Featured

Tuntaskan Beragam Misi di Lucky Fren

Memasuki tahun baru 2021 ini, Soundfren punya misi khusus untuk kalian para pengguna aplikasi. Selama 28 hari ke depan sejak tanggal 11 Januari 2021, ada banyak hadiah yang bisa kamu dapatkan di Lucky Fren. Dari saldo elektronik, headphone, soundcard, midi controller hingga mic condesor yang bisa kamu bawa pulang, Fren. Supaya enggak bingung, simak detail-detailnya di bawah ini ya, Fren!

Cara Ikutan:

  • Buka aplikasi Soundfren di HP-mu dan lakukan “Check In” pada Lucky Fren,
  • Dapatkan tambahan poin dengan menjalankan misi harian dan misi spesial berupa misi solo dan misi komunitas,
  • Jumlah poin yang kamu dapatkan bisa langsung dilihat pada tabel klasemen Lucky Fren.

Cara Ikutan Misi Harian:

  • Klik “Tambah Poin” pada menu Lucky Fren kemudian pilih “Misi Harian”
  • Share post pengguna lain (6 poin)
  • Like 10 postingan pengguna lain (10 poin)
  • Buat 1 postingan baru (12 poin)
  • Follow 5 akun baru (15 poin)
  • Tinggalkan 3 komentar (18 poin)

Cara Ikutan Misi Spesial (Misi Solo):

  • Klik “Tambah Poin” pada menu Lucky Fren kemudian pilih “Misi Spesial”
  • Pilih “Misi Solo”
  • Tambahkan “Experience” pada profil Soundfren-mu (6 poin)
  • Tambahkan lagu hasil karyamu (6 poin)
  • Tambahkan video musik hasil karyamu (6 poin)
  • Tambahkan jadwal tampilmu (6 poin)
  • Lengkapi profilmu selengkap-lengkapnya (50 poin)
  • Jadikan postinganmu sebagai trending di aplikasi (50 poin)
  • Undang teman dengan menggunakan kode referral milikmu (60 poin)

Cara Ikutan Misi Spesial (Misi Komunitas):

  • Klik “Tambah Poin” pada menu Lucky Fren kemudian pilih “Misi Spesial”
  • Pilih “Misi Komunitas”
  • Share 1 episode podcast Soundfren Learn (3 poin)
  • Share webinar Soundfren Connect (3 poin)
  • Share 1 artikel di blog/news aplikasi (3 poin)
  • Baca 1 artikel di blog/news aplikasi ( 10 poin)
  • Putar 15 episode podcast Soundfren Learn (15 poin)
  • Undang teman dengan menggunakan kode referral milikmu (60 poin)
  • Join 1 sesi Soundfren Connect (75 poin)

Cara Ikutan Misi Spesial (Misi Progres):

  • Klik “Tambah Poin” pada menu Lucky Fren kemudian pilih “Misi Spesial”
  • Pilih “Misi Progres”
  • Buat 1 Project Kolaborasi pada menu “Collabs Project” (12 poin)
  • Share 2 Project Kolaborasi pada menu “Collabs Project” (12 poin)
  • Ikuti submisi yang ada pada menu “Event & Audition” (12 poin)
  • Folllow official account Soundfren (16 poin)
  • Join Premium User Soundfren (25 poin)
  • Dengarkan lagu pengguna lain (36 poin)
  • Buat 1 submisi pada menu “Event & Audition” (48 poin)
  • Undang teman dengan menggunakan kode referral milikmu (60 poin)

Ketentuan:

  • Satu ID pengguna hanya dapat mengklaim satu hadiah,
  • Jumlah hadiah terbatas atau selama persedian masih ada,
  • Pengguna dapat mengklaim dan share hadiah jika ingin menukarkan star dengan hadiah yang ada,
  • Pemenang yang berhasil mengklaim hadiah akan dihubungi oleh pihak Soundfren untuk konfirmasi. Nomor yang akan menghubungi adalah nomor official Soundfren dan email official Soundfren (contact center: 0813 1095 7673/contact service: hello@soundfren.id/),
  • Apabila dalam 3 hari pemenang tidak dapat dihubungi, maka hadiah dianggap batal/hangus.
  • Hadiah akan dikirimkan kepada pemenang dalam waktu maksimal 14 hari setelah melakukan konfirmasi data diri,
  • Hadiah digital dikirim maksimal 3×24 jam,
  • Pemenang akan mendapatkan pesan pemberitahuan di aplikasi Soundfren ketika berhasil mengklaim hadiah yang tersedia,
  • Jika menurut pertimbangan Soundfren terdapat indikasi/dugaan kecurangan atau kesalahan yang disengaja dalam pemberian informasi atau data yang diberikan oleh pemenang dalam mengikuti program maka pemenang didiskualifikasi sesuai pemberitahuan Soundfren, tanpa kompensasi apapun dari Soundfren kepada pemenang,
  • Soundfren berhak mengubah syarat dan ketentuan yang berlaku, termasuk menghentikan/memperpanjang reward ini kapanpun tanpa pemberitahuan terlebih dahulu,
  • Karyawan atau keluarga inti karyawan tidak diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam program yang diselenggarakan oleh Soundfren,
  • Apabila karyawan atau keluarga inti karyawan secara sengaja memenangkan suatu program yang diselenggarakan oleh Soundfren maka hadiah tersebut akan dibatalkan,
  • Dengan mengikuti kegiatan ini, pengguna dianggap mengerti dan menyetujui semua syarat dan ketentuan yang berlaku.

Tunggu apalagi Fren, segera buka aplikasi Soundfren-mu, join #LuckyFren, dan klaim hadiah milikmu!

#BikinJalanLo Versi Ordinary Teens

#BikinJalanLo

“Musik kami jadi lebih banyak yang dengerin dan followers di media sosial juga bertambah setelah dipromosikan Soundfren – Ordinary Teens”

Tahun 2005 saat dimana lagu-lagu seperti The Adams – Halo Beni, Endank Soekamti – Selamatkan Aku, dan Efek Rumah Kaca – Cinta Melulu sering diulang-ulang di radio membuat Ordinary Teena tertarik untuk bermusik dan berharap bisa menciptakan karya seperti mereka. 

Beberapa tahun berselang, harapan itu terwujud. Di tahun 2012, Ordinary Teens merilis single Senior High Tour dan Freedom Of. Sempat beberapa tahun vakum, Ordinary Teens kembali muncul dengan merilis single “Off the Air” pada tahun 2018 sampai akhirnya rilis album perdana  berjudul “First Page in Our Math Book” pada tahun 2020.

Selain menciptakan karya, Ordinary Teens juga pernah berpartisipasi dalam beberapa kompilasi album lokal seperti Lychee Compilation vol.2, Kings of Skate, dan beberapa album Pop Punk lain. Tak hanya berkarya, beragam panggung musik pernah dijajal Ordinary Teens seperti Freedom of 48 Espresso 2013. Di tahun 2014, Ordinary Teens mendapatkan penghargaan sebagai band yang lolos kurasi untuk tampil pada acara Music Festifile 2014 yang diselenggarakan oleh KMF UNPAD.

Bagi Ordinary Teens, eksistensi mereka di industri musik sangat terbantu oleh kemajuan teknologi. Teknologi internet mewadahi Ordinary Teens serta penikmatnya untuk terhubung lebih praktis dari segi memperdengarkan dan didengarkan, serta interaksi langsung terhadap keduanya. Ditambah dengan adanya aplikasi Soundfren yang bisa merangkul penikmat musik atau mungkin menjadi salah satu platform musik seperti Spotify, Apple Music, Joox, dan lain-lain.

Soundfren memfasilitasi para musisi untuk mengenal satu sama lain, berkolaborasi, hingga menghubungkan musisi dengan penyelenggara event. Setelah bergabung, Ordinary Teens juga bisa berbagi pengetahuan, pengalaman, sampai kolaborasi dengan pengguna lain. Pendengar dan penikmat musik Ordinary Teens juga menjadi bertambah setelah beberapa karya mereka dipromosikan di Soundfren. Dengan fitur-fitur yang sudah ada, Ordinary Teens berharap agar Soundfren semakin berkembang ke depannya.

MUSISI SEBELUM JADI ROCKSTAR

#SemudahItu bermusik dengan Soundfren

Fren, siapa sangka kalo beberapa musisi ternama dunia ini dulunya punya pekerjaan lain layaknya warga biasa.

  • Sting. Sting memiliki beberapa pekerjaan yang membosankan sebelum bergabung dengan The Police. Saat bergabung di usia 20 tahun, Sting meninggalkan karirnya sebagai seorang guru dan memilih untuk bermusik bersama dengan The Police. Selain menjadi guru, Sting juga pernah bekerja di kantor pajak. Pemain bass yang mengunjungi Indonesia beberapa waktu lalu itu juga sempat menjadi kondektur bis.
  • Elvis Presley. Setelah lulus SMA, Elvis menuruti kemauan ibunya agar ia segera memiliki pekerjaan tetap. Akhirnya ia bekerja menjadi supir truk untuk Crown Electric Company di Memphis, Tennesse.
  • Madonna. Mempunyai ambisi yang besar untuk menjadi salah satu penyanyi terkenal di dunia, Madonna melakukan segala pekerjaan demi mendapat modal untuk berkarir sebagai penyanyi. Tercatat, sebelum menjadi terkenal Madonna pernah menekuni profesi sebagai, penari di kota New York dan menjadi waiters di Dunkin Donuts.
  • Jack White. Sebelum menjadi sesukses seperti saat ini, Jack White dulunya adalah seorang tukang kayu. Ia bekerja pada sebuah rumah furnitur. Selain bermusik, Jack White kini sedang berbisnis label rekaman. Awalnya ia menamai labelnya tersebut dengan nama Third Man Upholstery, dengan slogan ‘furnitur anda tidak mati’. Namun akhirnya ia merivisi nama tempat bisnisnya itu dengan Third Man Records.
  • Tony Iommi. Sebelum menjadi legenda, gitaris Black Sabbath ini bekerja pada sebuah pabrik logam. Di pabrik tersebut Tony terbiasa untuk menggunakan jari jemarinya untuk memindahkan logam-logam berat. Mungkin atas dasar itu juga ya permainan Tony Iommi bisa sehebat saat ini.

Temukan info-info lain terkait musik hanya di Soundfren!

LIST MUSISI ROCK BERGELAR DOKTOR

#FrenInfo

Fren, image anak band nggak selalu ugal ugalan atau males sekolah. Liat aja para musisi legendaris yang bergelar doktor ini.

  • Brian May – Queen. Gitaris dari grup rock terbesar sepanjang masa ini (Queen) ternyata memiliki gelar doktor dalam bidang Astrofisika. Ia ini mendapatkan gelar doktoralnya dari Imperial College London pada 2007. Yang menarik adalah, ternyata May lebih dahulu eksis sebagai akademia sebelum menjadi bintang rok. Tak tanggung-tanggung, tesis PhD Brian May membahas berbagai kecepatan dari debu luar angkasa. Ia memulai kehidupan akademisnya pada 1970 saat Queen belum tenar. Namun, kehidupan akademisnya ditinggalkan saat Queen memperoleh ketenaran internasional pada 1974.
  • Dexter Holland – The Offspring. Vokalis dan ikon grup punk The Offspring, Dexter Holland, mendapat gelar doktoral di bidang biologi molekular dari University of Southern California. Riset doktoralnya berfokus terkait virus HIV. Kisahnya serupa dengan Brian May dari Queen di atas, Holland sempat mengalami kendala dalam menyelesaikan studi doktoralnya karena ia harus mengatur waktu untuk berkarir di The Offspring yang sedang naik daun di dunia musik.
  • Greg Gaffin – Bad Religion. Penyanyi grup band selanjutnya yang mempunyai gelar doktor adalah Greg Gaffin dari Bad Religion. Gaffin mendapat gelar doktoral di bidang zoology dari Cornell University. Ia membuat disertasi yang bertajuk Evolution, Monism, Atheism, and the Naturalist World-View: Perspectives from Evolutionary Biology.
  • Sterling Morrison – Velvet Underground. Nama Sterling Morrison memang tidak setenar Lou Reed. Namun, ia memiliki posisi sentral yang penting dalam menjalankan band legendaris Velvet Underground pada 1964. Ia mendapatkan gelar doktoralnya pada 1986 dengan disertasi penulisan sastra abad pertengahan pada empat puisi Cynewulf.
  • Milo Aukerman – The Descendants. Band di mana Aukerman menjadi vokalis, dianggap sebagai salah satu pionir dalam jagat musik rock punk. The Descendants menjadi inspirasi untuk band punk di masa kini seperti Blink 182, NOFX, The Offspring, Paramore, hingga Green Day. Aukerman mendapatkan gelar doktoral di bidang biologi dari University of California. Ia juga menuntaskan post-doktoral di University of Madison di bidang biochemistry.
  • Rizky Syarif. Band di mana Aukerman menjadi vokalis, dianggap sebagai salah satu pionir dalam jagat musik rock punk. The Descendants menjadi inspirasi untuk band punk di masa kini seperti Blink 182, NOFX, The Offspring, Paramore, hingga Green Day. Aukerman mendapatkan gelar doktoral di bidang biologi dari University of California. Ia juga menuntaskan post-doktoral di University of Madison di bidang biochemistry.

Temukan info-info lain terkait musik hanya di Soundfren!

LAGU ANDELAN NYETEM GITAR

#FrenInfo

Fren, buat kamu yang sering gitaran bareng temen pasti relate banget nih sama lagu-lagu ini. Lagu apa yang biasa kamu pake buat nyetem gitar, Fren?

  • Peterpan-Semua Tentang Kita. Lo tahu nggak? Bahkan, ketika kakeknya Ariel masih remaja dan suka nongkrong sama anak-anak warung deket rumah, beliau pun menyetem gitar pake lagu ini. Emang lagu ini adalah lagu paling cozy buat menyetem gitar. Pengamen, anak band, sampai Bob Dylan sekalipun mengakuinya.
  • Peterpan-Bintang di Surga. Diketahui saat Thom Yorke lagi manggung di Glastonbury ia sempat ngetes gitarnya pakai lagu ‘Bintang di Surga’, terutama buat ngetes senar bass 6.
  • Green Day-Warning. Layaknya lagu ‘Bintang di Surga’-nya Peterpan, lagu ini juga enak buat dipake menyetem kunci 6. Tapi, tahukah kalian, bahwa Billy Joe sang vokalis lebih senang menyetem pakai lagu ‘Semua Tentang Kita’ dibanding lagunya sendiri?
  • Kangen Band-Yolanda. Alternatif lain ketika bosen menyetem gitar pakai lagu Peterpan. 9 dari 10 pengamen melakukannya.
  • Creed-One Last Breath. Biasanya sih yang menyetem gitar pakai lagu ini sekalian pamer skill gitu deh.

Temukan info-info lain terkait musik hanya di Soundfren!

MERCHANDISE BAND ABSURD

#SemudahItu Bermusik dengan Soundfren

Fren, apa merchandise band yang terakhir kali kamu beli? Udah punya yang absurd kayak gini belum?

  • Pasta dan Sikat Gigi One Direction. One Direction terkenal dengan boyband ramah dan banyak senyum yang membuat fansnya meleleh. Rasanya pas sekali jika produsen pasta dan sikat gigi ini memakai One DIrection sebagai iklannya, pasalnya mereka memiliki gigi yang rapi dan putih. Tak tanggung-tanggung Coalgate pun memasang gambar One Direction di bungkus pasta dan sikat gigi. Tentu saja strategi ini pas karena para fans One Direction pun tertarik untuk mengoleksinnya
  • Tirai Mandi Justin Bieber. Merchandise kaos atau poster dirasa sudah umum, namun hal itu tak menjadikan mentoknya untuk propaganda sekaligus jualan. Tim merchandise pun membuat sebuah tirai mandi bergambar Justin Bieber. Fans Justin yang rata-rata anak muda menjadi target yang mudah dalam penjualan. Terlebih gambar Justin Bieber yang besar membuat para fans rela merogoh kocek dalam untuk mendapatkan tirai mandi ini. Masih merasa biasa saja dan belum aneh, simak berikut ini.
  • Kondom U2. Yaiks ada-ada saja band asal Irlandia ini dalam membuat merchandise. Mereka memilih kondom sebagai merch untuk dijual kepada umum. Uniknya merch dinamai seperti judul albumnya, Achtung Baby. Entah apa alasan U2 menjual kondom ini, namun yang pasti pikiran orang yang tabu membuat merch ini terbilang cukup aneh.
  • Papan Ski The Rolling Stones. Logo lidah menjulur sudah seperti brand tersendiri bagi The Rolling Stones. Semua merch dari band gaek ini selalu terjual habis lantaran kelegendarisan band tersebut. Tak kurang akal, mereka pun memproduksi merch papan ski dengan logo lidah menjulur di beberapa bagian. Rasanya ini kado Natal yang pas buat pacar atau siapapun yang menyukai band gaek ini.
  • Sarung Tangan ACDC. Buat rocker yang suak hobi masak, jangan khawatir karena ACDC merilis sebuah sarung tangan untuk memasak. Tak ada takut tangan kepanasan saat mengambil makanan dari oven. Kamu bakal terlihat gahar saat memasak di dapur saat membuat masakan favoritmu. Dan tiba-tiba judul lagu You Shook Me All Night Long berubah menjadi You Cook Me All Night Long
  • Baju Terusan Weezer. Ada-ada saja cara untuk memasarkan album. Salah satunya adalah bundle pack yang dilakukan oleh Weezer. Mereka memberikan bonus CD setiap pembelian baju unik ini. Sepintas baju ini seperti gamis berwarna biru dengan sablon bertuliskan Weezer di dadanya. Meski aneh, namun banyak juga yang mengordernya.
  • Peti Mati Kiss. Sebuah terobosan gila yang dilakukan oleh Kiss dalam membuat merchandise. Mereka merilis sebuah peti mati dengan berhiaskan ornamen Kiss di atasnya. Pasti berpikiran siapa yang akan membeli? ternyata banyak yang menyukai merchandise yang mengerikan ini. Semoga saja peti ini tidak berhantu.
  • Baju Hangat Unyu Slayer. Mendengar nama band satu ini pasti dibenak kamu adalah tengkorak, darah dan penghujatan tuhan. Namun siapa sangka mereka pernah melakukan kekhilafan dengan memproduksi baju hangat dengan desain unyu.
  • Buku Mewarnai Seram Ween. Tak ingin sama dengan band lainnya, Ween pun merilis sebuah buku mewarnai. Bukan buku mewarnai yang seperti kalian temui di toko buku, namun yang ini lebih eksplisit isinya. Banyak gambar mengganggu di dalamnya, sehingga tidak pas untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Merasa belum aneh, yang satu ini bakal membuat kamu berpikir apakah ini nyata.
  • Dildo Personel Rammstein. Yup tak ada yang lebih aneh dan gila dari merchandise dari band asal Jerman, Rammstein. Mereka membuat sebuah merch berupa dildo dengan ukuran dari masing-masing personel. Dildo tersebut dikemas dalam sebuah hardcase box yang keren. Selain dildo di dalamnya berisi borgol dan lainnya. Merch yang sangat edan.

Temukan info-info lain terkait musik hanya di Soundfren!

#BikinJalanLo Versi Adinda Karima Nurafila

“Lewat Soundfren, aku bisa menambah ilmu baru terkait musik yang bisa menginspirasi aku buat bikin karya – Adinda”

Sejak kecil, Adinda Karima Nurafila sudah gemar bernyanyi. Sadar akan bakat dan talentanya, Adinda terus memperdalam kemampuan bermusiknya. Hasilnya, 2 medali lomba paduan suara internasional dan 1 medali lomba paduan suara nasional berhasil digenggamnya.

Bagi penggemar dari Pamungkas dan Nadin Amizah ini kegigihan dan kerja keras adalah salah satu faktor yang membuatnya tetap terus bisa berkarya disamping kecanggihan teknologi yang cukup membantunya untuk memproduksi dan promosi karya. Terlebih setelah ia mengenal Soundfren. Adinda jadi bisa menambah relasi dengan orang-orang musik dari berbagai daerah yang selama ini tidak terjangkau olehnya.

Adinda yang kini tergabung dalam Niagara Akustik merasa bahwa di Soundfren ia lebih mudah terkoneksi karena para penggunanya memiliki ketertarikan yang sama di bidang musik. Ia juga jadi bisa menambah ilmu baru terkait musik yang bisa memberinya inspirasi.

Lebih jauh lagi, setelah mengenal Soundfren, Adinda bisa terlibat dalam sebuah forum diskusi bersama teman-teman di Soundfren. Ia juga sudah mendapatkan partner untuk berkolaborasi. Adinda berharap Soundfren bisa terus berkembang dan semakin banyak orang-orang yang bergabung.

Pentingnya Pra-produksi Rekaman Buat Danilla

Danilla Riyadi di Soundfren Connect

Buat Danilla dan Lafa, fase terpenting dalam merekam album justru ada di pra-produksi.

Yoi, Fren! Ini yang mereka sampaikan di sesi Soundfren Connect yang berlangsung 30 November 2020 kemarin. Di sesi bertajuk “Pembongkaran Karya Musik & Proses di Balik Album Rekaman” ini, Lafa Pratomo dan Danilla Riyadi berbagi kisah dan cerita di belakang proses perekaman album-album Danilla.

Kalau ada yang belum kenal, Lafa adalah produser dari karya-karya Danilla. Bisa dibilang, dia adalah arsitek musik dari album Danilla selama ini. Selain bertugas di belakang layar, Lafa juga berperan sebagai gitaris dalam setiap penampilan live Danilla.

Kali ini, Lafa banyak bercerita mengenai pengalamannya sebagai produser rekaman Danilla. Satu hal yang dia ceritakan di sesi seru besutan Soundfren ini, adalah bahwa kunci penting pengerjaan album-album Danilla justru bukan di waktu rekamannya, melainkan terletak di pra-produksi.

“Yang paling pertama itu workshop sih. Ini tuh semacam momen nyatuin chemistry antara si produser dan teman-teman band,” buka Lafa.

Hal ini juga diakui sama Danilla. Dia mengungkapkan kalau workshop ini adalah fase awal yang sangat penting dalam proses pengerjaan albumnya. Di fase inilah mereka menghabiskan waktu untuk saling bertukar pikiran dan sharing antara musisi dan produser.

“Aku selalu fokus setiap workshop. Fokus untuk bermain-main, fokus bikin dunia sendiri. Bahkan aku sama Lafa kalau sudah waktunya workshop, nggak ada waktu untuk buka hp. Kecuali buat browsing atau dengar lagu paling,” cerita Danilla.

“Pesan makanan enak, ngehabisin waktu buat ngobrol, meski cuma curhat dan nggak ngobrolin musik, menurut aku ini juga bagian dari workshop,” sambung Danilla. 

“Iya, prosesnya mungkin kayak curhat-curhat, tapi sebenarnya yang kita serap adalah energinya di momen ini,” tambah Lafa.

Workshop ini sesungguhnya adalah fase mendasar, di mana antara musisi dan produser bisa menemukan kondisi nyaman yang bisa menjaga stabilitas titik fokus mereka untuk kemudian merumuskan arah mau ke mana karya itu dibawa. 

Nah, setelah fase saling memahami ini dijalankan, selanjutnya kita akan masuk ke tahap yang disebut Lafa sebagai pre-production. Tahapan ini notabene lebih musikal, karena ini adalah fase di mana mereka menentukan bagan lagu, aransemen, sound, dan detail-detail lainnya.

“Semacam bikin demolah. Di sini sebenarnya adalah sesi “berantem” dengan teman band kalian, mau dibikin kayak apa lagunya,” ujar Lafa.

Tidak harus merekam lagu secara proper di studio rekaman, mematangkan aransemen di sini bisa dengan merekam live di studio latihan, rekaman rumahan sederhana, atau segampang merekam dengan handphone saat kita sedang latian di studio, untuk kemudian kita dengarkan kembali dengan seksama.

Hasil inilah yang akan kita jadikan pegangan saat nanti masuk studio dan merekam lagu kita. Karena jika semuanya sudah dipersiapkan dengan matang, proses merekam lagu akan berlangsung dengan mudah dan cepat. Artinya tentu biaya yang keluar untuk tahapan produksi juga akan lebih murah.

Gimana, sudah siap rekaman? Kalo iya, jangan lupa fokus di pra produksinya ya, Fren! Selamat berkarya! (Erick)

#BikinJalanLo Versi Collegium

#SemudahItu Promosikan Karya di Soundfren

“Sedikit banyak nama Collegium juga mulai terekspos berkat Soundfren yang suka bantu promoin karya kami! – Collegium”

Tahun 2018 menjadi tahun yang spesial bagi Collegium. Di tahun tersebut, Deni, Boni, dkk memutuskan untuk membuat grup band bernama Collegium. Band ini lahir dari ketertarikan para personelnya akan musik-musik Jepang dan Korea.  

Sejak terbentuk, grup musik ini telah melahirkan 2 single yakni ‘Sebuah Kisah’ dan ‘Aflah’. Bahkan di tahun ini, Collegium juga tengah mempersiapkan  3 lagu untuk sebuah soundtrack film.

Meski terhitung baru di industri musik, Boni dkk telah merasakan panggung-panggung besar seperti tampil di “BIG BANG FEST 2019 Main Stage”, dan “InsertLive JPOP”. Panggung musik ini mereka dapatkan berkat promo melalui media sosial.

Kecanggihan teknologi sungguh berperan besar bagi perjalanan Collegium. Selain bisa mendapatkan panggung dengan bermodal internet, Collegium juga merasakan manfaat lain dari teknologi. Dalam membuat lagu, masing-masing personelnya mengirim track lalu disinkronkan dan digabungkan menjadi satu. Kecanggihan teknologi ini sangat membantu Collegium khususnya di tengah pandemi yang membuat orang susah untuk bertemu.

Teknologi juga yang mempertemukan Collegium dengan Soundfren. Di Soundfren, Collegium banyak mendapatkan relasi baru, membangun koneksi untuk bisa melangkah lebih jauh lagi di dunia musik, dan memiliki wadah yang tepat untuk menampung karya. Keaktifan Collegium di aplikasi membuat mereka masuk ke dalam jajaran pengguna teraktif sepanjang tahun 2020 versi Soundfren.

Bagi Collegium, Soundfren ini unik dan baru pertama kali ada aplikasi seperti ini di Indonesia. Collegium berharap agar Soundfren selalu bisa menjadi wadah untuk teman-teman musisi agar dapat banyak kesempatan tampil membawakan lagu sendiri.

Pentingnya Peran Produser Musik dalam Proses Rekaman Bisma Karisma

Bisma Karisma & Lafa Pratomo

Dalam sebuah proses pengerjaan sebuah lagu atau album, peranan seorang produser musik sangatlah penting. Produser inilah yang diharapkan bisa menggali potensi artis untuk menghasilkan karya semaksimal mungkin.

Mulai dari memberi saran dan masukan terhadap aransemen lagu, mengarahkan vokal, pemilihan sound, meningkatkan kinerja musisi, sampai memastikan audio engineer melakukan pekerjaannya sebaik mungkin.

Untuk itu, produser musik haruslah memiliki wawasan yang baik dalam bermusik, sehingga dia dapat mengarahkan dan memandu artis hingga melahirkan karya-karya terbaiknya.

Tidak hanya dalam segi aransemen dan komposisi musik, seorang produser juga sebaiknya memiliki pemahaman dan mempelajari alat-alat serta teknologi musik dan studio rekaman. Dikarenakan dalam setiap proses rekaman, produser juga ikut andil dalam mengawasi bahkan terkadang ikut langsung mengerjakan proses mixing dan mastering.

Hal ini juga yang dilakukan oleh Lafa Pratomo, saat menjadi produser untuk karya terbaru dari Bisma Karisma yang berjudul Frekuensi, yang baru rilis pada 27 November 2020 kemarin. Tidak hanya mengurusi aransemen dan sound, Lafa bahkan mengaku ikut andil dalam penulisan lirik lagu.

“Di lagu ini saya intervensi cukup banyak. Sampai ke lirik lagu saya minta ditulis ulang,” akunya, di sesi Soundfren Connect yang berlangsung 26 November 2020 kemarin.

Meski begitu, Bisma Karisma, yang sebelumnya lebih dikenal lewat kiprahnya bersama boyband Smash, mengaku tidak ada masalah dan cenderung puas bekerja sama dengan Lafa sebagai produser.

Peranan produser ini rasanya cukup krusial dalam proses berkarya Bisma. Dia mengaku kalau sosok produser inilah yang membantu menjaga dan mengarahkan dalam proses pengerjaan agar hasil karyanya sesuai tujuan.

“Aku susah kerja sendiri dan butuh partner. Jadi aku ajak Lafa untuk produserin. Aku sih senang dan puas banget sama hasilnya. Sebagai produser, Lafa bisa ngertiin dan terjemahin musik yang aku tulis semaksimal mungkin,” ungkap Bisma.

Untuk mencapai hal itu, menjalin komunikasi dan membangun chemistry antara artis dan produser adalah salah satu kuncinya. Hal ini ternyata gampang-gampang susah untuk dilakukan. Terutama jika keduanya punya kesibukan yang padat dan waktu ketemu yang sedikit. Hal inilah yang membuat lagu ini sampai butuh 2 tahun untuk direkam.

“Pengerjaan lagu ini sampai dua tahun. Sebenarnya yang bikin lama karena ketahan project juga sih. Saya ngerjain Polka(wars), Bisma ngambil (job) film. Jadi ketemunya paling sekali dua bulan,” cerita Lafa.

Syukurnya, perjalanan selama dua tahun ini berakhir dengan kepuasan di kedua belah pihak. Baik Bisma sebagai musisinya, juga Lafa sebagai produser musik.

Balik ngomongin soal produser musik. Sebenarnya bagaimana sih kriteria dan syarat-syarat seorang produser musik yang baik? Untuk pertanyaan ini, Lafa punya jawabannya sendiri.

Menurutnya, kriteria produser musik adalah ketika orang tersebut bisa memproduksi musik, bisa merekam musik, bisa mengolah, punya rencana/ bayangan lagunya mau diapakan dan lalu mengeksekusinya sesuai bayangan.

“Nah, kalau produser musik yang baik itu kalau dia bisa mewujudkan hasil akhir lagunya sesuai proyeksi awal, dengan semaksimal atau sedekat mungkin,” kata Lafa.

“Untuk itu, kita harus punya pengetahuan produksi musik yang baik. Sekarang banyak caralah buat itu. Bisa dari ngobrol-ngobrol, baca-baca artikel, forum-forum musik, atau nonton youtube,” tambahnya.

So, sudah ada gambaran kan sekarang mengenai fungsi dan peran produser musik? Jadi, buat rekaman lagu berikutnya, mau cari produser atau mau jadi produser sendiri nih, Fren? (Erick)