soal musik. Keren! – Hinar Titah”

Saat duduk di bangku sekolah dasar dan melihat banyak kakak kelas memainkan musik, Hinar Titah mulai tertarik untuk mengenal musik. Ia memulai dengan mempelajari alat musik gitar. Seiring waktu, ia juga mendalami vokal yang bisa mendukung karir bermusiknya.

Sekarang, penggemar dari John Mayer ini telah memiliki beberapa single lengkap dengan video musiknya yang diunggah lewat platform media sosial. Bahkan untuk video musik “Berlibur Sendiri” telah ditayangkan di program Indie Air di UseeTV usai Hinar Titah terpilih sebagai salah satu peserta submisi yang diadakan di Soundfren. Selain bermusik, ia juga terlibat dalam beberapa proyek film pendek.

Karya musik Hinar Titah cepat dikenal oleh masyarakat luas dengan adanya teknologi yang semakin canggih di industri musik. Menurutnya, perkembangan teknologi sudah pasti sangat membantu musisi seperti dirinya yang bergerak secara independen dari proses produksi sampai tahap promosi. Hal ini membuat semua musisi memiliki peluang yang sama untuk dikenal luas di masyarakat.

Dari kecanggihan teknologi, jalan bermusik musisi asal Balikpapan ini semakin mulus. Meski tak mudah, ia terus mencari peluang lewat platform-platform digital tak terkecuali menjajal Soundfren. Bagi Hinar Titah, Soundfren beda dari aplikasi lain, fitur-fitur dalam aplikasi Soundfren tidak hanya untuk wadah promosi karya tetapi juga berbagi info dan lain-lain soal musik. 

Setelah bergabung dengan Soundfren, Hinar Titah banyak mendapatkan teman dari sesama musisi yang ia harapkan kedepannya bisa membantunya belajar lebih dalam soal apapun di dunia musik saat ini. Hinar Titah berharap agar Soundfren terus ada dan selalu menyediakan fitur-fitur yang senantiasa mendukung karir musik para penggunanya.

#BikinJalanLo Versi Smokeguns

“Kami lebih mudah mempromosikan karya atau mendapat info manggung lewat canggihnya teknologi, salah satunya lewat Soundfren – Smokeguns”

Terlahir untuk mendengar melodi nada dengan detak jantung bagaikan tempo, musik adalah jiwa bagi Smokeguns.  Hidup bersama musik adalah hal yang menghubungkan para personel Smokeguns. Bahagia rasanya saat bisa menghibur orang banyak dengan melihat mereka bergembira lewat musik-musik karya Smokeguns.

Bagi para personel Smokeguns, menghibur orang dengan karya mereka adalah sebuah pencapain tersendiri yang tak ternilai. Penyuka musik-musik Koesplus, Dewa19, Iwan Fals, Led Zeppelin, The Tielman ini merasa bahwa menghibur orang semakin mudah dengan segala kecanggihan teknologi yang tersedia di era sekarang. Mereka lebih mudah mempromosikan karya-karya atau mendapat info manggung lewat canggihnya teknologi. Salah satunya lewat Soundfren.

Pemilik single Kita Semua Sama ini menganggap Soundfren adalah suatu wadah para penggiat musik yang hebat dan Smokeguns ingin menjadi salah satunya untuk menambah dan berbagi ilmu.  Dengan menjadi pengguna Soundfren, Smokeguns ingin musik mereka lebih bisa dikenal berbagai kalangan dari muda hingga tua. Dengan terpilih di program “Indie Air” di UseeTV, harapan Smokeguns perlahan mulai terwujud. Video musik bertajuk “Pagi” yang ditayangkan UseeTV menjadi semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Smokeguns selalu berharap agar Soundfren dan Smokeguns selalu bisa menjadi lebih baik untuk industri musik tanah air. Soundfren bisa semakin mewadahi para penggiat musik dan Smokeguns bisa lebih mengenalkan karya-karya ciptaan mereka.