Kupas Tuntas Karya Musisi Terpilih Soundfren di Archipelago Festival 2019

Archipelago Festival 2019 telah berlangsung pekan lalu di Aksara Complex Jakarta. Acara yang digelar dua hari berturut-turut yakni tanggal 12 dan 13 Oktober ini menampilkan banyak pertunjukkan langsung dari musisi tanah air dan juga diskusi panel dengan menghadirkan pembicara yang telah berpengalaman dibidang musik seperti Ariel Noah hingga Sarah Sechan.

Salah satu panel diskusi di Archipelago Festival 2019 adalah Listening Session. Sesi ini merupakan program acara bagi musisi solo, duo, band atapun format lainnya untuk unjuk karya mereka. Bagi musisi yang terpilih, lagunya akan didengar oleh para pakar industri serta pengunjung Arhipelago Festival 2019. Sesi yang digagas oleh Soundfren dan BinArt Collective ini menghadirkan panelis Mahavira Wisnu Wardhana (ex-A&R Sony Music Entertainment Indonesia) dan Marco Steffiano (produser dan drummer Barasuara) untuk mendengarkan sejumlah lagu baru dari bakat-bakat muda Indonesia. Sesi yang berlangsung di Kinosaurus pada 13 Oktober 2019 ini dimoderatori oleh Felix Dass dari Future Folk Publishing.

Listening session memutar lagu dari 5 musisi terpilih yang berhasil lolos seleksi dari proses submisi yang dibuka melalui Soundfren dari 30 September sampai dengan 6 Oktober 2019. Dari 135 karya yang masuk, Soundfren dan BinArt memilih 5 karya terbaik yang,  masing-masing karya akan dikupas melalui lensa profesional industri musik.⁣

Lima musisi terpilih tersebut antara lain dansaya dengan lagunya yang berjudul Joker, Fletch lewat “Tiga Pagi”, Karina Christy lewat “Foolish Love”, Compadres lewat “Sasmaya”, dan Orkes Kedai Sarinah lewat “Aplikasi Jodoh”. Kelima karya ini dikupas tuntas oleh kedua orang panelis yang telah memiliki pengalaman diindustri musik. Kalau mau lirik bahasa Inggris, pastikan grammarnya sudah oke jangan takut untuk tanya-tanya tentang penulisan”, ujar Marco saat mengomentari karya milik dansaya. Dilagu milik Karina Christy, Inu menganggap bahwa saat merilis lagu harus menggunakan waktu yang tepat, “Jangan dahulukan ego pokoknya harus liris sekarang, tapi juga lihat kompetitor sekitar apakah mereka akan rilis lagu juga bareng dengan kita?”, tutur Inu. Bagi personel grup musik Numata ini waktu rilis samgat penting karena dapat mempengaruhi jumlah pendengar.

Seusai acara Listening Session, Marco mengungkapkan keseruannya akan sesi ini “Jadi bisa saling sharing sama mereka dari sudut pandang produksi, A&R juga. Acara ini harus ada terus karena menarik banget”, ujar produser dan drummer Barasuara ini. Sementara itu bagi musisi terpilih juga merasakan manfaat luar biasa dari Listening Session ini. “Kami mendapatkan banyak banget masukan dari yang tadinya gak tahu jadi paham. Terimakasih banget kami sudah diundang untuk menjadi yang diundang karyanya!”, ungkap salah satu personel Orkes Kedai Sarinah.

Senada dengan Orkes Kedai Sarinah, Karina Christy dan grup musik Compadres juga turut merasakan hal yang sama. “Lagu gue dikomentarin dan insightnya juga bagus banget”, ucap pemilik single Foolish Love ini. Compadres merasakan sesi ini membuat mereka memiliki banyak masukan dan referensi dari orang-orang yang berkompeten diindustri musik dan hiburan. “Kita jadi banyak dapet input, thanks banget untuk Soundfren. Keren banget acara ini” tutur Adi salah satu personel Compadres.

Melihat tingginya antusias Soundfren tentunya berharap agar bisa kembali berpartisipasi dalam acara-acara seperti ini atau bahkan membuat acara seperti ini dalam waktu dekat. Keterlibatan Soudfren dalam Archipelago Festival 2019 merupakan wujud nyata Soundfren untuk mewadahi para profesional bidang musik untuk terus berkarya dan memberi warna pada musik tanah air.

2 thoughts on “Kupas Tuntas Karya Musisi Terpilih Soundfren di Archipelago Festival 2019”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *