Beberapa Profesi di Industri Musik Yang Perlu Kamu Tahu


Di era kayak sekarang profesi di bidang seni cukup menjanjikan kalau kamu tekuni dengan baik, Fren. Ada beberapa pilihan profesi jika kamu serius menekuni industri musik sesuai dengan passion kamu, Fren. Apa ajah tuh? Yuk disimak, Fren!

  1. Selektor Musik. Profesi ini cocok untuk kamu yang senang mendengarkan musik dan membuat daftar putar (playlist). Jadi, hal yang kamu lakukan adalah memilih lagu yang cocok didengarkan untuk suasana atau event tertentu.
  2. Artist and Repertoire (A&R).A&R merupakan salah satu divisi yang ada di label rekaman. Orang-orang yang bekerja di divisi ini merupakan para pencari bakat di bidang musik. Mereka juga bertugas mencari tren baru, entah lagu, musisi atau penyanyi.
  3. Promotor Musik.Promotor memiliki sejumlah tanggung jawab ketika akan menggelar konser musik, mulai dari pitching dengan manajer musik atau musisi secara langsung. Selain itu, promotor juga bertugas menyediakan kebutuhan artis, merancang acara, mencari tempat, mempromosikan acara serta memastikan kelancaran berjalannya konser musik.
  4. Produser Rekaman. Secara garis besar, profesi ini bertanggungjawab menciptakan stabilitas yang diperlukan musisi serta memberi ‘karakter’ kuat pada lagu-lagu ciptaan atau yang dibawakan musisi.
  5. Musisi. Profesi ini adalah pemain musik yang bisa dikategorikan sebagai penyanyi, session player, arranger, composer dan konduktor. Orang yang berprofesi sebagai musisi mempunyai bakat yang luar biasa karena dia harus bisa mengenal nada, menciptakan lagu dan mengaransemen lagu sehingga menjadi suatu karya.

Kalau kamu sendiri, tertarik untuk memilih profesi apa nih Fren di industri musik?

Apapun pilihan kamu, Soundfren akan selalu menemani karir bermusikmu, Fren!

#BikinJalanLo Versi Ardhy Saputro

“Berkat Soundfren, karir musik Saya juga semakin menanjak dan jadi lebih dikenal orang – Ardhy Saputro”

Musik bukan merupakan pekerjaan utama dari seorang Ardhy Saputro, namun musik telah membuatnya jatuh cinta dan menjadi salah salah satu hobi yang menghasilkan. Keisengennya membuat remix hingga flip remix membuahkan satu track perdana yang kini sudah bisa didengar banyak orang. Kini Ardy menjadi lebih sering mengeksplorasi kemampuan bermusiknya disela kesibukan sehari-hari.

Martin Garrix, Avicii, Dipha Barus, Hindia adalah deretan nama musisi yang menjadi panutannya dalam bermusik. Beberapa pertemuan dengan sang idola dan teman-teman di industri musik telah membuat Ardhy semakin mencintai musik. Musik juga yang membuat Ardhy mendapatkan apresiasi, salah satunya lewat pencapaiannya di kontes remix yang diadakan sebuah label ternama dari Belanda. Saat itu Ardhy menempati urutan 22 dari ribuan kontestan yang berpartisipasi. 

Keseriusan Ardhy akan hobi bermusiknya ini semakin ia buktikan dengan terus mengikuti tren teknologi yang ada di bidang musik. Tak terkecuali dengan gabung di Soundfren. Ardhy sangat tertarik untuk mencoba beragam fitur di dalam aplikasi. Bahkan ia juga rajin mengikuti kegiatan tatap muka yang diadakan Soundfren seperti acara Soundfren Meet Up.

Dengan bergabungnya Ardhy di Soundfren, ia mendapatkan kesan yang sangat positif. Jalan karirnya bisa dibilang semakin menanjak. Bahkan kehadirannya di beberapa acara Soundfren membuat musisi asal Jakarta ini bisa bertemu dengan musisi idola hingga berkolaborasi dengan beberapa pengguna Soundfren yang lain dan menciptakan sebuah karya baru. Ardhy berharap, musiknya bisa semakin dikenal oleh masyarakat luas dan semakin mudah untuk berkolaborasi dengan teman-teman musisi di era digital seperti ini.

Ardhy pun menaruh segenggam harap untuk Soundfren. Ia ingin Soundfren semakin banyak penggunanya dan bisa mengembangkan label atau sub label rekaman. Karena kenyataan sekarang adalah banyak musisi lokal yang berusaha mengirimkan karyanya ke pihak label dan tak sedikit dari mereka yang mendapat penolakan. Tak lupa Ardhy juga mengingatkan kepada kita semua untuk menjaga diri di tengah pandemi ini. 

#BikinJalanLo Versi LOR

“Sejak terpilih menjadi band pembuka di +62 Experience, LOR jadi lebih dikenal oleh masyarakat luas – LOR”

Berawal dari ketertarikan menekuni dunia musik, pada Juni tahun lalu, lahirlah sebuah grup musik yang kemudian diberi nama LOR yang terdiri dari Gias, Hanung dan Balia.

LOR terhitung sebagai pendatang baru di industri musik namun grup musik asal Yogyakarta ini sudah berhasil merilis EP perdana pada Februari silam. Berisikan 5 buah lagu, EP bertajuk “Check 1,2,3” merupakan titik awal perjalanan Gias cs di dunia musik. Dalam bermusik, LOR terinspirasi pada musik-musik milik The Stroke, The Hives, Beach Boy, dan The Kooks.

Sejak awal terbentuk, LOR mulai mempromosikan karya musiknya dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi termasuk dengan bergabung di Soundfren. Dengan menjadi pengguna Soundfren, LOR berharap agar bisa terkoneksi dengan musisi lainnya serta karya mereka dapat didengar oleh banyak orang tak terkecuali para penggiat musik.

Sebagai pendatang baru, tentunya LOR butuh banyak panggung untuk bisa mempromosikan band serta karya musik karena promosi digital saja tidak cukup. LOR giat mengikuti submisi di Soundfren hingga, setelah melewati proses panjang, grup musik ini terpilih untuk menjadi band pembuka di konser musik +62 Experience yang dimeriahkan oleh Feel Koplo, Denny Caknan, dan Pamungkas.

Sejak tampil di acara yang berlangsung di Sleman City Hall membuat LOR menjadi lebih dikenal oleh masyarakat luas, khususnya Yogyakarta, dan semakin banyak yang mendengarkan musik karya mereka. LOR berharap agar Soundfren dapat terus mendukung para musisi dan juga profesional musik lainnya.

Stay at Home, Draw and Win!

Berkarya bisa dimana saja, termasuk di rumah. Saat wabah COVID-19 melanda, segala kegiatan kreatif pun terbatas. Ini dia solusi agar kalian tidak mati gaya di rumah, Ballads of The Cliche berkolaborasi bersama Soundfren mengadakan “Stay at Home and Draw!”. Tertarik? Simak dulu informasi detailnya : 

Berhadiah Rp 1.000.000 untuk 1 (satu) pemenang. Temanya apa sih? Step Out and Dance!

Implementasikan single terbaru Ballads of The Cliche “Step Out and Dance!” ke dalam gambar (desain, ilustrasi maupun foto). Single tersebut dapat kalian dengarkan disini. 

Siapa yang boleh ikutan? Semua boleh ikutan, asalkan follow IG @balladsofthecliche dan @soundfren dan mempunyai akun Soundfren.

Karya apa saja yang bisa diikutkan? Segala format gambar tidak bergerak seperti desain, tipografi, ilustrasi, maupun foto dan bisa diaplikasikan ke dalam media kaos/ t-shirt.

Gimana mekanisme kontesnya?

  • Download aplikasi Soundfren di Apps Store atau Play Store
  • Buat akun Soundfren
  • Buka tab “Profile” lalu buka menu “Works” dan pilih “Add My Works” dengan karya visual buatanmu
  • Buka tab “Explore” dan pilih menu “Submission”
  • Pilih “Stay at Home and Draw!”
  • Baca syarat dan ketentuan, lalu klik “Join Submission”
  • Isi form, lalu klik “Submit”

Ketentuan :

  • Peserta dapat mengirimkan lebih dari satu karya
  • Periode kontes dari 19 Maret hingga 02 April 2020 dan diumumkan 09 April 2020 via media sosial Ballads of The Cliche dan Soundfren
  • Konten gambar tidak boleh mengandung unsur kekerasan, penggunaan obat-obatan terlarang, konten/aktifitas seksual, Politik, SARA atau terkesan menyinggung/menjelek-jelekkan pihak manapun.
  • Pihak penyelenggara tidak bertanggung jawab jika ada pihak-pihak yang melakukan klaim atas teks, gambar, maupun hal-hal yang dijadikan konten gambar dan diunggah oleh para peserta.
  • Penyelenggara memiliki hak untuk mengubah syarat dan ketentuan jika dianggap diperlukan, tanpa perlu ada pemberitahuan terlebih dahulu.
  • Gambar dan segala informasi yang telah diunggah oleh peserta, sepenuhnya menjadi milik Soundfren, yang selanjutnya dapat dipergunakan sebagai iklan, event khusus, termasuk promosi penjualan, serta dapat dipasang di akun resmi media sosial milik penyelenggara.
  • Kontes ini tidak dipungut biaya apapun.
  • Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat
  • Pemenang terpilih akan dihubungi langsung oleh pihak Soundfren. Apabila pemenang yang terpilih tidak dapat dihubungi dan/atau tidak mengirimkan konfirmasi dalam 7 x 24 jam setelah pengumuman, pemenang akan dianggap gugur tanpa pemberitahuan.

#BikinJalanLo Versi Allson Siringo

“Saya bisa mendapatkan sesi mentoring menulis lagu sekaligus rekaman di program BERISIK lewat Soundfren – Allson Siringo”

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Allson Siringo dan musik sudah menjadi bagian tak terpisahkan. Allson mulai belajar memetik gitar dan mempelajari lagu-lagu karya musisi idolanya seperti Gun’s n Roses, Mr.Big, Last Child, Virgoun, Blink-182, Naif, Avenged Sevenfold, dan banyak lagi.

Menekuni musik sejak belia, tentunya jalan yang Allson tempuh tak selalu mulus. Cerita pahit dan manis selalu menghiasi karir bermusiknya. Ada banyak pula pencapaian yang telah ia raih di industri ini. Ia pernah diundang mengisi acara kampus, masuk playlist streaming musik, dan ia juga pernah mengisi salah satu rubrik di majalah kampus.

Dengan didukung oleh perkembangan teknologi di industri musik yang semakin melesat maju, membuat Allson menjadi lebih mudah mencari  mencari relasi dengan musisi dan mempromosikan karyanya. Salah satu cara yang ia tempuh untuk mendapatkan banyak relasi di dunia musik adalah dengan memanfaatkan aplikasi Soundfren. Di Soundfren, Allson bisa memperluas relasi bermusiknya serta mengikuti berbagai submisi yang ada.

Allson sudah banyak menciptakan lagu dengan genre Alternative Rock salah satunya single yang sudah dirilis bertajuk “Kembali.” Keahlian Allson dalam menulis lagu semakin terasah saat ia terpilih menjadi musisi terpilih program “BERISIK (Belajar Karir di Musik) Eps.1. Ia bersama dua musisi terpilih lainnya mendapatkan sesi mentoring menulis lagu sekaligus rekaman bersama produser musik Estu Pradhana dan solois Gabriel Mayo. Sesuatu yang belum pernah Allson dapatkan sebelum bergabung di Soundfren.

Sejauh ini, Allson sangat puas bergabung di Soundfren. Ia bisa mendapatkan job manggung dengan mengikuti submisi di aplikasi Soundfren. Hal yang paling ia sukai jika karya musiknya dikurasi dan lolos submisi.

#BikinJalanLo Versi Rachmad Rama Wicaksono (Retorika)


“Tampil di acara “Indie Air” merupakan sebuah pengalaman yang sangat berharga. Terima kasih Soundfren! – Rama (Retorika)”

Terjun ke dunia musik merupakan jalan yang dipilih salah seorang punggawa grup musik Retorika, Rachmad Rama Wicaksono. Terlebih saat ia dibuatkan studio musik, keseriusannya menekuni musik semakin menjadi.

Penggemar Brandon Urie ini memiliki cerita menarik saat mulai manggung di acara-acara musik. Salah satunya, saat ia bersama Retorika mengisi acara, mereka mendapatkan sambutan hangat dari penonton. Bahkan, tak jarang pula ia dihampiri oleh penonton yang menyukai musik Retorika hingga ia juga sering mendapatkan pesan di media sosial dari penggemarnya. Bagi Rama, apresiasi seperti ini sangat berarti dalam membangun semangat dan gairah bermusiknya.

Kehadiran teknologi yang serba canggih di era modern ini, tak terkecuali di industri musik membuat Rama semakin terbantu dalam membangun karir bermusiknya. Kehadiran Soundfren sebagai bagian kemajuan teknologi di industri musik tentunya tak dilewatkan oleh Rama. Soundfren membuatnya lebih mudah untuk mencari acara-acara musik dimana Retorika lebih punya kesempatan untuk tampil.

Retorika bergabung menjadi pengguna Soundfren dengan harapan bisa mendapatkan banyak relasi dan banyak tempat untuk tampil karena bagi pemilik mini album “True Story” ini sebagai musisi indie sangat butuh tempat untuk menampilkan karya. Harapan itu perlahan mulai terwujud. Retorika bisa mendapatkan panggung dengan tampil mengisi acara di program “Indie Air” yang ditayangkan oleh UseeTV lewat submisi yang diadakan lewat Soundfren.

Rama merasakan bahwa hadirnya Soundfren membawa perkembangan dalam karir bermusiknya. Selain itu, aplikasi Soundfren juga sangat mudah digunakan dan banyak acara-acara musik yang bekerjasama dengan Soundfren. Ia terus berharap agar Soundfren bisa  lebih sering menyediakan panggung terutama untuk band indie seperti Retorika.

#BikinJalanLo Versi Lastafternoon

“Band kami pertama kali manggung di 2020 dalam formasi baru lewat submisi di Soundfren – Lastafternoon”

Musik merupakan media untuk menyampaikan sesuatu dalam bentuk rasa. Begitulah penggambaran grup musik Lastafternoon tentang musik. Grup musik yang akhirnya berdamai pada genre alternative folk ini terinspirasi pada musik-musik The Beatles, The Stroke, The Cure, Blur, dan banyak lagi. Sejak terbentuk, Lastafternoon telah memiliki sebuah mini album yang diberi judul “Kisah Akar dan Bunga” serta beberapa single hits diantaranya Lantunan Rindu, Kotak Hitam, Bentala, dan yang terbaru Menerka Rencana. 

Karena keterbatasan ruang kreatif, hadirnya Soundfren sangat mempermudah grup musik asal Bandung ini untuk berkreasi. Soundfren hadir di tengah perkembangan teknologi yang tengah berkembang pesat sebagai salah satu solusi untuk insan musik. Bagi Lastafternoon, di Soundfren ada hal baru yang bisa dipermudah dalam melihat celah ruang bermusik.

Panggung perdana Lastafternoon di tahun 2020 dengan formasi baru didapat lewat Soundfren. Grup musik ini berhasil menjadi musisi terpilih acara Pasar Malam Rakyat setelah mengikuti submisi di aplikasi Soundfren. Panggung yang membuka jalan Lastafternoon menuju panggung-panggung musik lain yang lebih besar.

Lastafternoon berharap Soundfren selalu dapat membantu musisi-musisi baru yang sedang merintis karir dan dapat mempermudah mencari koneksi serta ruang kreatif. Selain itu Lastafternoon juga berharap agar aplikasi Soundfren dapat lebih mempermudah para pengguna untuk memanfaatkan semua fitur yang ada di dalamnya.

#BikinJalanLo Versi Bartelemi

“Kami mendapat kesempatan untuk tampil di acara Indie Air karena mendaftar melalui Soundfren – Bartelemi

Dimulai dari mendengar berbagai genre musik, dilanjutkan dengan mulai mempelajari instrumen musik hingga kemudian membentuk sebuah band. Itulah awal perjalanan dari grup musik Ibukota, Bartelemi yang terdiri dari mereka yang memiliki cita-cita yang sama di dunia musik.

Di awal terjun ke industri musik, Bartelemi sempat mengalami kejadian kurang menyenangkan yaitu saat tak bisa check sound akibat hal teknis namun walau demikian mereka tetap melanjutkan penampilan sebagai pengisi acara. Kepuasaan para penonton yang hadir saat itu menjadi obat mujarab bagi Bartelemi. Langkah demi langkah baik pahit maupun manis di industri musik tetap mereka jalani hingga akhirnya manpu melahirkan karya yang tertuang lewat lagu “Raga” dan “Deru Waktu.”

Bagi grup musik yang terinspirasi dari The Beatles, Foo Fighter, Blur, Radiohead, dan Extreme ini perkembangan teknologi sangat membantu mereka dalam bermusik mulai dari proses rekaman hingga penampilan di atas panggung. Salah satu perkembangan teknologi yang bisa dirasakan langsung adalah lewat Soundfren

Sebelum bergabung dengan Soundfren, Gerry dkk menaruh harapan agar bisa mendapatkan informasi mengenai acara misik dan bisa berpartisipasi lebih sering di dalamnya. Harapan itu terbukti saat mereka bisa tampil di acara “Indie Air” yang ditayangkan melalui kanal Usee Prime di UseeTV.

Grup musik yang digawangi oleh Bob, Gerry, Batara, Afdha, dan Kiki ini menganggap bahwa Soundfren memiliki banyak fitur untuk menyebarkan karya dan ada fitur yang memberikan banyak informasi mengenai acara musik. Bartelemi berharap Soundfren bisa menjadi wadah untuk semua pemusik indie dan bisa membantu para musisi menyebarkan karya karya nya. Kedepannya Soundfren bisa lebih memperbanyak lagi aktivasi untuk para penggunanya agar karya mereka semakin luas dinikmati masyarakat luas.

#BikinJalanLo Versi Delika

“Soundfren memberikan kami kesempatan manggung dan menawarkan peluang untuk berelasi lebih luas dengan para pelaku industri musik – Delika”

Passion. Satu kata yang menjadi awal mula Delika terbentuk. Semuanya bermula dari passion yang sama dalam berkarya di bidang musik dan ingin menciptakan karya yang abadi. Grup musik asal Jakarta yang telah memiliki karya musik bertajuk “Racau” dan “Tegar Bersandar” ini terinspirasi bermusik dari The Beatles, Bee Gees, Fleetwood Mac, hingga Mondo Gascaro.

Delika merekam sebagian besar rekamannya secara mandiri dengan peralatan terbatas di kamar kos salah seorang personilnya, Bagus. Semua perjuangan Delika terbayar saat memenangi kompetisi Levis Band Hunt 2018 untuk lagu “Racau” serta mendapatkan Best Folk Song untuk lagu “Tegar Bersandar” oleh American Track Music Award. Setelah itu, apa yang direkam Delika di kamar kost diproduksi ulang oleh Widi Puradiredja di Organic Records hingga dimastering oleh Geoff Pesche di Abbey Road Studio London.

Teknologi memudahkan jalan Delika untuk menyampaikan musik ke para pendengarnya. Dari sana, Delika banyak mendapat masukan mengenai pasar bermusik khususnya untuk genre yang diusung Delika. Kondisi industri musik yang sudah memasuki era digital membuat Delika semakin bersemangat menciptakan karya karena kesempatan untuk didengar orang bisa semakin luas. 

Bergabungnya Delika di Soundfren karena bagi Raya dkk Soundfren mampu menawarkan peluang untuk berelasi lebih luas dengan seluruh pelaku industri musik. Jadwal manggung Delika makin padat setelah menjadi pengguna Soundfren. Di awal tahun 2020 saja Delika sudah 3 kali mengisi acara diantaranya Kurasi Musik Vol.5, Manggung di Pasar, dan program musik “Indie Air” yang ditayangkan melalui kanal Usee Prime di UseeTV.


#BikinJalanLo Versi Camelia Jonathan


“Pencapaian pribadi tahun ini adalah bisa satu gig bersama musisi perempuan yang saya kagumi , Ayu Ting Ting” – Camelia Jonathan”

Camelia Jonathan sudah hobi menyanyi sejak kecil dan mulai menulis lagu sejak duduk di bangku sekolah dasar. Baru saat menjadi mahasiswa di tahun 2007, ia memulai rekaman lagu untuk pertama kalinya. Setelah itu, CJ sapaan akrab Camelia, mulai menjalani setiap langkah untuk bisa berkomitmen di dunia musik.

Salah satu musisi yang menginspirasi CJ adalah Imogen Heap, karena menurut CJ beliau adalah seorang perempuan, mandiri, dan pionir dalam bidang teknologi dan musik. Dari beliau, CJ senantiasa diingatkan untuk menyaring bunyi-bunyian dan inspirasi yang positif dari sekedar kebisingan dan energi negatif di sekitar yang kadang tidak bisa kita hentikan.

Selama 12 tahun berkolaborasi dan mencoba berbagai hal di industri kreatif dan konten digital, CJ banyak menemukan hal-hal baru sekaligus membuat pencapaiannya di dunia musik semakin bertambah. Salah satunya terjadi di tahun ini, dimana ia bisa berada satu acara bersama musisi perempuan idolanya, Ayu Ting Ting di acara Langit Musik x Soundfren. CJ juga berencana untuk mengadakan solo gig dalam waktu dekat untuk membawakan karya-karya dan cerita dalam konsep miliknya sendiri.

Bagi CJ, perkembangan teknologi yang telah merambat ke industri musik semakin mendorong kolaborasi seni dan sains untuk memecahkan masalah-masalah, khususnya di industri musik. Sayangnya, penggunaan teknologi oleh musisi di Indonesia masih sebatas untuk teknikal saja, belum sampai kolaborasi dari segi kreativitas lintas disiplin. Dunia musik di Indonesia bukanlah industri dengan infrastruktur yang ideal seperti di luar negeri.

Dunia musik Indonesia adalah rimba di mana tidak semua musisi bisa berhasil dengan menjalani cara yang sama. Database dan jaringan sangat penting bagi para musisi yang baru ingin memulai karirnya. Komunitas dan jaringan apapun akan sangat membantu, salah satunya dengan adanya aplikasi Soundfren.

Bergabungnya CJ bersama Soundfren membuatnya menambah kenalan di ekosistem musik dan menemukan talenta baru untuk berkolaborasi. Sejauh ini CJ telah mendapatkan 2 gig dari aplikasi Soundfren. Fitur-fitur untuk audisi gig dan berkolaborasi dengan musisi lain sangat membantu sekali. CJ berharap Soundfren terus memperbanyak submisi agar kesempatan musisi untuk tampil semakin terbuka terlebih program offline yang dijalankan Soundfren beberapa bulan terakhir ini terlihat sangat agresif.