#BikinJalanLo Versi Kuncoro Buwono

Di Soundfren kita dapat bertemu para penggiat musik, kita juga bisa kolaborasi bersama mereka” – Kuncoro Buwono (Personel Rocket Tree Astronaut)”

Kuncoro Buwono mulai tertarik pada dunia musik saat sang paman membelikannya peralatan DJ. Sejak saat itu ia mulai menekuni industri musik lebih giat hingga berhasil membuat dua buah lagu.

Musisi yang merupakan personel dari grup musik Rocket Tree Astronaut ini menilai perkembangan teknologi dalam dunia musik sangatlah kreatif. Ia pernah melihat musik yang dipadukan dengan animasi 3D. Suatu perpaduan yang menarik dan berbeda dari pada yang lain.

Penggemar dari Thefatrat ini juga mengakui bahwa hadirnya Soundfren memberikan efek positif bagi langkahnya bermusik. Salah satunya, ia bersama rekannya di Rocket Tree Astronaut bisa tampil sebagai pengisi acara live streaming Langit Musik x Soundfren pada bulan Oktober silam.

Di Soundfen, Kuncoro dapat menemukan banyak aktor musik dan juga bisa berkolaborasi dengan mereka. Ia berharap karya musiknya dapat selalu diingat dan Soundfren dapat memberikan pengaruh besar bagi karirnya di industri musik.

Sebagai seorang musisi sekaligus personel grup musik, Kuncoro sangat mendukung kehadiran Soundfren. Baginya keberadaan Soundfren memudahkan musisi untuk berbagi pengalaman sekaligus ide dengan musisi yang lainnya.

#BikinJalanLo Versi Tyas Alfisa

“Soundfren keren, Saya suka promosinya. Terima kasih.” – Tyas Alfisa

Usai menyaksikan salah satu grup musik idolanya, Westlife secara langsung membuat Tyas Alfisa semakin tertarik untuk mendalami dunia musik. Musisi asal Balikpapan ini memang sudah mulai tertarik untuk bermain alat musik khususnya gitar sejak menginjak usia 4 tahun. Tyas tumbuh dengan beragam genre musik dari musisi idolanya mulai dari Westlife, John Mayer, hingga Avril Lavigne.

Ketertarikannya di dunia musik tak main-main, di tahun 2015 Tyas berhasil menciptakan lagu sendiri dan ia resmi merilis single debutnya yabg berjudul “If I Knew” tiga tahun kemudian. Sekarang, ia tengah mengerjakan empat lagu baru yang akan dirilis dalam bentuk fisik.

Tyas menyambut positif perkembangan teknologi di industri musik asalkan tidak merugikan para musisi. Sebagai salah satu pengguna Soundfren, Tyas juga menyambut positif langkah Soundfren untuk membuat industri musik tanah air melangkah terus ke arah yang lebih baik. Bagi Tyas, Soundfren bisa menambah kesempatannya untuk bermusik. Ia bisa mengikuti submisi yang diadakan Soundfren dan tentunya akan menambah pengalaman tampil sebagai solois.

Tyas berhasil menjadi salah satu musisi terpilih yang lolos submisi DILo Hackathon Balikpapan pada Agustus silam. Selain berhasil menambah jam terbang tampil, Tyas juga merasakan betul manfaat menjadi pengguna Soundfren khususnya menjadi Premium User Soundfren. Teman-temannya melihat ada iklan promosi Tyas di media sosial Instagram. 

Menurut Tyas, Soundfren sangat membantu musisi indie maupun yang sudah memiliki nama. Ia sangat menyukai bentuk promosi yang dilakukan oleh Soundfren.

Beli Tiket Soundfren Meet Up Vol.3 Sekarang!

Collab Asia Music bekerja sama dengan Soundfren akan membahas lebih dalam mengenai bagaimana memaksimalkan platform YouTube khususnya untuk para musisi bersama pewakilan dari label musik independen asal Jakarta, Kolibri Rekords dan juga media alternatif pertama di Indonesia, Deathrockstar.

Acara bertajuk Soundfren Meet Up Vol. 3 ini akan mengangkat topik diskusi berupa “Memaksimalkan Youtube untuk Musisi”. Di era digital ini, nampak tren yang ada industri kreatif dan musik terutama di Indonesia semakin dinamis, yaitu dengan memanfaatkan berbagai platform digital yang ada, terlebih lagi YouTube yang terbilang ampuh untuk para musisi, entah sebagai musisi independen, pendatang baru ataupun yang sudah eksis sejak lama. ​Sayangnya, masih belum banyak orang yang dapat memaksimalkan YouTube dengan baik, karena kebanyakan musisi memanfaatkannya hanya sebagai medium-katalog untuk konten musik video mereka saja.

Soundfren Meet Up Vol.3 akan digelar di Astori Coffee Jakarta pada Sabtu, 16 November 2019 mulai pukul 19.00 WIB. Acara ini akan diramaikan oleh penampilan dari musisi lokal. Soundfren Meet Up Vol. 3 juga akan mengadakan beberapa sesi diskusi dengan pembicara:

  • Komang Adhyatma (Collab Asia Music) dan Christophe B. Renato (Collab Asia Music) membahas “Memaksimalkan promosi melalui YouTube dan memberikan perlindungan hak cipta pada karya-karya digital”.
  • Daffa Andika (Kolibri Rekords/Music Label) membahas “Promosi melalui label musik dan penerapannya di berbagai platform digital”.
  • Eric Wirjanata (Deathrockstar/Media) akan berdiskusi dengan berbagi pengalaman bergelut di media musik digital sejak tahun 2002 hingga sekarang.
  • Moderator: Hazbi Faizasyah (Sunyata Session).

Tiket Soundfren Meet Up Vol.3 bisa didapatkan dengan melakukan pembelian lewat aplikasi Soundfren atau pembelian saat acara. Bagi kamu yang melakukan pembelian lewat aplikasi ada harga spesial. Kamu cukup membayar Rp. 50.000 per tiket. Sementara jika kamu melakukan pembelian saat acara, harga per tiketnya sebesar Rp. 70.000.

Cara melakukan pembelian tiket lewat aplikasi Soundfren:

  • Download aplikasi Soundfren di Play Store atau App Store.
  • Register untuk yang belum punya ID Soundfren atau langsung login bagi kamu pengguna aktif.
  • Buka menu Explore, kemudian cari event Soundfren Meet Up Vol.3.
  • Pilih berapa banyak tiket yang ingin kamu beli dan silahkan lakukan pembayaran.

Segera beli tiket lewat aplikasi Soundfren karena persediaan terbatas. Sampai jumpa di Soundfren Meet Up Vol.3!

#BikinJalanLo Versi Mose


“Disamping mempertemukan saya dengan producer/musisi baru untuk berkolaborasi, Soundfren jugalah yang membawa saya tampil bersama dengan Kotak. Keep on going Soundfren! We trust in you! “ – Mose

Awal bulan Oktober 2019 merupakan waktu yang akan dikenang oleh musisi indie asal Jakarta, Mose. Bagaimana tidak, ditanggal 3 Oktober 2019 ia bisa tampil live di panggung Langit Musik dan bisa berada dipanggung yang sama dengan salah satu musisi favoritnya, Kotak. Bagi Mose ini merupakan pencapaian tersendiri dan sebuah langkah besar yang ia tempuh untuk menggapai impian bermusiknya.

Pria asal Jakarta ini mulai menggeluti dunia musik sejak usianya 15 tahun. Saat itu Mose yang  duduk dibangku kelas 1 SMA perlahan mulai menemukan bakat menulis lagu yang ada pada dirinya. Ditambah dengan kemampuan olah vokal yang dimilikinya, Mose mantap untuk menjadi penyanyi sekaligus pencipta lagu.

Musisi yang terinspirasi dari Melly Goeslaw dan Agnes Monica ini mengaku bahwa karir bermusiknya semakin terbantu dengan perkembangan teknologi yang begitu dinamis. Cukup dengan sekali klik, Mose menjadi lebih mudah untuk mempublikasikan karya musiknya. Lagu-lagu miliknya seperti single Heartbreaking Expert bisa dinikmati pendengar secara streaming. Selain itu, Mose juga tak ragu untuk memanfaatkan peluang yang ada pada aplikasi jejaring sosial Soundfren.

Awal mula Mose bergabung menjadi pengguna Soundfren karena ia sangat membutuhkan tempat untuk menyalurkan bakatnya di dunia musik. Kedua, dirinya juga membutuhkan teman berkolaborasi untuk menciptakan karya baru. Ketiga, Mose menginginkan sebuah wadah untuk mempromosikan dirinya sebagai musisi. Mose menilai, Soundfren bisa memenuhi ketiga kebutuhan tersebut.

Sejauh ini, bagi Mose, Soundfren turut membantu membukakan langkah besar untuk semakin dekat dengan impiannya. Disamping dapat mempertemukannya dengan produser dan musisi baru untuk berkolaborasi, Soundfren jugalah yang membawa Mose tampil diacara Live Streaming Langit Musik, sebuah acara streaming musik yang dapat disaksikan melalui tiga channel secara live di Maxstream, aplikasi & YouTube Langit Musik.

Musisi yang mengusung genre EDM ini berharap Soundfren tetap dapat memberikan yang terbaik terhadap musisi-musisi baru tanah air dan terus mengembangkan fitur-fitur yang sudah ada. Kedepannya, Mose menginginkan Soundfren dapat memberikan peluang musisi-musisi baru untuk berkolaborasi dengan para musisi ternama tanah air.

#BikinJalanLo Versi The Others

“Dengan adanya Soundfren banyak musisi indie seperti kami dapat terbantu untuk lebih dikenal penikmat musik di luar sana” – The Others

Berawal dari pertemanan di lingkungan yang sama akhirnya terbentuklah grup musik bernamakan The Others. Sebagai founder, gitaris sekaligus penulis lagu, Dewan bertemu dengan Harry yang suka menyanyikan lagu-lagu ciptaan Dewan. Seiring berjalannya waktu, The Others menambah personil yang berlandaskan pertemanan dan semangat bermusik yang sejalan.

Pencapaian 1000 views video musik dalam waktu 2 minggu merupakan sebuah pencapaian yang akan terus diingat oleh grup musik yang mengidolakan D’loid, Pambers, Dewa, dan Broeri Marantika ini. Sekilas pencapaian ini terdengar biasa saja dikalangan musisi namun tidak bagi The Others, terlebih saat itu musik mereka belum terlalu dikenal.

Bagi pemilik single “Shadow of Me”, musisi zaman sekarang harus terus beradaptasi dan mengikuti perkembangan diera digital ini. Salah satu hal yang dilakukan oleh Dewan dkk untuk mengikuti perkembangan sekaligus menambah wawasan tentang musik adalah dengan bergabung di Soundfren. Selain itu, bergabungnya The Others di Soundfren juga untuk menjadi bagian dari perkembangan kemajuan dan warna warni musik tanah air.

Bagi The Others, Soundfren telah memberikan pengaruh positif dalam kemajuan langkah bermusik seperti dapat menjadi salah satu musisi terpilih diacara Kurasi Musik Vol. 2 bulan September silam. Banyak musisi indie yang akhirnya karyanya bisa didengar oleh para penikmat musik. Grup band ini berharap agar Soundfren dapat terus berkembang dan melakukan langkah-langkah positif untuk mewarnai industri musik Indonesia.

#BikinJalanLo Versi Dimas Jimbo

“Tampil di acara Kurasi Musik Vol.2 bisa menambah pengalaman main di acara yang non-Hip Hop” – Dimas Jimbo.

Sama seperti kebanyakan orang, Dimas Jimbo adalah seorang pendegar musik beragam genre. Langkah Dimas di dunia musik tak berhenti hanya menjadi pendengar saja, ia berani mengambil langkah lebih jauh dengan mencoba menulis lirik lagu rap. Setelah selesai menulis satu lagu, ia mulai sering membuat karya baru. Tercatat ada tujuh buah lagu yang ia simpan diprofil aplikasi Soundfren miliknya. Musisi yang terinspirasi dari Joe Million ini bahkan telah memiliki 2 buah album Hip Hop.

Dimas yang mulai aktif berkarya di industri musik sejak awal tahun 2018 mengakui perkembangan teknologi yang signifikan semakin mempermudah proses distribusi karya musik. Hadirnya distribusi musik secara digital semakin memudahkan musisi asal Bekasi ini untuk mempromosikan karyanya.

Sebagai musisi yang sedang mengembangkan karirnya, Dimas tak ragu untuk bergabung menjadi pengguna Soundfren agar koneksinya dengan para profesional musik semakin luas. Ia berharap agar bisa membangun koneksi dengan teman-teman musisi dari berbagai genre.

Dimas merasakan langkah positif setelah bergabung di Soundfren dan mengikuti submisi Kurasi Musik Vol.2. Sang rapper berhasil menjadi salah satu musisi terpilih yang tampil langsung di acara Kurasi Musik pada bulan September lalu. Ini membuat pengalaman manggungnya bertambah khususnya di acara non hip hop.

Dimas berharap langkah Soundfren terus berjalan dengan mengembangkan fitur-fitur yang ada dan semakin memudahkan para penggunanya.

Kupas Tuntas Karya Musisi Terpilih Soundfren di Archipelago Festival 2019

Archipelago Festival 2019 telah berlangsung pekan lalu di Aksara Complex Jakarta. Acara yang digelar dua hari berturut-turut yakni tanggal 12 dan 13 Oktober ini menampilkan banyak pertunjukkan langsung dari musisi tanah air dan juga diskusi panel dengan menghadirkan pembicara yang telah berpengalaman dibidang musik seperti Ariel Noah hingga Sarah Sechan.

Salah satu panel diskusi di Archipelago Festival 2019 adalah Listening Session. Sesi ini merupakan program acara bagi musisi solo, duo, band atapun format lainnya untuk unjuk karya mereka. Bagi musisi yang terpilih, lagunya akan didengar oleh para pakar industri serta pengunjung Arhipelago Festival 2019. Sesi yang digagas oleh Soundfren dan BinArt Collective ini menghadirkan panelis Mahavira Wisnu Wardhana (ex-A&R Sony Music Entertainment Indonesia) dan Marco Steffiano (produser dan drummer Barasuara) untuk mendengarkan sejumlah lagu baru dari bakat-bakat muda Indonesia. Sesi yang berlangsung di Kinosaurus pada 13 Oktober 2019 ini dimoderatori oleh Felix Dass dari Future Folk Publishing.

Listening session memutar lagu dari 5 musisi terpilih yang berhasil lolos seleksi dari proses submisi yang dibuka melalui Soundfren dari 30 September sampai dengan 6 Oktober 2019. Dari 135 karya yang masuk, Soundfren dan BinArt memilih 5 karya terbaik yang,  masing-masing karya akan dikupas melalui lensa profesional industri musik.⁣

Lima musisi terpilih tersebut antara lain dansaya dengan lagunya yang berjudul Joker, Fletch lewat “Tiga Pagi”, Karina Christy lewat “Foolish Love”, Compadres lewat “Sasmaya”, dan Orkes Kedai Sarinah lewat “Aplikasi Jodoh”. Kelima karya ini dikupas tuntas oleh kedua orang panelis yang telah memiliki pengalaman diindustri musik. Kalau mau lirik bahasa Inggris, pastikan grammarnya sudah oke jangan takut untuk tanya-tanya tentang penulisan”, ujar Marco saat mengomentari karya milik dansaya. Dilagu milik Karina Christy, Inu menganggap bahwa saat merilis lagu harus menggunakan waktu yang tepat, “Jangan dahulukan ego pokoknya harus liris sekarang, tapi juga lihat kompetitor sekitar apakah mereka akan rilis lagu juga bareng dengan kita?”, tutur Inu. Bagi personel grup musik Numata ini waktu rilis samgat penting karena dapat mempengaruhi jumlah pendengar.

Seusai acara Listening Session, Marco mengungkapkan keseruannya akan sesi ini “Jadi bisa saling sharing sama mereka dari sudut pandang produksi, A&R juga. Acara ini harus ada terus karena menarik banget”, ujar produser dan drummer Barasuara ini. Sementara itu bagi musisi terpilih juga merasakan manfaat luar biasa dari Listening Session ini. “Kami mendapatkan banyak banget masukan dari yang tadinya gak tahu jadi paham. Terimakasih banget kami sudah diundang untuk menjadi yang diundang karyanya!”, ungkap salah satu personel Orkes Kedai Sarinah.

Senada dengan Orkes Kedai Sarinah, Karina Christy dan grup musik Compadres juga turut merasakan hal yang sama. “Lagu gue dikomentarin dan insightnya juga bagus banget”, ucap pemilik single Foolish Love ini. Compadres merasakan sesi ini membuat mereka memiliki banyak masukan dan referensi dari orang-orang yang berkompeten diindustri musik dan hiburan. “Kita jadi banyak dapet input, thanks banget untuk Soundfren. Keren banget acara ini” tutur Adi salah satu personel Compadres.

Melihat tingginya antusias Soundfren tentunya berharap agar bisa kembali berpartisipasi dalam acara-acara seperti ini atau bahkan membuat acara seperti ini dalam waktu dekat. Keterlibatan Soudfren dalam Archipelago Festival 2019 merupakan wujud nyata Soundfren untuk mewadahi para profesional bidang musik untuk terus berkarya dan memberi warna pada musik tanah air.

Soundfren Ramaikan Archipelago Festival 2019

Archipelago Festival 2019 baru saja berlangsung di Aksara Complex Jakarta pada 12-13 Oktober lalu. Archipelago Festival adalah ajang konferensi musik yang mewadahi akselerasi networking musik lokal sekaligus memperkenalkan musik baru. Selama dua tahun terakhir, Archipelago Festival berhasil menggelar lebih dari 50 topik panel diskusi dan mendatangkan berbagai nama besar diindustri hiburan Indonesia. Ditahun ketiga penyelenggaraan, Archipelago Festival menampilkan Sarah Sechan, Eros Djarot, Christine Hakim dan Ariel NOAH sebagai pembicara utama. Untuk showcase, Archipelago bermitra dengan empat showcase partners, lebih dari 20 band.

Tahun ini, Soundfren turut meramaikan gelaran Archipelago Festival 2019. Soundfren membuka booth selama dua hari dan membuka sesi interaksi dengan para pengunjung. Para pengunjung yang datang ke booth Soundfren selain bisa mengetahui lebih detail tentang aplikasi para profesional musik ini juga bisa menuliskan keinginan dan harapannya untuk karir diindustri musik yang tidak menutup kemungkinan bisa terwujud dengan diwadahi oleh Soundfren.

Selain aktif di booth, Soundfren juga turut terlibat dalam penjualan tiket. Satu minggu sebelum acara berlangsung, aplikasi Soundfren membuka sesi penjualan tiket khusus untuk penggunanya. Bagi pengguna Soundfren yang melakukan pembelian tiket Archipelago Festival 2019 mendapatkan harga spesial dengan diskon sebesar 20%. Semua tiket yang dijual melalui Soundfren habis tanpa sisa.

Keterlibatan Soundfren tak hanya mengenai booth dan penjualan tiket. Pada gelaran Archipelago Festival 2019, Soundfren turut berpartisipasi bekerjasama dengan BinArt Collective menyelenggarakan Listening Session dan Speed Dating Session yang diadakan tanggal 13 Oktober 2018. Listening Session sebagai program acara bagi musisi solo, duo, band atapun format lainnya untuk unjuk karya mereka. Bagi musisi yang terpilih, lagunya akan didengar oleh para pakar industri serta pengunjung Arhipelago Festival 2019.

Selama seminggu proses submisi terdapat 135 musisi yang mendaftarkan karyanya dan 5 musisi terpilih yang lagunya berhasil diputar disesi Listening Session Archipelago Festival 2019 dan diberikan komentar oleh Mahavira Wisnu Wardhana atau yang lebih dikenal dengan nama Inu Numata (Ex A&R Sony Music Entertainment Indonesia 2014-2019) dan Marco Steffiano (Produser dan Drummer Barasuara). Kelima musisi terpilih tersebut adalah dansaya, Fletch, Karina Christy, Compadres, dan Orkes Kedai Sarinah.

Sementara itu untuk Speed Dating Session, semua peserta bisa berinteraksi dan berjejaring dengan 12 penggiat dan praktisi industri, dari mulai punggawa label lokal, jurnalis hingga promotor konser seperti Sarah Deshita, Felix Dass, Kukuh Rizal, dan Dimas Ario. Peserta yang ingin mengikuti sesi ini harus melakukan registrasi di booth Soundfren saat hari kedua Archipelago Festival 2019.

Keterlibatan Soundfren diacara Archipelago Festival 2019 merupakan salah satu wujud nyata Soundfren untuk menghubungkan pelaku utama industri musik sehingga industri musik di Indonesia terus melaju ke arah yang lebih baik.

#BikinJalanLo Versi Kania Albaga

“Berkat Soundfren aku bisa tampil di Live Streaming LangitMusik!”
“Mimpiku untuk menyanyikan lagu ciptaan sendiri di acara on-air terwujud!” – Kania Albaga

Lahir dikeluarga penyuka musik, sedari kecil Kania Albaga sudah mahir memainkan alat musik gitar dan juga bermusikalisasi puisi. Kania kecil bermimpi ingin memiliki lagu ciptaan sendiri.

Kegemarannya akan bermusik membuat Kania berhasil meraih beberapa prestasi bergengsi semasa sekolah seperti Juara 3 Musikaliasi se-Jabodetabek, Juara 1 Band se-Jabodetabek, dan Juara 1 Arransemen Lagu di tempatnya bersekolah. Bahkan musisi yang terinspirasi dari Us The Duo, John Mayer, Monita Tahalea, dan Shawn Mendes ini mengaku pernah mencoba mengamen dari rumah ke rumah untuk mendapatkan uang saku tambahan.

Kehadiran media sosial seperti YouTube dan Instagram sangat dimanfaatkan oleh Kania untuk mengembangkan diri sekaligus mempromosikan karya musiknya. Tak ketinggalan, Kania pun turut menggunakan aplikasi jejaring sosial Soundfren untuk kemajuan karir bermusiknya.

Bahkan bagi penyanyi dan penulis lagu beraliran pop dan indie folk ini, Soundfren telah memiliki lebih dari itu. Ia menganggap Soundfren merupakan peluang besar untuk musisi indie seperti dirinya dan teman-teman musisi lain.

Soundfren telah memberikan pengaruh besar untuk karir musik musisi asal Jakarta ini, salah satunya adalah ia pernah menjadi pengisi acara Live Streaming LangitMusik x Soundfren dan disaksikan oleh banyak orang. Ia menyanyikan lagu-lagu ciptaannya sendiri yang menjadi impiannya sejak kecil – “Yang Terlupakan”.

Kedepannya Kania berharap Soundfren bisa semakin sering membuat acara off air agar musisi indie seperti dirinya dan teman-teman musisi lain tak lagi kebingungan untuk menyalurkan kreativitas bermusik mereka. Dengan menjadi pengguna Soundfren ia juga berharap bisa mendapatkan kesempatan bertemu hingga berkolaborasi dengan musisi besar Indonesia dan label rekaman.

Beli Tiket Archipelago Festival di Soundfren dan Dapatkan Harga Spesial

Selama dua tahun terakhir, Archipelago Festival berhasil menggelar lebih dari 50 topik panel diskusi dan mendatangkan berbagai nama besar sebagai pembicara – mulai dari legenda Dangdut Rhoma Irama, bos label UK Simon Raymonde, virtuoso Pop Guruh Sukarno Putra hingga sosok visioner almarhum Yockie Suryo Prayogo. Dari sisi penampilan musik, AF menjembatani audiens musik Indonesia dengan puluhan aksi grup musik dari Inggris, Asia Tenggara juga grup-grup /emerging/Nusantara.

Salah satu DNA kental dari perhelatan ini adalah strategi kolaborasi dan kemitraan. Sejak awal, Archipelago Festival mencanangkan program kemitraan yang berintegritas – baik itu dengan lembaga non-profit internasional seperti British Council, festival musik Synchronize Festival, kolektif kreatif Satu Collective hingga solois lokal seperti Tulus.

Tahun ini Archipelago Festival fokus di tiga topik besar: Media, Monetisasi dan Networking. Pada tahun ketiganya, kami menampilkan Sarah Sechan, Eros Djarot, Christine Hakim dan Ariel NOAH sebagai pembicara utama. Untuk showcase, Archipelago bermitra dengan empat showcase partners, lebih dari 20 band.

Pastikan kamu tidak melewatkan gelaran Archipelago Festival yang diadakan di Kinosaurus, Aksara Complex Jakarta, 12 & 13 Oktober 2019. Kamu bisa membeli tiket untuk Conference Session lewat aplikasi Soundfren. Dapatkan diskon 20% untuk setiap pembelian tiket melalui aplikasi.

Cara melakukan pembelian tiket lewat aplikasi Soundfren:

  • Download aplikasi Soundfren di Play Store dan App Store.
  • Register untuk yang belum punya ID Soundfren atau langsung login bagi kamu pengguna aktif.
  • Buka menu Explore, kemudian cari event Archipelago Festival.
  • Pilih berapa banyak tiket yang ingin kamu beli dan silahkan lakukan pembayaran.

Harga Tiket: Rp. 150.000/tiket.

Harga Spesial Pengguna Soundfren: Rp. 120.000/tiket.

*Tiket berlaku untuk Conference Session (Day 2), untuk Showcase Session (Day 1) kamu bisa menikmati rangkaian acara dengan tanpa dipungut biaya.

Segera beli tiket lewat aplikasi Soundfren karena persediaan terbatas Fren!